Jayapura, Jubi – Octovianus Mote salah seorang pejuang Papua Barat yang kini tinggal di New York, Amerika Serikat, mengaku sangat kehilangan sahabat lamanya sejak belajar di SMA Gabungan Dok V Atas Kota Jayapura, Andi Denny Manobi, yang berpulang pada Sabtu (2/11/2024) pagi, di RSUD Dok II Kota Jayapura, Papua.
“Saya ingat kata-katanya saat saya mengajak dia naik ke lantai 108 Empire State Building di Pulau Manhattan, Amerika Serikat. Sobat, perjuangan yang bikin kita bisa di negeri ini. Selamat jalan sobat. Jasamu akan tertulis dalam lembaran sejarah bangsa kita [Papua],” tulis Octovianus Mote dalam pesan singkat kepada Jubi, Minggu (3/11/2024).
Mote menambahkan ketika ia menjadi wartawan Kompas, Andi Manobi merupakan salah satu narasumber yang selalu diwawancarainya di Jakarta. “Dan sobat Andi Manobi sangat menguasai seluk beluk Kota Jakarta yang hendak dipindahkan ke IKN itu,” kata Mote.
Ia menjelaskan saat delegasi bangsa Papua berjumlah 100 bertemu di Istana Negara di Jakarta pada 26 Februari 1999, untuk memenuhi undangan Presiden BJ Habibie, Andi Manobi memainkan peranan kunci.
“Sebagai fasilitator dialog saat itu, saya meminta sobat Andi yang menjaga seluruh keamanan tim besar itu di Hotel NAM Jakarta yang disediakan Sekretariat Negara. Dan dia juga yang berhasil membawa masuk pernyataan yang dibacakan Tom Beanal sebagai Ketua Tim 100 itu ke dalam Istana. Saya tidak tahu bagaimana caranya, karena semua diperiksa sangat ketat, mencari dokumen tersebut,” katanya.
Ia menambahkan bahwa ibu Andi Manobi, mendiang Mama Dolfina Antaribaba Manobi, adalah mantan anggota DPRGR Irian Barat yang berhasil menyerahkan aspirasi rakyat Papua Barat kepada utusan khusus PBB sewaktu Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), kepada Dr Ferdinand Ortiz Sanz di Hotel Numbay, Kota Jayapura waktu itu, di tengah-tengah pengawalan aparat yang ketat.
“Bukan itu saja, ketika Sekretariat Negara dan Menhankam waktu itu Jenderal TNI (Purn) Wiranto hendak memasukkan 40 orang Papua binaan, sobat Andi nekat maju ke podium merampas mikrofon dari MC dan teriak ‘Mau tampilkan orang Papua yang bukan anggota tim 100 atau saya bikin kacau dalam ruang ini’. Presiden BJ Habibie yang duduk di depan setengah berteriak ‘Hentikan semua rekayasa’. Sobat Andi senantiasa gagah perkasa pasang badan,” kenang Mote, yang juga salah satu anggota tim 100 dan fasilitator yang menghadap Presiden RI ke-3 Prof Dr BJ Habibie kala itu.
Hal senada juga dituturkan Aloysius Renwarin, pengacara dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) di Tanah Papua, yang mengatakan ia punya pengalaman bersama mendiang Andi Manobi ketika Pertemuan Asia Pacific Human Rights di Jakarta 1998, dan ketika itu Presiden BJ Habibie membuka pertemuan di Jakarta.
“Kala itu Andi Manobi membawa ratusan warga Papua yang ada di Jakarta, membawa pernyataan bahwa di tanah Papua telah terjadi pelanggaran HAM. Ini salah satu karya mulia abang Andi menyuarakan keadilan, perdamaian dan penegakan hukum di Bumi Cenderawasih,” kata Aloysius Renwarin seraya menambahkan banyak anak-anak Papua di Jakarta yang dibantu dan dicarikan pekerjaan olehnya.
Aloysius Renwarin dan Octovianus Mote serta beberapa rekan alumni SMA Gabungan Kota Jayapura, dan segenap handai tolan di Tanah Papua juga mengucapkan turut berduka cita yang mendalam atas kepergian Andi.
“Selamat jalan Meno. Amole Meno,” ujar Aloysius Renwarin dalam bahasa Suku Amungme di Bumi Amungsa. (*)




Discussion about this post