• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Features

Melawan lupa; Peristiwa 1977 di Bumi Amungsa,” Kami lari dengan baju di badan, dua anak saya meninggal”

November 1, 2023
in Features
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: - Editor:
Peristiwa 1977

Mama Theresia Pinimet Kemong (70 tahun) -Jubi/dam

0
SHARES
347
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi- Film dokumenter Jubi  TV berjudul “Sa Punya Nama Pengungsi” karya sutradara Yuliana Lantipo baru saja diluncurkan. Film ini menceritakan kisah pilu anak anak pengungsi, kaum perempuan, mama mama dan orang tua lanjut usia di daerah pengungsian akibat konflik TNI vs TPNPB di tanah Papua.

Bahkan ada anak yang lahir bertepatan di lokasi pengungsi sehingga ia pun diberi nama, Pengungsi. “Pengungsi sudah mandi, kenapa tidak mandi, dingin kah,”begitulah salah satu potongan dialog  dalam film berjudul, Sa Punya Nama Pengungsi.

Pada Film ini,  sutradaranya memotret peristiwa terkini di Nduga dan Maybrat saat era  Reformasi dan konflik masih terus terjadi di tanah Papua. Presiden Jokowi telah berkali-kali berkunjung ke tanah Papua. Tetapi konflik tak kunjung usai.

Peristiwa pengungsian di tanah Papua juga pernah dialami Mama Theresia Pinimet saat ditemui jurnalis jubi.id di Timika belum lama ini. Ia juga mengisahkan pengalaman trauma masa lalunya di Bumi Amungsa, 1977.

“Waktu itu kami masih tidur dan pagi-pagi rumah rumah kami diserang dan dibakar. Kami kaget dan lari dengan baju di badan,”kata Theresia Pinimet mengenang  “Peristiwa 1977.”

“Pagi itu, kami lari menelusuri sungai menuju Kampung Hoa dekat Tembagapura,” kenang mama Theria Pinimet. Dia menyelamatkan diri bersama suami dan anak anaknya.

Dia mengatakan suaminya (Paitua Cosmos Kemong, anggota polisi) punya surat-surat penting termasuk SK anggota polisi dan surat dari John Curie, wakil kontraktor Freeport dari Bechtell Pomeray. Namun dokumen itu hangus terbakar.

BERITATERKAIT

Indigenous Community Blocks Access Road to PT Freeport Indonesia Operations

Masyarakat adat blokade akses menuju PT Freeport

Freeport setor tambahan keuntungan Rp2,88 triliun ke Pemprov Papua Tengah

Kolaborasi PTFI dan PSSI perkuat fondasi sepak bola di Papua

“Akibat dari pengungsian kita tinggal dan tidak bisa berkebun, susah makanan. Bapak sakit dan anak anak jadi korban, sakit dan akhirnya dua anak saya meninggal,”katanya sedih.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Kisah pilu, mama Theresia Pinimet ini dialami pula oleh Mama Yosepa Alomang dalam buku berjudul Yosepha Alomang, Pergulatan Seorang Perempuan Papua Melawan Penindasan, mengisahkan pada 1977, menyusul adanya pemberontakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Ilaga. Ratusan warga Suku Amungme melakukan aksi damai di Akimuga dan memrotes kehadiran PT Freeport.

“Aksi damai itu dijawab dengan berondongan peluru dan bom oleh serdadu Indonesia,”demikian pengakuan Mama Yosepha Alomang.

Sehari kemudian, warga marah dan memotong pipa-pipa konsentrat  dari Tembagapura ke Port Site. Aksi itu dibalas aparat militer Indonesia menghujani masyarakat dengan peluru dan bom “Kampung Waa dan Kwamki Lama hancur total,”kata Mama Yosepha Alomang.

“Waktu itu Kwamki Lama di Timika hancur total sehingga kami kehilangan semua harta benda termasuk surat-surat penting,”kenang Mama Theresia Pinimet.

Masih terngiang di telinga Mama, bagaimana rumah mereka diserang dan dibakar subuh. Rumah hangus dan harta benda hilang, lari selamatkan anak anak melesuri jalan setapak menuju Kampung Hoa di dekat Tembagapura. Itulah peristiwa gejolak sosial pada 1977 yang melanda seluruh pegunungan tengah di Tanah Papua.

“Warga karena ketakutan melarikan diri ke hutan dan tinggal di sana untuk jangka waktu lama dan belum berani keluar dari tempat persembunyian mereka,”kata Mama Yosepha Alomang.

Persitiwa 1977, hampir terjadi di daerah seluruh Pegunungan Tengah, pengungsian pula terjadi dari warga Kwamki Lama dan Akimuga berlari menyelamatkan diri ke Ok Tedi di Papua Nugini. “Kami berjalan kaki selama tiga bulan dari Akimuga ke perbatasan Papua Nugini di Ok Tedi,”kata mendiang Demianus Katagame,  kala itu di SPII Kabupaten Mimika awal 2000.

Katagame menuturkan selama di Ok Tedi, mereka tinggal dan bertahan hidup dengan berkebun hingga akhirnya mahir berbahasa Pidgin. Barulah kondisi sudah aman dan perlahan-lahan warga kembali dan ditempatkan di lokasi yang sekarang dikenal dengan Kwamki Baru di Kota Timika.

Peristiwa 1977, sebenarnya terjadi menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) waktu itu, dalam bukunya berjudul Pergolakan di Perbatasan, Mayjen (purn) Samsudin menulis, terjadi penyerangan terhadap aparat YON Armed -10/Kostrad di Kobagma, sekarang ibukota Kabupaten Mamberamo Tengah. Aparat TNI diserang saat bertanding sepak bola di Kobagma dan selanjutnya dibalas dengan berondongan senjata.

Peristiwa 1977, terjadi hampir di seluruh tanah Papua, tetapi lebih banyak terjadi di wilayah Pegunungan Tengah. Gempuran terhadap wilayah perang bukan hanya dengan peluru dan senjata tetapi juga dengan bom dari pesawat tempur jenis Bronco.

download 6
Pesawat tempur jenis Bronco OV-10 yang pernah digunakan dalam operasi militer 1977 di Provinsi Irian Jaya waktu itu. Dua pesawat OV-10 ditempatkan di Pangkalan Manuhua di Biak- Jubi/Ist

Dalam bukunya Mayjen Samsudin menulis, pesawat Helikopter BO -105 dan dua pesawat tempur jenis OV-10 berpangkalan di Kodau Biak waktu itu. Sedangkan usulan bom Napalm tidak bisa disetujui.” Kamu kok sadis benar toh,Din” demikian dikutip dari buku Mayjen (Purn) Samsudin berjudul , “Pergolakan di Perbatasan (halaman 51).”

Menurut wikipedia.org, pesawat tempur jenis OV-10 memiliki nacelle pusat yang berisi pilot dan kargo, serta boom kembar yang berisi mesin turboprop ganda. Ciri khas visual pesawat ini adalah kombinasi boom kembar, dengan penstabil horizontal yang menghubungkannya.

Peristiwa pengungsian besar-besar pernah pula di tanah Papua terjadi pada April 1984,pasca kematian Arnold C Ap dan Eduar Mofu di Pantai Pasir VI. Waktu itu majalah Tempo edisi 9 Juni 1984 melaporkan sebanyak 7000 warga dari Irian Jaya mengungsi ke perbatasan Papua Nugini.

Mama Corrie Boekorpioper istri dari mendiang Arnold C Ap juga mengaku kalau mereka lari menyelamatkan diri ke perbatasan Papua Nugini hanya dengan baju di badan tanpa dokumen dan surat-surat penting.

Kisah Mama Theresia Pinimet Kemong, Josepha Alomang dan Corrie Bukorpioper menjadi kisah sedih hidup menyelamatkan diri dan tinggal di daerah pengungsian.Film berjudul Sa Pu Nama Pengungsi menegaskan kembali gambaran kelam, hidup dan merana di tanah kelahiran.(*)

Continue Reading
Tags: FreeportMama Theresia PinimetPengungsi PapuaPeristiw 1977Sa Punya Nama PengungsiTPNPB Vs TNI/POlri
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Members of the Tuarek Natkime Foundation and the Tua Rek Nakima

Indigenous Community Blocks Access Road to PT Freeport Indonesia Operations

June 5, 2026
Masyarakat adat

Masyarakat adat blokade akses menuju PT Freeport

June 4, 2026
Freeport

Freeport setor tambahan keuntungan Rp2,88 triliun ke Pemprov Papua Tengah

May 8, 2026

Kolaborasi PTFI dan PSSI perkuat fondasi sepak bola di Papua

April 19, 2026

We invite PT Freeport Indonesia to discuss the future of indigenous communities : Eltinus Omaleng

April 9, 2026

Eltinus Omaleng: Kami undang Freeport untuk bahas nasib masyarakat adat

April 8, 2026

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara