• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Pasifik

Aktivis lingkungan Kepulauan Mariana Utara kritik langkah Trump mundur dari Perjanjian Paris

January 31, 2025
in Pasifik
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Dominggus A Mampioper - Editor: Aryo Wisanggeni G
Perubahan Iklim, Perjanjian Paris

Foto ilustrasi. - pixabay.com

0
SHARES
10
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk menarik diri dari Perjanjian Paris memicu kritik dari para aktivis lingkungan Kepulauan Mariana Utara. Daerah otonom Amerika Serikat di Pasifik itu merupakan negara kepulauan yang sangat rentan terdampak perubahan iklim, dan langkah Trump dinilai meningkatkan risiko itu.

Radio New Zealand pada Kamis (30/1/2025) melansir berita berjudul “CNMI environmental champions criticise Trump’s Paris withdrawal” yang mengutip pernyataan Sheila Babauta, Ketua Friends of the Mariana Trench dan pemenang Penghargaan Juara Lingkungan Mariana Islands Nature Alliance 2023. Babauta menyatakan langkah Trump itu sudah dapat diduga, namun tetap disayangkan.

“Saya tidak terkejut saat mendengar berita itu. Sekarang, yang terpenting adalah melihat bagaimana hal itu akan berkembang. [Kebijakan Trump] itu dapat memengaruhi kami dalam berbagai cara di Kepulauan Mariana Utara,” kata Babauta.

Mantan anggota parlemen Kepulauan Mariana Utara itu menyatakan penarikan diri Amerika Serikat dari Perjanjian Paris dapat memicu berbagai kebijakan yang diputuskan dengan terburu-buru, serta pengabaian berbagai peraturan yang dibentuk untuk melindungi lingkungan.

*****************

Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.

CLICK HERE!

*****************

“Jika memang demikian, kita mungkin ingin menyoroti peraturan lingkungan Pemerintah Federal Amerika Serikat yang menghalangi kami menjalankan budaya kami dan membangun rumah. Kepentingan ekonomi Tiongkok terlihat lebih berminat melakukan investasi dalam sektor ekonomi hijau. Ini mungkin pertanda pemerintah federal akan memangkas anggaran program lingkungan,” kata Babauta.

Babauta mengatakan ada banyak kemungkinan mengapa penarikan diri itu terjadi, dan hal itu tidak dapat diprediksi Pemerintah Persemakmuran Kepulauan Mariana Utara. “Kita harus siap untuk memperjuangkan diri kita sendiri, dan saya tahu kami bisa melakukannya. Kami adalah masyarakat garis depan [yang] secara langsung merasakan dampak perubahan iklim, mulai dari topan yang lebih kuat hingga surutnya garis pantai,” kata Babauta.

Persemakmuran Kepulauan Mariana Utara merupakan kepulauan daerah otonom Amerika Serikat yang terbentang di Pasifik. Kepulauan di selatan Jepang itu rentan mengalami dampak perubahan iklim.

BERITATERKAIT

Rencana latihan perang di Mariana ancam lingkungan di Pasifik

Pakar PBB khawatir upaya menghambat resolusi iklim yang dipimpin Vanuatu

FLNKS kirimkan permintaan untuk bergabung dalam pembicaraan Paris secara daring

Vishal Prasad Bersama Keluarga Pasifik tentang Euforia Kemenangan di ICJ dan Aktivisme Iklim 2025

“Itulah realitas hidup kami, dan kami tidak dapat menyangkalnya. Sebagai penduduk kepulauan Pasifik dari samudra yang luas, kami sangat terhubung dengan rumah, tanah, dan lautan kami. Kami memahami pentingnya melindungi cara hidup ini untuk anak, cucu, dan generasi mendatang. Pada akhirnya, saya percaya kepada rakyat dan pemimpin setempat. Kami mencintai rumah kami, dan itu satu hal yang dapat kami sepakati bersama,” ujar Babauta.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Era kolonialisme iklim

Angelo Villagomez, peneliti senior di Center for American Progress di Washington, mengatakan langkah Trump sangat mengecewakan, karena melemahkan posisi Amerika Serikat di dunia. Peneliti yang berasal dari Saipan, Ibu Kota Persemakmuran Kepulauan Mariana Utara, itu menilai Trump telah menyerahkan kepemimpinan dan pengaruh penanganan isu perubahan iklim kepada rival geopolitik Amerika Serikat.

Villagomez juga menilai penarikan diri Amerika Serikat dari Perjanjian Paris itu menunjukkan besarnya pengaruh kepentingan industri minyak kepada pemerintahan Trump. “Saya sangat khawatir tindakan itu lebih menguntungkan kepentingan perusahaan minyak dan para miliarder pendukung Trump daripada kepentingan penduduk kepulauan Pasifik,” kata Villagomez.

Menurutnya, Trump telah menciptakan era baru kolonialisme iklim. “Jika Amerika Serikat tidak mau membantu Kepulauan Pasifik mengatasi kenaikan muka air laut, hilangnya terumbu karang karena lautan semakin asam, siklon yang semakin kuat, pola migrasi ikan yang berubah karena pemanasan air laut—dan jika Amerika Serikat menyangkal adanya ancaman itu, para pemimpin kami akan terpaksa mencari dukungan dari negara lain,” kata Villagomez.

