Jayapura, Jubi — Jepang dan Fiji telah menyatakan kekhawatirannya atas meningkatnya militerisasi di Asia-Pasifik, dan memperingatkan bahwa pembangunan militer yang cepat oleh beberapa negara mengancam perdamaian dan stabilitas regional.
Masalah ini disorot selama pembicaraan antara Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dan Perdana Menteri Fiji, Sitiveni Rabuka, di Tokyo kemarin, di mana kedua pemimpin menandatangani Kemitraan Jepang–Fiji Lomavata Kizuna untuk memperkuat kerja sama bilateral dan regional. Demikian dikutip Jubi.id dari laman internet Fijitimes.com.fj, Jumat (14/11/2025).
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Jepang, kedua pemimpin menegaskan kembali komitmen mereka untuk menjaga “kawasan Asia-Pasifik yang damai, stabil, dan sejahtera,” serta mencatat dengan keprihatinan “peningkatan militer yang cepat yang tidak kondusif untuk tujuan ini.”
Mereka menyerukan “keterlibatan yang proaktif, bertanggung jawab, dan transparan untuk menegakkan perdamaian dan keamanan regional,” dengan menekankan bahwa kerja sama dan dialog harus diutamakan daripada konfrontasi.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Para pemimpin juga menegaskan dukungan mereka terhadap “tatanan maritim yang bebas, terbuka, dan berkelanjutan” berdasarkan supremasi hukum dan sejalan dengan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS).
“Mereka menegaskan penolakan keras mereka terhadap segala upaya sepihak untuk mengubah status quo dengan kekerasan atau paksaan,” bunyi pernyataan tersebut — bahasa yang mencerminkan meningkatnya keresahan regional atas ketegangan geopolitik di Indo-Pasifik.
Perdana Menteri Takaichi mengatakan kemitraan Jepang–Fiji mencerminkan visi bersama untuk perdamaian dan keamanan yang didasarkan pada rasa saling menghormati dan kepatuhan terhadap hukum internasional.
Perdana Menteri Rabuka menggemakan sentimen ini, mengatakan bahwa Fiji akan terus menganjurkan dialog dan transparansi dalam urusan keamanan regional.
Kedua pemimpin juga menegaskan kembali komitmen mereka terhadap Strategi 2050 Forum Kepulauan Pasifik untuk Benua Pasifik Biru, menekankan bahwa persatuan regional tetap penting dalam menghadapi tantangan keamanan, baik tradisional maupun yang muncul.
Deklarasi bersama tersebut menempatkan Fiji bersama Jepang dan mitra lain yang berpikiran sama dalam menyerukan transparansi, pengendalian diri, dan kerja sama yang lebih besar untuk menjaga perdamaian di Pasifik. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post