Sentani, Jubi – Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Gereja Kristen Injili (STFT-GKI) Izaak Samuel Kijne, Pdt. Sientje Latuputty, S.Th., M.Th., D.Th., menekankan pentingnya pembentukan karakter dan moral mahasiswa dalam pendidikan. Menurutnya, keseimbangan antara karakter moral dan kemampuan intelektual menjadi prioritas utama di era modern ini.
“Karakter adalah yang utama, sementara kemampuan intelektual di tempat kedua. Orang yang pintar tanpa rasa takut kepada Tuhan bisa menjadi perusak karena kecerdasannya. Oleh karena itu, pembentukan karakter dan takut akan Tuhan sangat penting,” ujar Pdt. Sientje Latuputty seusai wisuda STFT-GKI di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (21/10/2024).
Pdt. Sientje Latuputty menyatakan bahwa mahasiswa di STFT-GKI dididik untuk memiliki disiplin dan kepatuhan, serta diarahkan untuk memiliki karakter dan moral yang baik. Jika tidak memenuhi standar ini, mereka bisa diskors atau dipecat.
“Mereka patuh. Jika ada yang melawan, mereka akan mendapat sanksi, bahkan bisa dipecat. Di kampus, kami fokus pada pembentukan karakter agar mereka lulus sebagai teladan dalam kehidupan dan pelayanan,” tegasnya.
Selain itu, ia sering mengingatkan para mahasiswa untuk menciptakan lapangan kerja sendiri setelah lulus.
“Tidak semua harus menjadi pendeta. Jika belum ada kesempatan menjadi pendeta, manfaatkan keahlian lain. Misalnya, jika bisa membuat kue, ajarkan kepada ibu-ibu di lingkungan sekitar dan bentuk kelompok usaha. Dengan cara ini, mereka bisa membantu masyarakat sekaligus mengembangkan diri,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, “Kalau ingin beternak ayam atau membuka bengkel, silakan. Jangan jadi pengangguran intelektual. Setelah lulus, gunakan ilmu yang dimiliki untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.”
Sementara, Wakil Ketua I Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Hizkia Rollo, S.Th., MM, menambahkan tidak semua lulusan akan menjadi pendeta. Ada yang mungkin akan mengembangkan ekonomi, menjadi pegawai negeri, TNI/Polri, atau guru.
“Yang terpenting adalah mempersiapkan generasi muda yang memiliki iman, ilmu, dan pengabdian yang tinggi. Dengan bekal ilmu tersebut, mereka bisa menjadi berkat bagi umat di mana pun mereka bekerja,” kata Pdt. Hizkia Rollo.
Ia berharap para alumni STFT-GKI akan menjadi pionir pembangunan di daerah pedalaman, terutama dalam bidang ekonomi, perikanan, dan peternakan. Oleh karena itu, pihaknya bermitra dengan pemerintah provinsi serta kabupaten/kota di Papua.
“Dengan demikian, kami yakin bahwa para pemimpin daerah di masa depan akan melibatkan para pendeta sebagai mitra kerja untuk mewujudkan Papua sebagai tanah damai,” pungkasnya. (*)




Discussion about this post