• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

Diperlukan konsolidasi bersama menghadapi tekanan oligarki di Tanah Papua

February 28, 2026
in Polhukam
Reading Time: 2 mins read
0
Penulis: Aida Ulim - Editor: Arjuna Pademme
Oligarki

Direktur Wahana Lingkungan Hidup atau WALHI Papua Maikel Peuki, di Kota Jayapura, Papua Jumat (27/02/2026) - Jubi/Aida Ulim

0
SHARES
38
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi Papua, Maikel Peuki mengatakan diperlukan konsolidasi bersama menghadapi tekanan oligarki di Tanah Papua.

Menurutnya, pentingnya konsolidasi bersama-sama juga ditekankan dalam diskusi yang digelar WALHI dengan melibatkan anggota dari berbagai wilayah di Tanah Papua di salah satu hotel di Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua pada Jumat (27/2/2026).

Sebab katanya, konsolidasi dan berjuang bersama diperlukan untuk menghadapi tekanan oligarki di Tanah Papua, mendorong peninjauan kembali investasi yang masuk ke Bumi Cenderawasih serta menghambat investasi bermasalah.

Maikel Peuki mengatakan, perjuangan melawan oligarki di Tanah Papua tidak hanya penolakan investasi, juga membangun kesadaran kolektif, dan memperkuat posisi masyarakat adat.

*****************

Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.

CLICK HERE!

*****************

“Selain itu mesti memastikan kebijakan berpihak pada martabat serta kedaulatan orang Papua di atas tanahnya sendiri,” kata usai diskusi.

Katanya, pengakuan dan perlindungan wilayah adat sangat penting. Masyarakat adat harus mampu mengelola wilayahnya secara aktif dan berkelanjutan.

Pemetaan wilayah adat versi masyarakat sendiri perlu didorong, agar batas dan hak masyarakat adat jelas. Negara hanya berperan memberikan perlindungan hukum.

Tingginya arus investasi tanpa pengaturan yang adil lanjut Peuki, juga berpotensi memicu konflik horizontal antara masyarakat adat maupun dalam ranah legislatif dan yudikatif.

“Konflik batas wilayah adat dan hak ulayat menjadi persoalan yang terus berulang. Masyarakat harus kritis bertanya, apakah investasi ini benar-benar menguntungkan mereka, atau justru pihak lain,” ucapnya.

BERITATERKAIT

Tanah Papua di antara oligarki, ilusi hijau, investasi, dan kehancuran ekologis

Ruang hidup masyarakat adat Papua dikepung oligarki

Keterbatasan akses menjadi tantangan mengangkat isu perempuan di Tanah Papua

Masyarakat adat di Tanah Papua perlu mengembangkan lumbung pangan lokal

Diskusi yang diselenggarakan Walhi itu pun disebut sebagai pengantar tematik, untuk konsolidasi gerakan lingkungan hidup dan menyoroti peran Walhi dalam melawan oligarki yang menguasai sumber daya alam di Tanah Papua, karena saat ini Tanah Papua tidak baik-baik saja.

Tanah Papua saat ini dikepung kekuatan oligarki, yang beroperasi melalui kebijakan, struktur pemerintahan, hingga praktik investasi.

Mengadapi situasi itu, strategi yang akan dilakukan Walhi ke depan adalah mendorong agar enam gubernur, DPR tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Tanah Papua mengambil kebijakan tega yang berpihak pada masyarakat lokal.

Sebab menurut Peuki, tanpa disadari para pengambil kebijakan juga berada dalam posisi yang sama, mereka menjadi korban sistem yang ada.

“Proyek besar seperti PT Freeport, LNG Tangguh di Teluk Bintuni, proyek pangan dan perkebunan di Merauke, serta sawit di Jayapura, Manokwari, dan Sorong Selatan, belum memberi manfaat signifikan bagi orang asli Papua,” ucapnya.

Ia mengatakan meski ada representasi orang asli Papua di lembaga formal, namun kenyataannya masyarakat adat Papua masih terpinggirkan.

Otonomi Khusus atau Otsus yang dianggap sebagai jalan terang, juga dikritik karena pelaksanaannya minim partisipasi masyarakat sipil, dan beberapa pasal yang berpihak pada orang Papua justru dilemahkan. Karenanya, evaluasi menyeluruh terhadap Otonomi Khusus dinilai perlu.

“Perlu diperlihatkan data nyata mengenai peningkatan sumber daya manusia, pendidikan, ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat Papua. Jika tidak ada hasil signifikan, maka wajar muncul pertanyaan tentang efektivitas Otsus bagi orang Papua,” kata Maikel Peuki. (*)

Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

Continue Reading
Tags: KonsolidasiOligarkiTanah PapuaWalhi Papua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Politik Papua

26 Februari1999, sejarah politik Papua yang terlupakan

February 27, 2026
Manokwari

Hakim PN Manokwari tolak Praperadilan Tiktoker “Mama Ella”

February 27, 2026
TPNPB

Kasdam: Klaim perampasan senjata oleh TPNPB masih diinvestigasi

February 25, 2026

TPNPB sebut melawan tentara bayaran, Kodam Cenderawasih: Itu tidak benar

February 25, 2026

LEMASA kritik Freeport dan Pemerintah soal hak adat dan pasca tambang

February 24, 2026

Bupati Intan Jaya: Pembangunan sulit terlaksana di daerah rawan konflik

February 23, 2026

Discussion about this post

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara