Nduga, Jubi – Anggota DPR Papua Pegunungan, Mile Gwijangge menyerahkan alat kerja kepada pengungsi dari Distrik Mebarok Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan yang berada di Kampung Molepaga, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Jumat (22/08/2025).
Pengungsi Nduga di kampung ini merupakan rombongan pengungsi gelombang ke lima, sejak gelombang pertama pengungsian yang terjadi pada akhir 2018. Rombongan ini meninggalkan kampung halamannya di Kabupaten Nduga pada awal Januari 2025, dan tiba di Kampung Molepaga pada awal Juni 2025 (6 bulan). Mereka belum memiliki honai sendiri untuk mereka tinggali.
“Sesuai data, dipastikan pengungsi Nduga di dalam negara ini 5 kali terjadi. Mereka keluar dari rumah ke kampung tetangga yang dianggap aman” kata Mile yang merupakan anggota DPR Papua Pegunungan dari daerah pemilihan atau Dapil 3 Wilayah Nduga.
Mile mengatakan pengungsi dari Distrik Mebarok merupakangelombang pengungsian paling terakhir dari sekian distrik. “Mereka rombongan yang terakhir mengungsi” katanya.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Mile mengatakan ia memberikan bantuan berupa alat kerja seperti sekop, linggis, parang, untuk membantu para pengungsi untuk membuat kebun dan dapat bertahan hidup di tempat pengungsian. Ia juga membantu beberapa peralatan dapur seperti belanga, kuali dan Sembako juga seperti beras, minyak dan lainnya.
Ia menyatakan, memperingati HUT RI ke-80, warga Kabupaten Nduga masih hidup di tempat pengungsian selama bertahun-tahun, jauh dari tanah kelahirannya.
“Rakyat Nduga belum menikmati kemerdekaan di atas tanahnya sendiri. Warga 14 distrik dari 32 distrik Kabupaten Nduga sedang berapa di luar, dan belum kembali ke kampungnya,” kata Mile Gwijangge.
Menurutnya, sejak akhir 2018, berbagai program pembangunan perumahan dan pembangunan infrastruktur, pembangunan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan lainnya belum menyentuh Masyarakat Nduga yang berada di pengungsian.
“Bagaimana bisa menjamin kesejahteraan rakyat ketika rakyatnya tidak ada di rumah,” kata Mile.
Mewakili pengungsi asal Distrik Mebarok, Yante Wandikbo mengatakan lahan yang mereka tinggali itu, diberikan oleh pemilik tanah secara cuma-cuma sebagai bentuk kepedulian terhadap terhadap sesama Orang Papua.
“Pengungsi Nduga gelombang pertama sampai empat sudah ada di beberapa kabupaten tetangga. Kami Distrik Mebarok gelombang kelima ini berharap tidak lagi ada pengungsi,” kata Yante.
Ia menambahkan para pengungsi sangat berharap bantuan dan dukungan doa. Tidak untuk mereka yang berada di Kabupaten Jayawijaya, tetapi juga di beberapa wilayah Papua. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post