Nabire, Jubi – Departemen Pemuda Baptis West Papua menyoroti situasi pendidikan yang memprihatinkan di Distrik Dimba, Kilulome, Muara dan Nikoge Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan. Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) di empat distrik tersebut tidak berjalan. Akibatnya anak-anak usia sekolah tidak memperoleh pendidikan.
“Bahkan anak-anak sudah lama tidak sekolah karena tidak ada aktivitas belajar di sekolah,” kata Ketua Departemen Pemuda Baptis West Papua, Akia Yas Wenda melalui pesan tertulis kepada Jubi di Nabire, Papua Tengah pada Senin (13/10/2025).
Kondisi tersebut terungkap dalam seminar yang diselenggarakan oleh Departemen Pemuda Baptis di Gereja Baptis Dimba pada 10–12 Oktober 2025.
“Dalam forum tersebut, para pemuda dan orang tua dari wilayah Baptis Dimba dan Yulumbur menyampaikan keluhan mereka terkait minimnya perhatian terhadap pendidikan di kampung-kampung,” katanya.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Wenda menegaskan bahwa kondisi tersebut menyebabkan generasi muda Baptis terancam kehilangan masa depan.
“Pendidikan adalah fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) untuk Kabupaten Lanny Jaya, jadi pendidikan itu tidak boleh diabaikan tapi harus diutamakan. Sekolah adalah pilar utama dalam kemajuan di semua sektor. Apapun alasannya, proses belajar mengajar harus tetap berjalan. Jika tidak ada akses pendidikan, maka anak-anak menjadi korban, dan masa depan daerah ini ikut terancam,” ujarnya.
Ia juga menyoroti visi dan misi Bupati Lanny Jaya yang mengusung pembangunan dari kampung ke kota, termasuk sektor pendidikan. Menurutnya, visi tersebut tepat, namun belum sepenuhnya terealisasi di lapangan.
“Kami mendesak Bupati Lanny Jaya untuk segera memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan meninjau langsung sekolah-sekolah di wilayah tersebut dan memastikan kehadiran tenaga pendidik secara konsisten. Karena keluhan masyarakat itu guru-guru hanya datang saat akhir semester atau ketika ujian kenaikan kelas. Ini tidak bisa dibiarkan,” katanya.

Ia mengatakan meminta Pemkab Lanny Jaya untuk segera mengambil langkah konkret demi menyelamatkan masa depan di anak-anak di pelosok Lanny Jaya. Ia juga minta tertibkan guru-guru yang makan gaji tapi tidak melaksanakan tugasnya.
“Kami minta pemda tolong perhatikan guru-guru, jadi tidak melaksanakan tugas harus berikan teguran keras,” katanya.
Menurut laporan jemaat sejumlah sekolah dasar tidak melaksanakan ujian selama tiga tahun berturut-turut. Jemaat meminta agar Pemkab Lanny Jaya dapat mengganti kepala sekolah, juga merolling guru-guru di sekolah yang terdapat di tiga distrik tersebut.
“Orang tua mengeluh begitu kalau pendidikan diabaikan, pasti kejahatan merajalela. Karena Pemerintah Lanny Jaya tolong memberikan perhatian serius dan pastikan keluhan masyarakat ini,” katanya.
Sementara itu, Ketua Wilayah Baptis Dimba, Pdt. Garis Yikwa juga turut menyampaikan keprihatinannya. Ia khawatir dengan nasib anak-anak Lanny Jaya 10-20 tahun mendatang.
“Kami sedih melihat anak-anak di kampung kami tidak belajar. Tidak ada aktivitas di sekolah, padahal mereka punya hak untuk belajar dan berkembang,” kata Pdt. Garis Yikwa.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post