Sentani, Jubi –– Peningkatan mutu pendidikan merupakan langkah strategis untuk meraih masa depan yang cemerlang. Demikian disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura Ted Y Mokay saat ditanya terkait kemerdekaan di bidang pendidikan di Kabupaten Jayapura dalam momentum 79 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Bangsa Indonesia sudah 79 tahun kemerdekaannya, ini bukan waktu dan perjalanan yang singkat, diperlukan dukungan dan ‘support’ dari semua anak bangsa, semua masyarakat di negara ini. Demikian juga dengan pendidikan kita, secara khusus di Kabupaten Jayapura,” ujar Ted di Sentani, Rabu (14/8/2024).

Ia menjelaskan, seluruh program dan kurikulum pendidikan saat ini berjalan sesuai program nasional. Sementara di daerah, secara teknis mengikuti pola dan kebutuhan yang tersedia di masing-masing wilayah atau tempat di mana program pendidikan itu dilaksanakan.
Menurutnya semakin bertambah usia Indonesia, semakin banyak kendala di bidang pendidikan yang dihadapi. Ini bukan alasan untuk menutup mata dan telinga, serta tidak melakukan perubahan secara berjenjang dari satu masalah ke masalah yang lain.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Pelayanan pendidikan di daerah membutuhkan seribu satu cara agar anak-anak kita dan masyarakat bisa bebas dari buta aksara, dan ini hanya bisa dilakukan, tidak tenaga pendidik saja, melainkan juga dukungan dari semua pihak, serta secara khusus orang tua murid,” ujarnya.
Menurutnya, secara kuantitas bidang pendidikan di Kabupaten Jayapura, baik fasilitas penunjang, ruang sekolah, maupun tenaga pengajar, sudah sangat memadai. Jumlah tenaga pengajar dari data dua tahun mencapai 44.939 orang.
“Saat ini sudah jelas bertambah, karena Pemkab Jayapura telah menerima ratusan tenaga P3K khusus tenaga guru dalam satu tahun terakhir ini,” ujarnya.
Sedangkan angka partisipasi murni pada 2023 untuk SD 103,93, SMP 93,76, dan SMA 96,89. Di mana 6.113 orang adalah Guru TK/PAUD, Guru SD 21.006 orang, Guru SMP 9.138 orang, Guru SMA 6.037 orang, Guru SMK 2.645 orang.
“Sangat maksimal, hanya saja kita belum tuntaskan angka melek huruf yang mencapai 4.014 orang pada jenjang usia 15 hingga 40 tahun,” katanya.

Hal lain, lanjut Mokay, yakni dalam peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Jayapura. Sebenarnya ada banyak faktor yang dapat memengaruhi, yakni dari sisi guru atau tenaga kependidikan, serta ketersediaan sarana dan prasarana pada satuan pendidikan. Juga keamanan dan kenyamanan dalam sebuah proses belajar-mengajar.
“Kalau hanya Dana BOS yang digunakan sekolah untuk membiayai operasional, saya pikir itu tidak cukup, karena kebutuhan sebuah satuan pendidikan sangat banyak, sehingga harus di-‘backup’ atau diberikan dana tambahan yang bersumber dari anggaran daerah,” katanya.
Menurut Mokay sekolah merupakan sarana penting yang perlu mendapat sentuhan serius dari pemerintah, karena pendidikan merupakan satu-satunya sarana atau jembatan emas untuk membawa generasi muda Kabupaten Jayapura keluar dari ketertinggalan dan kemiskinan.
“Indeks keparahan kemiskinan di daerah ini pada 2022, yaitu 1,24 dan pada 2023 turun menjadi 0,57. Hal ini mengindikasikan bahwa ketimpangan penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin semakin berkurang,” ujarnya.
Belum bisa disejajarkan dengan daerah lain
Menurut Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jayapura Hariyanto Piet Soyan, 79 tahun Indonesia merdeka pada 2024 ini merupakan cerminan perjalanan panjang bagaimana dunia pendidikan di Indonesia berada pada taraf yang sudah maju.
Tentunya, kata Soyan, hal tersebut terjadi secara merata di seluruh pelosok negeri, secara khusus di Kabupaten Jayapura. Banyak harapan dan keinginan agar pendidikan yang bermanfaat dan berdampak juga terjadi kepada anak-anak didik di setiap distrik, hingga kampung-kampung.

“Realita dan kenyataan saat ini adalah pendidikan kita belum bisa disejajarkan dengan daerah lain di luar Papua,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi sekolah di kampung-kampung masih dibiarkan sunyi dan sepi tanpa tenaga pengajar, padahal peserta didiknya sudah sangat banyak, dan hal itu terjadi merata.
“Kita bicara program Merdeka Belajar, tetapi kondisi pendidikan kita seperti belum merdeka. Lalu apa yang dibanggakan dari program Merdeka Belajar kalau gurunya tidak di tempat tugas. Harapan kita ke depan, hal-hal seperti ini bisa diperhatikan dan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik,” katanya.
Andreas Swewali, guru di Kampung Doyo Baru mengatakan kesejahteraan, kemajuan, dan kokohnya sebuah bangsa didukung oleh pendidikan yang baik dan berkembang.
Hal itu, kata Andreas, tidak serta merta bisa terjadi seperti membalikkan telapak tangan. Semuanya membutuhkan kerja dan upaya yang tidak sedikit, serta tidak hanya segelintir orang saja atau hanya tenaga pendidik saja.
“Ada banyak faktor yang memengaruhi ketika sistem pendidikan itu maju, tetapi juga ketika dunia pendidikan ini tidak berada pada level yang diinginkan. Jadi tidak bisa dilihat hanya satu sisi saja,” katanya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua
















Discussion about this post