Villagomez menekankan bahwa perubahan iklim telah terjadi, dan kepulauan Pasifik adalah wilayah yang paling rentan terdampak. “Lima tahun lalu, Topan Super Yutu menghantam ujung selatan Saipan dengan kecepatan angin 175 mil per jam, dan hembusan 190 mil per jam. Itu adalah badai terkuat kedua yang pernah melanda Amerika Serikat, menyebabkan kerugian 800 juta dolar AS. Badai itu menewaskan dua orang, membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal, dan puluhan ribu orang hidup tanpa listrik selama berbulan-bulan,” ujarnya.

Ia berharap penduduk Kepulauan Pasifik akan terus menjadi pemimpin dalam kerja sama internasional menangani perubahan iklim. “Para visioner seperti mendiang Tony DeBrum dari Kepulauan Marshall membantu membentuk Koalisi Ambisi Tinggi yang beranggotakan 100 negara kaya dan miskin untuk mengamankan perjanjian global 2015 guna membatasi pemanasan Bumi hingga 1,5 derajat,” kata Villagomez mencontohkan inisiatif pemimpin negara kepulauan Pasifik.

Direktur Eksekutif Mariana Islands Nature Alliance, Roberta Guerrero mengatakan generasi anak dan cucu Kepulauan Mariana Utara akan menanggung beban dampak keluarnya Amerika Serikat dari Perjanjian Paris.

“Kata-kata saja tidak cukup. Saya memiliki 19 cucu yang akan melihat kepunahan pantai dan sumber daya alam di laguna tempat anak-anak saya tumbuh,” katanya.

“Ini bukan hanya menyedihkan, tapi juga tidak bertanggung jawab dan egois. Saya bahkan tidak yakin bahwa Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional memiliki kekuasaan atas keputusan yang diambil oleh Gedung Putih,” kata Guerrero.

Pandangan yang berlawanan

Ketua Dewan Penasihat Sahabat Palung Mariana, Floyd Masga yang saat ini menjabat sebagai Penjabat Direktur Biro Kualitas Lingkungan dan Pesisir memiliki pandangan yang berlawanan. Ia menilai Perjanjian Paris memberi beban yang berlebihan kepada Amerika Serikat.

“Meskipun Perjanjian Paris tersebut bertujuan untuk mengatasi perubahan iklim global, para kritikus berpendapat bahwa perjanjian tersebut memberikan beban yang tidak semestinya pada negara-negara tertentu, termasuk Amerika Serikat. Sementara negara lain gagal memenuhi komitmen mereka,” ujarnya.

Masga menyebut Trump telah lama menyoroti potensi Perjanjian Paris menimbulkan kerugian terhadap industri Amerika Serikat. Menurutnya, Trump khawatir perjanjian itu akan menghilangkan lapangan kerja, dan merugikan ekonomi Amerika Serikat, sementara negara-negara lain tidak sepenuhnya mematuhinya Perjanjian Pasir.

Ia mengatakan Amerika Serikat telah menerapkan berbagai inisiatif untuk mengatasi masalah lingkungan secara independen di luar kerangka kerja Perjanjian Paris. Hal itu dilakukan melalui beberapa perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Trump.

“Pertanyaan yang lebih luas adalah apakah perjanjian iklim global seperti Perjanjian Paris dapat menyeimbangkan perlindungan lingkungan dengan kepentingan nasional, dan memastikan stabilitas ekonomi  serta keamanan kerja sekaligus mengatasi perubahan iklim secara efektif,” kata Masga. (*)

Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

Tags: donald trumpKepulauan Mariana Utaraperjanjian parisPerubahan Iklim
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

April 4, 2026

UU Reformasi konstitusi Kaledonia Baru ditolak Majelis Nasional Prancis

April 4, 2026

Kepulauan Solomon dan Inggris buat MoU Tata Kelola Hutan

April 2, 2026

Layanan token listrik Papua Nugini pulih

April 2, 2026

Bagaimana negara kepulauan Pasifik menangani krisis BBM

April 2, 2026

Discussion about this post

  • Latest
  • Trending
  • Comments
paskah

Sambut Paskah 2026,Jemaat GPKAI Elim Wosi gelar jalan salib hingga pawai obor

April 5, 2026
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

April 4, 2026
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

April 4, 2026
Mahasiswa

IPMAPAPARA dan mahasiswa Kawanua nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

April 4, 2026
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

April 4, 2026
Kaledonia Baru

UU Reformasi konstitusi Kaledonia Baru ditolak Majelis Nasional Prancis

April 4, 2026
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
persipura

Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

April 2, 2026
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

April 4, 2026
beasiswa

Beasiswa LPDP-Australia Awards dibuka

April 2, 2026
ekskavator

Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

April 1, 2026
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

April 4, 2026
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

April 4, 2026
paskah

Sambut Paskah 2026,Jemaat GPKAI Elim Wosi gelar jalan salib hingga pawai obor

0
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

0
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

0
Mahasiswa

IPMAPAPARA dan mahasiswa Kawanua nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

0
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

0
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

0
Kaledonia Baru

UU Reformasi konstitusi Kaledonia Baru ditolak Majelis Nasional Prancis

0

Trending

  • LNG

    JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beasiswa LPDP-Australia Awards dibuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara