Jayapura, Jubi – Betapa pentingnya hutan bakau atau mangrove sehingga setiap 26 Juli dirayakan sebagai Hari Internasional untuk untuk Konservasi Ekosistem Mangrove. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya ekosistem mangrove sebagai “ekosistem yang unik, khusus, dan rentan” dan untuk mempromosikan solusi bagi pengelolaan, konservasi, dan pelestariannya yang berkelanjutan.
Demikian pernyataan Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli 2023 lalu yang dikutip jubi.id dari laman https://www.unep.org pada Senin (7/8/2023).
Hari internasional ini diadopsi oleh Konferensi Umum Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada tahun 2015.
Oleh karena melihat betapa pentingnya peran hutan bakau atau mangrove, maka Pemerintah Kota Surabaya mulai berinisiatif membangun kebun raya pertama di Indonesia. Ini berarti Pemerintah Kota Surabaya mulai menyadari betapa pentingnya peran dan manfaat langsung dari hutan bakau, memberikan pelajaran penting bagi warga terutama generasi muda tentang pentingnya perannya bagi kehidupan manusia.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************

Hal ini berbeda dengan hutan alami yang tumbuh sendiri di Teluk Youtefa, Kota Jayapura, Papua. Betapa pentingnya peran hutan ini sehingga warga Tobati dan Injros menyebutnya hutan perempuan. Padahal sejak dulu hutan perempuan dibangun melalui tradisi tonowiyat yang artinya mengunjungi hutan bakau. Sedangkan tonot berarti hutan bakau dan wiyat artinya mengajak.
Tradisi mencari kerang sejak turun temurun, ternyata tak bisa bertahan lama. Mama-mama pencari kerang semakin tua sedangkan anak-anak perempuan sudah tidak tertarik lagi dengan hutan perempuan. Atau mungkin juga berkurang karena hutan bakau di Teluk Youtefa semakin hari terus ditimbun guna pengembangan Kota Jayapura dan adanya Jembatan Merah melintasi Tanjung Ciberi.
Faktanya, menjelang peringatan Hari Mangrove Sedunia, pada 11 Juli 2023, perempuan adat Kampung Tobati dan Injros di Teluk Youtefa harus berjuang dan memrotes agar penimbunan hutan mangrove seluas hampir satu lapangan sepak bola dihentikan serta menindak tegas serta memroses hukum bagi pelakunya.
Petronela Merauje, pemenang Kalpataru 2023, mendesak aparat kepolisian segera menangkap dan memroses hukum pelaku yang mengaku memegang sertifikat tanah di atas hutan mangrove yang dilindungi negara.
Para perempuan adat bersama Tim Gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua (BBKSDA) Papua, Polda Papua, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Papua, Dinas Lingkungan Hidup Kota Jayapura, Sekretaris Daerah Kota Jayapura, mengamankan lokasi penimbunan pada 11 Juli lalu.
Lahan seluas hampir satu lapangan sepak bola telah ditebang dan ditimbun, apakah cukup dengan menangkap pelaku? Di sini penting pihak BKSDA maupun Dinas Kehutanan dan perguruan tinggi memberikan pendidikan tentang bagaimana peran hutan mangrove bagi kehidupan.
Ibarat tak mengenal fungsi hutan bakau, awalnya para pelaku menebang pohon-pohon tempat pemijahan ikan, kepiting, udang, dan kerang. Kemudian mereka menimbunnya dengan karang baru dan material lainnya. Sisa-sisa kayu bakau yang telah ditebang terletak di lokasi penebangan.

Hutan Bakau di Tanah Papua terluas di Indonesia
Jika menelisik jauh tentang hutan bakau di Indonesia, sebenarnya hutan bakau di Tanah Papua jauh lebih luas ketimbang wilayah lain di Indonesia. Tapi apa artinya kalau hutan bakau di depan mata para pejabat di Kota Jayapura dan Provinsi Papua di Teluk Youtefa harus kehilangan luasan hutan alam akibat ditimbun oleh para pemilik modal.
Menurut data Badan Pusat Statistik, luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 3,63 juta hektare (ha) atau 20,37% dari total luas dunia. Berdasarkan pulau, Papua memiliki ekosistem mangrove terluas di Indonesia dengan luas 1,63 juta ha. Sumatra berada di peringkat kedua dengan luas 892.835 ha. Lalu, Kalimantan berada di peringkat ketiga dengan luas ekosistem 630.913 ha.
Terlepas dari kebanggaan semua orang, bahwa hutan bakau Papua terluas, sebenarnya menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, seberapa jauh adanya jaminan untuk melestarikan hutan bakau tersebut.
Hutan mangrove di Teluk Youtefa yang tadinya sebagai tempat pemijahan ikan akhirnya rusak. Bayangkan, dua laguna di tengah Teluk Youtefa rusak. Ikan-ikan kecil sudah berkurang dan ikan bulanak tercemar logam berat. Nelayan mengeluh stok ikan berkurang dan mencari ikan sampai melewati batas negara ke Papua Nugini. Para nelayan di Merauke ditangkap karena mencari ikan kakap putih ke negara tetangga. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















