Jayapura, Jubi – Ucapan selamat peringatan kemerdekaan Papua Nugini (PNG) ke-51 tahun datang dari Perdana Menteri (PM) Kepulauan Solomon, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan Sekretariat Melanesia Sperahead Group (MSG) di Port Villa, Vanuatu.
Papua Nugini merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-51 tahun pada Rabu 16 September 2026, dengan perayaan dilakukan di berbagai pelosok wilayah, dengan 800 bahasa dan budaya.
Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Matthew Wale menyampaikan ucapan selamat dan harapan terbaik kepada Pemerintah dan rakyat Papua Nugini dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan ke- 51 negara tersebut.
Dalam pesan ucapan selamat kepada Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape, Perdana Menteri Wale menyampaikan, atas nama Pemerintah dan rakyat Kepulauan Solomon, ucapan selamat dan harapan terbaik yang tulus kepada Papua Nugini atas tonggak sejarah nasional yang beragam budaya dan bahasa sebagaimana dilansir Jubi dari laman www.solomonstarnews.com, Kamis (17/9/2026).
Perdana Menteri Wale menyoroti ikatan persahabatan, kekerabatan, dan solidaritas yang telah lama terjalin antara Kepulauan Solomon dan Papua Nugini.
Ia mencatat bahwa kedua negara Melanesia tersebut memiliki identitas Pasifik yang kuat dan aspirasi yang sama.
Ia mengatakan bahwa ikatan bersama ini terus memperkuat hubungan bilateral dan kerja sama dalam memajukan kepentingan kedua bangsa dan kawasan Pasifik yang lebih luas.
“Saat Anda merayakan tonggak sejarah nasional ini, saya berharap Anda terus mendapatkan kebijaksanaan dan kesuksesan dalam memimpin negara Anda dan saya berharap rakyat Papua Nugini mendapatkan kedamaian, kemakmuran, dan kemajuan,” kata Perdana Menteri Wale.
Perdana Menteri menegaskan kembali pentingnya hubungan erat antara Kepulauan Solomon dan Papua Nugini.
Ucapan selaman HUT ke 51 tahun, PNG juga disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio menyatakan atas nama Amerika Serikat, ia menyampaikan ucapan selamat kepada rakyat Papua Nugini atas perayaan 51 tahun kemerdekaan.
Kerja sama erat antara Amerika Serikat dan Papua Nugini memperkuat kemakmuran dan keamanan di Pasifik.
Dialog Kemitraan Strategis Amerika Serikat – Papua Nugini tahun ini dibangun di atas momentum positif kerja sama kedua pihak.
“Hari ini, kami bergabung dengan Anda untuk menghormati sejarah bangsa Anda yang kaya, dan kami berharap dapat semakin memperkuat hubungan AS-Papua Nugini demi kesejahteraan rakyat kita di tahun-tahun mendatang,” kata Marco Rubio.
“Saya mengucapkan selamat merayakan Hari Nasional kepada seluruh rakyat Papua Nugini dengan penuh sukacita,” begitu keterangan pers dari Kementerian Luar Negeri US dalam laman www.state.gov yang dikutip Jubi, Kamis (17/9/2026).
Ucapan juga datang dari Direktur Jenderal Melanesian Spearhead Group (MSG), Dr. Anna Naupa, selamat dan harapan terbaik kepada Pemerintah dan rakyat Papua Nugini dalam perayaan Hari Kemerdekaan ke-51.
“Hari ini, kita menghormati warisan budaya Papua Nugini yang kaya, keragaman yang luar biasa, dan pencapaian rakyatnya selama lima dekade terakhir. Sebagai anggota pendiri dan mitra berharga dari keluarga MSG, Papua Nugini terus memainkan peran penting dalam memajukan kerja sama regional,” begitu pernyataan Dirjen MSG di Port Villa, Vanuatu.
Masyarakat Papua Nugini (PNG) di Port Vila juga merayakan Hari Kemerdekaan ke-51 negara tersebut hari ini, 16 September 2026, dengan program seharian yang meliputi pertunjukan budaya, musik, dan kegiatan komunitas.
Perayaan kemerdekaan PNG ini diselenggarakan oleh Komite Relawan PNG bekerja sama dengan komunitas lokal PNG, perayaan tahun ini berpusat pada tema, “Merayakan Kemerdekaan, Persatuan, Budaya, dan Persahabatan PNG” sebagaimana dilansir dari www.dailypost.vu, Kamis (17/9/2026).
Kemerdekaan PNG pada 16 September 1975, dalam siaran radio tengah malam pada hari pertama berdirinya Papua Nugini, Sir Michael Somare, mantan guru dan penyiar radio dari East Sepik berbicara kepada negara baru tersebut.
“Saya ingin mengingatkan semua orang bahwa ini baru permulaan. Sekarang kita harus berdiri di atas kaki kita sendiri dan bekerja lebih keras dari sebelumnya. Kita memang penguasa takdir kita sendiri,” katanya.
Pada awal tahun 1970-an, gagasan tentang Papua Nugini yang bersatu tampak hampir mustahil untuk dicapai.
Dengan ratusan suku, bahasa, dan tradisi yang berbeda tersebar di beberapa wilayah paling terjal di dunia, jalan menuju kemerdekaan sama kompleksnya dengan negara itu sendiri.
“Tidak ada yang menyangka ini mungkin terjadi,” kata Sir Moi Avei, mantan wakil perdana Menteri sebagaimana dilansir Jubi dari laman www.abc.net.au
“Semua orang mengira bahwa karya ini akan hancur berkeping-keping menjadi 800 bagian yang berbeda. Tetapi kami membuktikan semua kritikus salah.”
Sudah 50 tahun sejak bendera merah, hitam, dan emas pertama kali dikibarkan. Sir Moi hadir sebagai penasihat Sir Somare, yang juga dikenal sebagai bapak pendiri PNG.
Bagi putri Sir Somare, Dulciana Somare-Brash, memahami apa yang menyatukan negara ini pada saat pendiriannya adalah kunci bagi masa depannya.
“Saya pikir penting bagi kita untuk kembali dan mempelajari sejarah secara mendalam tentang apa yang memotivasi leluhur kita,” katanya.
“Bayangkan Anda menyatukan 900 orang, bukan kelompok yang berbeda, tetapi seperti orang-orang dari planet yang berbeda, masing-masing dengan cara berkomunikasi, berjejaring, berdagang, merayakan, dan bagaimana mereka menghadapi konflik yang sangat berbeda — semua hal yang berbeda itu,” ucapnya.
Seperti apa kondisi PNG sebelum kemerdekaan?
Selama puluhan ribu tahun, PNG — sebuah wilayah yang membentang seluas 460.000 kilometer persegi yang terdiri dari medan pegunungan, hutan hujan, dan 600 pulau — merupakan rumah bagi sekitar 1.000 suku berbeda yang berbicara lebih dari 800 bahasa.
PNG pertama kali dijajah oleh Jerman, Inggris dan kemudian oleh Australia.
Setelah membentuk koalisi politik yang kuat, Sir Somare berkeliling negeri untuk mengajak rakyat bersamanya dalam perjalanan menuju pemerintahan sendiri pada tahun 1973.
“Semua orang melihat Michael karena semangat juangnya. Tetapi sisi lain dari Michael Somare adalah hatinya yang besar; dia bisa membangun jembatan dengan setiap kelompok lain,” kata Sir Moi.
Pada 16 September 1975, bendera Australia, yang telah berkibar di Papua Nugini sejak tahun 1906, diturunkan untuk terakhir kalinya di Stadion Hubert Murray, Port Moresby.
Dame Meg Taylor, mantan sekretaris pribadi Sir Somare, mengatakan ada “suasana hening di seluruh stadion”.
Bendera PNG dikibarkan dalam perayaan besar-besaran di seluruh negeri.
“Ketika Anda masih muda, Anda sangat optimis tentang masa depan. Dan Anda memiliki visi dan impian tentang apa yang Anda inginkan. Ada harapan yang luar biasa bahwa kita akan membangun negara itu bersama-sama,” kata Dame Taylor.
“Meskipun kita memiliki ekonomi modern dan sistem politik modern, yang menyatukan kita adalah rakyat dan keluarga kita, klan dan suku kita. Itu sangat penting.”
Kini pekerjaan rumah besar bagi PNG adalah menyelesaikan masalah kemerdekaan bagi Daerah Otonomi Bougainville di mana hasil referendum 2019 yang tidak mengikat diadakan di Bougainville, antara 23 November dan 7 Desember 2019 menyatakan bahwa mayoritas warga memilih kemerdekaan penuh dari PNG dengan pemilih memberikan suara mayoritas (98,31%) untuk kemerdekaan.
Para pengamat mengatakan bahwa hasil yang jelas akan menyulitkan Papua Nugini untuk mengabaikan atau menunda hasilnya, tetapi kemerdekaan bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk dicapai. Happy Independen Day, PNG. (*)




Discussion about this post