Jayapura, Jubi – Papua Nugini merayakan 50 tahun kemerdekaannya dengan gaya Melanesia sejati, penuh tarian dan musik.
Namun, di balik pesta meriah itu, rakyatnya sadar betul bahwa ada tantangan besar yang harus dihadapi negara berpenduduk sekitar 11 juta jiwa ini. Demikian dilansir jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Kamis (17/9/2025).
Perdana Menteri James Marape berbicara terus terang tentang masalah korupsi dan kejahatan saat menyampaikan pidato Hari Kemerdekaan pada upacara pengibaran bendera di ibu kota Port Moresby, Selasa (16/9/2025).

“Akan tidak adil bagi saya, dan juga bagi negara, jika saya tidak cukup jujur untuk mengakui bahwa di tengah kemajuan yang telah dicapai, kita juga memiliki kekurangan,” ujar Marape.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Saya akui dalam kemajuan kita selama 50 tahun terakhir, kita masih memiliki banyak kantong kemiskinan, kantong isolasi, serta wilayah Papua Nugini yang tidak saling terhubung.”
Ratusan orang berkumpul sejak fajar untuk menyaksikan bendera merah, kuning, dan hitam Papua Nugini dikibarkan di Bukit Kemerdekaan—50 tahun setelah pertama kali dikibarkan ketika PNG merdeka dari Australia.
Dengan lebih dari 800 bahasa dan suku, PNG sering disebut sebagai negara paling beragam di dunia. Bentang daratan dan lautnya kaya akan sumber daya alam seperti emas, tembaga, dan gas alam. Pulau Niugini juga memiliki sejarah peradaban panjang, terbentang hingga 60.000 tahun lalu. Situs Kuk di dekat Gunung Hagen, misalnya, dianggap sebagai salah satu lokasi pertanian tertua di dunia.
Meski kaya sejarah dan sumber daya, negara ini masih berjuang meningkatkan standar hidup warganya. Menurut Bank Dunia, lebih dari 40 persen penduduk hidup di bawah garis kemiskinan nasional sebesar US$2,15 per hari. Tingkat pembunuhan termasuk tertinggi di dunia, sementara korupsi politik menjadi masalah kronis.
Marape menegaskan tantangan ini harus diatasi agar PNG dapat maju dalam 50 tahun mendatang.
“Korupsi merampas sumber daya yang seharusnya untuk rakyat. Perekonomian kita juga belum cukup menopang negara dengan penduduk lebih dari 11 juta jiwa,” katanya.
“50 tahun ke depan harus menjadi era pembangunan bangsa, pembaruan, dan transformasi.”
Ia juga menyoroti ketangguhan PNG dalam menghadapi bencana dan krisis, berkat sistem Wantok yang mempererat solidaritas sosial.
Suara rakyat
Natalie Sirigoi, warga Port Moresby, hadir bersama putrinya yang turut menyambut tamu pada jamuan kenegaraan.
“Bagi saya, 50 tahun adalah tentang kebebasan—kebebasan berbicara, tumbuh dewasa tanpa takut terbangun di zona perang,” ujarnya.

“Saya ingin Papua Nugini kembali seperti masa orang tua saya, ketika mereka tidak menghadapi krisis ekonomi atau kejahatan.”
Sirigoi menekankan pentingnya pendidikan bagi generasi muda untuk membangun masa depan lebih baik. Pandangan serupa disampaikan Fatima Warbua, yang bangga dengan kemajuan PNG sejak merdeka.
“Kami berharap generasi berikutnya belajar dari kondisi hari ini dan memperbaikinya dalam 50 tahun ke depan,” kata Warbua.
Bougainville tetap jadi isu penting
Dalam pidatonya, Marape juga menyinggung Bougainville—wilayah otonomi yang masih memperjuangkan kemerdekaan penuh dari PNG.
Wilayah itu pernah dilanda perang saudara brutal selama 10 tahun yang menewaskan lebih dari 20.000 orang sebelum berakhir pada 1997.
“Kepada saudara-saudari di Bougainville, saya menangis bersama kalian. Jika kami telah menyakiti, kami mohon maaf,” kata Marape.
Perjanjian keamanan dengan Australia
Perayaan ke-50 juga diwarnai isu geopolitik. PNG dijadwalkan menandatangani perjanjian keamanan penting dengan Australia. Menurut Menteri Luar Negeri Justin Tkatchenko, kesepakatan ini akan menguntungkan kedua negara dalam jangka panjang, termasuk kerja sama pertahanan dan perekrutan militer lintas negara.
Namun, detail perjanjian belum dipublikasikan. New Zealand menunggu informasi lengkap sebelum mempertimbangkan langkah serupa.
Akon hibur rakyat PNG

Perayaan masih berlanjut hingga akhir pekan. Puncaknya, konser artis hip-hop internasional Akon di Stadion Sir John Guise, Port Moresby, Rabu (17/9/2025).
Pemerintah PNG dikabarkan menginvestasikan K5 juta (sekitar Rp25 miliar) untuk mendatangkan bintang dunia ini. Kehadiran Akon disambut meriah oleh penggemar. Ia membawakan lagu-lagu hits globalnya, sekaligus menutup malam dengan tema “From Lonely to Freedom” yang menggema di ibu kota. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

















Discussion about this post