Jayapura, Jubi – Di antara Australia dan Selandia Baru terbentang rangkaian gunung berapi bawah laut yang menjadi habitat berbagai spesies ikan, karang purba, dan kehidupan laut lainnya.
Bentang alam bawah laut yang dikenal sebagai Lord Howe Rise ini sebagian besar terletak di luar batas yurisdiksi negara, berada di wilayah laut lepas. Demikian dikutip Jubi dari laman insidepng.com, Jumat (13/6/2025).
Wilayah yang kaya secara ekologis ini menjadi sasaran empuk bagi praktik penangkapan ikan industri, termasuk metode longline (tali panjang) dan trawl dasar (pukat harimau), yang kembali menjadi sorotan publik setelah tayangan terbaru dokumenter alam David Attenborough.
Dalam seri Ocean, untuk pertama kalinya publik disuguhi rekaman kapal pukat yang menyeret jaring berat melintasi dasar laut dalam pencarian spesies bernilai ekonomi tinggi—namun menimbulkan kerusakan besar dan tangkapan sampingan dalam jumlah masif.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Metode pukat ini tak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga melepaskan karbon yang tersimpan di dasar laut ke atmosfer, sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Penayangan dokumenter tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Nice, Prancis, yang berakhir pada Rabu (11/6/2025). Kelompok konservasi berharap film ini dapat mendorong dukungan internasional terhadap Perjanjian Keanekaragaman Hayati Laut Lepas.
Perjanjian ini bertujuan melindungi sekitar dua pertiga lautan dunia yang berada di luar yurisdiksi negara, dan menargetkan perlindungan 30 persen wilayah laut global melalui pembentukan kawasan konservasi pada 2030. Langkah ini juga diharapkan mampu menjaga spesies terancam dan menjamin ketahanan pangan masyarakat pesisir.
Departemen Perubahan Iklim, Energi, Lingkungan Hidup, dan Air Australia menyebut negaranya sebagai yang pertama menandatangani perjanjian ini pada 2023. Pemerintah yang baru terpilih kembali pun berkomitmen untuk segera meratifikasinya.
“Australia termasuk sedikit negara yang memerlukan legislasi pelaksana sebelum meratifikasi perjanjian,” kata seorang juru bicara kementerian.
Delegasi lintas kementerian Australia dijadwalkan hadir dalam konferensi tersebut, meski masih dalam tahap finalisasi.
Agar dapat diberlakukan, perjanjian ini harus diratifikasi oleh sedikitnya 60 negara. Saat ini, sekitar 40 negara telah melakukannya atau menyatakan kesiapannya.
Kepala Bidang Kelautan dan Pembangunan Berkelanjutan WWF-Australia, Richard Leck, menyatakan keyakinannya bahwa perjanjian ini akan berlaku. Namun, ia menekankan bahwa negara-negara pendukung seperti Australia perlu mempercepat proses ratifikasi melalui parlemen mereka.
Sementara itu, aktivis senior Greenpeace Australia-Pasifik, Georgia Whittaker, memperingatkan bahwa banyak spesies laut kini “semakin dekat ke ambang kepunahan” tanpa perlindungan hukum yang lebih kuat.
Greenpeace juga merilis analisis terbaru yang menunjukkan bahwa metode longline industri telah menyebabkan kerusakan besar pada populasi hiu. Data menunjukkan, pada 2023, hampir setengah juta hiu biru—yang kini berstatus hampir terancam—tercatat tertangkap sebagai tangkapan sampingan di kawasan Pasifik tengah dan barat. Jumlah ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan data tahun 2015, dan tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.
Sebagai langkah antisipasi, Greenpeace telah mengusulkan pembentukan kawasan perlindungan laut di wilayah Lord Howe Rise dan Laut Tasman.
Ilmuwan kelautan dan Direktur Research Connect Blue, Dr. Rachel Przeslawski, mengatakan masih banyak yang belum diketahui tentang keanekaragaman hayati wilayah bawah laut di lepas pantai timur Australia.
Rangkaian gunung laut—struktur bawah laut setara pegunungan di daratan—memiliki hubungan yang kompleks dengan keragaman hayati. Di puncaknya, yang lebih terkena cahaya matahari dan kaya nutrisi, kehidupan laut lebih melimpah. Paus bungkuk dan spesies migran lainnya sering ditemukan di wilayah ini.
Sementara itu, dataran abisal yang lebih dalam mengandung makhluk-makhluk langka yang telah beradaptasi dengan kondisi ekstrem: gelap, miskin oksigen, dan minim nutrisi.
Beberapa gunung laut di kawasan ini bahkan menjulang hingga 200 meter dari dasar laut, dan sebagian muncul ke permukaan, membentuk Pulau Lord Howe serta terumbu karang Middleton dan Elizabeth.
Meski kapal pukat Australia tidak lagi beroperasi di kawasan ini, kapal dari negara lain masih terus menimbulkan kerusakan. Dr. Przeslawski menyebut bahwa dasar laut yang rusak membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, untuk pulih.
Menurutnya, kawasan konservasi yang dirancang dalam Perjanjian Laut Lepas harus bersifat no-take zone atau zona larangan tangkap secara penuh.
“Banyak taman laut yang ada saat ini hanya dilindungi sebagian. Beberapa zona masih terbuka untuk aktivitas penangkapan ikan atau bahkan pertambangan,” ujarnya.
Ia pun mempertanyakan efektivitas perjanjian tersebut. “Apakah nanti akan tumpul tak bertaji? Ataukah benar-benar mampu mengubah dan membatasi aktivitas yang merusak ekosistem laut?” (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

















Discussion about this post