Oleh: Gison Morib
Pada tahun 2023, dunia dikejutkan oleh kabar dari Pegunungan Cycloops, Papua. Setelah lebih dari enam dekade dianggap hilang atau punah, satu spesies kuno akhirnya ditemukan kembali — Ekidna moncong panjang Cycloops (Zaglossus attenboroughi).
Spesies ini terakhir kali tercatat sekitar 64 tahun lalu, dan penemuan kembali tersebut menjadi berita besar di tingkat internasional, nasional, hingga lokal.
Namun bagi masyarakat adat di kaki Pegunungan Cycloops, penemuan itu bukan hanya berita ilmiah. Bagi mereka, ini adalah kabar tentang kembalinya simbol perdamaian yang selama ini hidup dalam cerita leluhur.
Payangko, Hewan Perdamaian
Di kampung-kampung Ormu, Yongsu, Dormena, Yapase, dan beberapa kampung di Tanah Merah Depapre, masyarakat mengenal hewan ini dengan nama lokal Payangko.
Dalam tradisi setempat, Payangko adalah hewan perdamaian. Jika dua saudara, keluarga, atau kelompok bertikai, mereka akan mencari Payangko sebagai syarat untuk berdamai kembali.
Karena hewan ini sangat sulit ditemukan, pencarian itu menjadi perjalanan panjang yang mengajarkan kesabaran, kerja sama, dan penghormatan terhadap alam.
Makna filosofinya dalam budaya lokal sangat dalam:
Perdamaian tidak datang dengan mudah; ia harus dicari dan diperjuangkan, seperti mencari Payangko di hutan Cycloops.
Nama lokal ini menjadi bukti bahwa hewan ini bukan sekadar bagian dari alam, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan spiritual masyarakat. Ia menghubungkan manusia dengan alam, dan mengingatkan bahwa keseimbangan sosial tidak terpisah dari keseimbangan ekologis.
Keajaiban Evolusi dari Tanah Papua

Secara ilmiah, ekidna adalah makhluk yang sangat unik. Ia termasuk kelompok mamalia purba (monotremata), satu-satunya mamalia yang bertelur seperti reptil, tetapi menyusui anaknya seperti mamalia.
Di dunia ini, hanya ada dua jenis hewan dengan cara hidup seperti itu: ekidna dan platipus.
Spesies Payangko — Zaglossus attenboroughi — hanya ditemukan di Pegunungan Cycloops, Papua, menjadikannya salah satu hewan dengan penyebaran paling terbatas di dunia.
- Di wilayah Pegunungan Tengah Papua hidup spesies lain: Ekidna Zaglossus bartoni.
- Di daerah Fakfak dan Arfak terdapat Ekidna Zaglossus bruijnii.
Namun di Cycloops, hanya ada Zaglossus attenboroughi — satu-satunya di dunia.
Jumlah individunya belum diketahui, dan karena langka serta habitatnya semakin sempit, spesies ini dikategorikan Critically Endangered (Kritis Terancam Punah) oleh IUCN.
Dari sisi evolusi, ekidna adalah saksi hidup dari masa jutaan tahun lalu — spesies yang nyaris tak berubah sejak masa dinosaurus, menjadikannya makhluk evolusioner yang luar biasa.
Peran Ekologis: Penjaga Keseimbangan Tanah
Lebih dari sekadar simbol budaya, ekidna memiliki peran ekologis penting dalam menjaga keseimbangan alam Cycloops.
Hewan ini memakan rayap, semut, cacing, dan berbagai makhluk kecil di bawah tanah. Saat mencari makan, ia menggali dan membalik tanah, membantu menggemburkan lapisan tanah, serta menekan populasi serangga berlebih.
Tanpa kehadiran ekidna, populasi rayap dan semut bisa meningkat drastis, mengganggu keseimbangan ekosistem dan merusak vegetasi.
Dalam diam, ekidna melakukan apa yang saya sebut sebagai “perang ekologis” — menjaga kehidupan tanpa menimbulkan kebisingan. Ia tidak berperang melawan sesama makhluk, tetapi melawan ketidakseimbangan alam.
Dengan demikian, ekidna bukan hanya hewan perdamaian secara budaya, tetapi juga penjaga perdamaian ekologis.
Kisah Lapangan

Saya, Gison Morib (atau Jefri Wonda), adalah salah satu dari enam mahasiswa Universitas Cenderawasih yang tergabung dalam Ekspedisi Cycloops 2023.
Tim ini bekerja sama dengan University of Oxford (Museum of Natural History, Inggris), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua, dan Yayasan YAPPENDA, serta masyarakat adat di Kampung Yongsu.
Kami menjadi saksi langsung penemuan kembali hewan yang selama puluhan tahun hanya hidup dalam cerita rakyat.
Saya masih mengingat pengalaman berat itu — saat lintah masuk ke mata saya selama lebih dari 35 jam. Meski menyakitkan, pengalaman itu mengajarkan betapa kerasnya medan penelitian dan betapa besar cinta yang harus dimiliki untuk bertahan di dunia konservasi.
Kini, saya melakukan penelitian ini karena ingin memahami di mana sebenarnya Ekidna moncong panjang (Zaglossus attenboroughi) hidup di Pegunungan Cycloops — rumah besar yang menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan alam di sekitarnya.
Meskipun hanya ada satu Gunung Cycloops, gunung ini memiliki empat puncak besar:
- Puncak Telaga Ria (bagian timur),
- Puncak Raveni Rara (dua puncak tengah), dan
- Puncak Wambena (bagian barat).
Setiap puncak memiliki karakter ekologi yang berbeda, dan saya ingin mengetahui di puncak mana spesies unik ini masih bertahan.
Penelitian ini bukan hanya tentang mencari hewan langka, tetapi tentang mencari harapan — harapan bahwa kita masih bisa menjaga keseimbangan alam di tanah ini.
Dengan mengetahui sebaran dan jumlah populasi ekidna, kita dapat merancang strategi konservasi yang lebih baik, mengelola kawasan ini dengan lebih ketat, dan memastikan bahwa spesies ini tetap hidup untuk generasi berikutnya.
Penelitian saya berjudul “Studi Distribusi Ekidna Moncong Panjang di Pegunungan Cycloops”, dengan dukungan dari berbagai pihak:
- Universitas Cenderawasih (Uncen) sebagai lembaga akademik yang menaungi riset;
- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua sebagai lembaga pemerintah yang menjaga kawasan;
- Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund (MBZ Fund) — lembaga yang mendukung individu dan organisasi yang berjuang menyelamatkan spesies dari kepunahan;
- EDGE Fellowship (2025–2027) — program dunia yang membantu dan melatih anak muda dalam konservasi hewan langka;
- Yayasan YAPPENDA sebagai mitra lapangan dan pendamping masyarakat;
- Serta pemilik hak ulayat dan masyarakat adat setempat.
Ancaman Nyata di Cycloops
Gunung Cycloops bukan hanya rumah bagi ekidna, tetapi juga sumber kehidupan bagi manusia. Dari gunung ini, air bersih mengalir ke Sentani dan sekitarnya, udara segar disaring, dan keanekaragaman hayati menopang kehidupan.
Namun kini, ancaman pembukaan kebun, kebakaran hutan, perburuan liar, dan rencana tambang nikel mengintai ekosistem Cycloops.
Jika habitat ini rusak, bukan hanya ekidna yang akan punah, tetapi juga sistem ekologis yang menopang kehidupan manusia di bawahnya.
Dalam konteks inilah saya menyebutnya sebagai perang ekologis — perang tanpa peluru, tetapi dengan dampak yang nyata.
Dan dalam perang itu, ekidna adalah pejuang kecil yang menjaga bumi agar tetap bernapas.
Menjaga Cerita dan Kehidupan
Saya meneliti ekidna bukan hanya karena ia unik secara ilmiah, tetapi karena ia menyimpan cerita dan nilai kemanusiaan.
Cerita tentang Payangko adalah warisan yang mengajarkan bahwa perdamaian dan keseimbangan alam harus dijaga bersama.
Jika kita gagal melindungi ekidna hari ini, maka yang hilang bukan hanya satu spesies, tapi juga cerita perdamaian yang diwariskan leluhur kepada generasi berikutnya.
Generasi kami masih mengenalnya, tetapi bagaimana dengan anak-anak kami nanti?
Apakah mereka masih akan tahu apa itu Payangko, ataukah nama itu akan hilang bersama hutan Cycloops yang lenyap?
Menjaga ekidna berarti menjaga cerita, budaya, dan keseimbangan alam Cycloops.
Payangko adalah hewan kecil, tetapi mengajarkan hal besar: bahwa perdamaian dan kehidupan harus dicari, dijaga, dan diperjuangkan — seperti mencari Payangko di hutan Cycloops.
Penutup
“Menjaga Ekidna atau Payangko sama dengan menjaga diri kita sendiri. Jika Cycloops hancur, kehidupan di bawahnya pun akan hancur. Payangko bukan sekadar hewan langka — ia adalah cermin perdamaian antara manusia dan alam, serta pengingat bahwa kehidupan ini harus dijaga bersama.”
Sebagai penutup, kita semua memiliki peran dalam menjaga keseimbangan alam di Gunung Cycloops.
Mungkin kita bertanya, apa yang dapat saya lakukan sebagai individu?
Sama seperti ekidna kecil yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, setiap manusia pun memiliki tanggung jawab dan kekuatan untuk membawa perubahan.
Mulailah dari hal sederhana: berbicara dengan keluarga, teman, komunitas, serta para pemimpin budaya dan politik tentang pentingnya melindungi hutan.
Upaya ini bukan hanya untuk menyelamatkan satwa seperti ekidna, tetapi juga untuk menjamin kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kaki gunung.
Kita perlu berhenti menebang hutan secara sembarangan, berhenti berburu satwa, tidak membeli daging atau hasil bumi dari kawasan taman, tidak membuang sampah ke sungai, serta tidak membakar rumput atau pepohonan untuk membuka lahan.
Jika setiap orang mengambil tindakan kecil, bersama-sama kita dapat menciptakan perubahan besar — melindungi diri kita sendiri, masa depan generasi berikutnya, dan semua spesies unik Papua yang menjadi kebanggaan kita. (*)
( Penulis adalah peneliti muda dari Papua yang bekerja di YAPPENDA. Penulis juga saat ini sedang meneliti sebaran Ekidna moncong panjang (Zaglossus attenboroughi) di Pegunungan Cycloops )




Discussion about this post