Jayapura, Jubi – Gereja Katolik di Papua Nugini memberi tahu pemerintah bahwa mereka salah karena menyatakan PNG sebagai negara Kristen.
Awal tahun ini, Parlemen PNG meloloskan amandemen konstitusional yang secara resmi mengakui negara tersebut sebagai negara Kristen. Demikian dikutip jubi.id dari laman internet RNZ Pasifik, Jumat (4/7/2025).
Perdana Menteri James Marape menyatakan bahwa ia senang melihat hal ini tertulis dalam konstitusi negaranya.
Post-Courier melaporkan, Uskup Agung Rabaul, Rochal Tamutai, memperingatkan bahwa hal ini mengancam kebebasan konstitusional dan berisiko merusak masa depan negara.
Ia mengatakan kepada komite parlemen bahwa “klaim bahwa PNG adalah negara Kristen tidak didukung oleh hukum.”
Ia menyatakan, Gereja Katolik tidak setuju dengan langkah pemerintah tersebut, dan menambahkan bahwa hal itu bertentangan dengan jaminan konstitusi tentang kebebasan beragama dan kebebasan hati nurani.
Pernyataan uskup agung itu muncul di tengah presentasi yang lebih luas tentang pengaruh perkembangan teknologi terhadap otoritas gereja, tetapi ia mengambil kesempatan untuk membahas apa yang disebutnya sebagai salah satu topik utama di PNG saat ini.
Kekhawatirannya berpusat pada implikasi hukum, sosial, dan teologis dari upaya membuat Kekristenan menjadi hukum negara.
Uskup agung mengatakan, para politisi bukanlah teolog dan berisiko memasuki wilayah spiritual tanpa pemahaman untuk menanganinya secara bertanggung jawab.
Ia bertanya, “Jika kita mendeklarasikan PNG sebagai negara Kristen, versi Kristen yang mana yang kita maksud? Kita tidak semua sama.”
Ia memperingatkan tentang masa depan di mana menghadiri gereja dapat menjadi kewajiban hukum, bukan lagi perkara iman.
“Jika PNG konon adalah negara Kristen, polisi bisa saja mendatangi desa Anda dan memberi tahu Anda: membolos di hari Minggu bukan hanya dosa, itu juga ilegal dan membuat Anda ditangkap. Begitulah bahayanya jalan ini.”
Dominasi Agama Kristen 96 Persen di PNG
Agama di Papua Nugini didominasi oleh berbagai cabang agama Kristen, dengan animisme tradisional dan pemujaan leluhur yang kerap terjadi secara kurang terbuka sebagai lapisan lain di bawah, atau lebih terbuka berdampingan dengan agama Kristen. Gereja Katolik memiliki pluralitas populasi. Pengadilan, pemerintah, dan masyarakat umum menegakkan hak konstitusional atas kebebasan berbicara, berpikir, dan berkeyakinan.
Amandemen konstitusi pada Maret 2025 mengakui Papua Nugini sebagai negara Kristen, dengan penyebutan khusus tentang “Tuhan, Bapa; Yesus Kristus, Putra; dan Roh Kudus”, serta Alkitab sebagai simbol nasional. Pemerintah secara terbuka bermitra dengan beberapa kelompok Kristen untuk menyediakan layanan, dan gereja berpartisipasi dalam badan pemerintah daerah.
Sebagian besar penduduk Papua Nugini mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota gereja Kristen (96% dalam sensus sepuluh tahunan tahun 2000). Namun, banyak yang menggabungkan iman Kristen mereka dengan praktik adat tradisional, yang dikenal sebagai sinkretisme agama.
Selain itu, di PNG juga terdapat beberapa agama lain, terutama di kalangan migran yang bekerja di Papua Nugini, terutama yang berpusat di ibu kota negara, Port Moresby. Agama lain yang ada di negara ini termasuk Bahai, Hindu, dan Islam.
Warga Bougainville Pertama Pemeluk Islam di PNG
Alexander Dawia, warga Papua Nugini dari Provinsi Otonom Bougainville, adalah orang Papua Nugini pertama yang memeluk agama Islam. Mahasiswa sejarah dari The University of Papua New Guinea itu mengenal Islam saat melakukan riset studinya di Australia.
Dalam artikel berjudul My Memories of Islam in Papua New Guinea yang dirilis muslimpopulation.com pada Maret 2008, Mohammad Afzal Choudry menulis bahwa Dawia mengucapkan syahadat di sebuah masjid di Sydney, Australia, pada 16 Januari 1986. Seorang warga asli Papua Nugini lainnya, Lavi Ali, juga memeluk agama Islam setelah mendengar berita masuk Islamnya Alexander Dawia.
Islam masuk ke Papua Nugini pada 1977–1978 lewat lima orang India dan Pakistan yang bekerja untuk pemerintah Papua Nugini. Mereka juga mengajar di The University of Papua New Guinea.
Masjid pertama di Port Moresby dibangun pada 1982, setelah mendapat izin dari Perdana Menteri Sir Julius Chan. Namun, ada pula peran dari Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, yang memiliki hubungan sangat erat dengan mendiang Sir Michael Somare, sehingga masjid itu dapat dibangun di Port Moresby.

Data Pemeluk Agama di Papua Nugini:
- Roman Katolik: 26%
- Lutheran Injili: 18,4%
- Advent Hari Ketujuh: 12,9%
- Pentakosta: 10,4%
- Gereja Bersatu: 10,3%
Selain itu, di Papua Nugini juga terdapat beberapa lembaga pendidikan profesional Kristen yang telah dibuka di negara ini, seperti Christian Leaders’ Training College, Divine Word University, Pacific Adventist University, dan Sonoma Adventist College. (*)




Discussion about this post