Jayapura, Jubi – ‘Easter Camp 2026’ tertulis pada spanduk biru yang terbentang di antara tiang-tiang beton besar di lantai tiga Pasar Mama-Mama Papua, Kota Jayapura.
Ruangan luas berlantai beton itu terbiasa dengan kesunyian. Namun saat ada kelas bimbingan belajar atau bimbel gratis yang rutin digelar setiap Selasa siang di sana, kesunyian itu pecah oleh keramaian suara anak-anak.
Kesunyian itu juga berubah hiruk-pikuk pada Jumat malam, 3 April 2026. Di bawah terang cahaya lampu neon, puluhan anak berlarian dengan tawa yang lepas. Ibu-ibu sibuk menyiapkan makan malam, sedangkan bapak-bapak mendampingi dan memantau anak-anak mereka.
Suasana yang penuh kehangatan seperti itu sudah menjadi tradisi setiap tahun pada malam Paskah. Kegiatan yang diadakan jemaat IFGF (International Full Gospel Fellowship) Jayapura bimbingan Naomi Selan itu, sudah berlangsung selama satu dekade.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Lebih 70 anak, sebagian besar anak pedagang di Pasar Mama-Mama Papua itu, berkumpul untuk mengikuti kegiatan ‘Easter Camp’ atau Perkemahan Paskah. Lewat momen itu, anak-anak mendapatkan ruang untuk bermain, belajar, berdoa, dan merayakan Paskah di tempat orang tua mereka sehari-hari mencari nafkah.
Naomi Selan mengatakan kegiatan seperti itu sudah menjadi tradisi tahunan bagi anak-anak di Pasar Mama-Mama Papua. Tradisi tersebut menjadi wadah kebersamaan dan mempererat kekeluargaan.

“Mereka senang bisa berkumpul bersama, bermain bersama, menonton, berdoa dan tidur beramai-ramai,” kata Gembala IFGF Jayapura itu.
Menumbuhkan iman
Suasana mendadak senyap ketika sesi ‘Praise & Worship’ (Pujian dan Penyembahan) dimulai. Tiga anak berdiri di barisan depan dengan mata terpejam rapat. Tangan mereka ditangkupkan di depan dada, menunjukkan sikap hormat kepada Sang Pencipta.
Hanya ada kepolosan tanpa paksaan di sana. Di depan mereka, layar proyektor menampilkan lirik lagu pujian dalam Bahasa Indonesia yang sederhana; “Mari semua bernyanyi… dan berseru pada Allah Maha Tinggi… Semua makhluk tunduk pada-Nya.”
Seorang ibu pengasuh berdiri di depan memegang mikropon. Dentingan suara keyboard terdengar merdu dengan nada-nada yang lembut. Suara anak-anak itu pun pecah. Malam itu, ruangan lantai tiga yang semi terbuka menjadi saksi kekhusyukan anak-anak memanjatkan doa dan memuji Tuhan.
Mereka semua berbaur dan menyatu tanpa ada sekat. Pakaian mereka sangat sederhana. Ada yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek, ada pula yang memakai baju tidur, bahkan sarung yang melingkar di dada. Kegembiraan terpancar dari wajah mereka, jauh lebih berharga daripada kemewahan apa pun.
Setelah pujian dan penyembahan, sesi yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pemutaran film ‘The Passion of the Christ’, film yang mengisahkan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya.
Anak-anak duduk berkerumun dengan tenang menghadap layar putih yang dibentangkan di antara dua pilar beton. Sebuah proyektor menyala, menampilkan adegan demi adegan film. Suasana begitu hening, mata mereka terperangah menatap layar.
Adegan-adegan dan suara ‘sound’ menggugah kesedihan anak-anak dan orang tua yang menonton film itu. Bahkan tak sedikit yang menitikkan air mata dan berseru menyebut nama Tuhan ketika menyaksikan adegan penyiksaan yang dilakukan tentara Romawi.

Agustina, orang tua yang turut mendampingi anaknya mengikuti kemping itu merasa senang ada tradisi yang digelar setiap tahunnya di Pasar Mama-Mama Papua. Menurutnya, dari kegiatan itu, anak-anak bisa bertumbuh dalam iman dan memaknai Hari Kebangkitan Yesus Kristus.
“Kegiatan ini sangat baik buat anak-anak, mereka terbiasa ikut kemping Paskah. Kegiatan ini bisa menjadi tempat bertumbuhnya iman anak-anak dan memaknai hari kebangkitan Tuhan Yesus,” kata Agustina.
Di kejauhan, beberapa Mama Papua sesekali melintas atau berdiri di pinggir area kemping sehabis berjualan di lantai bawah. Mereka melihat anak-anak mereka dengan senyum tipis. Ada rasa syukur di wajah para Mama ini melihat anak-anak mereka bisa merayakan Paskah dengan cara yang positif dan terjaga di dalam lingkungan pasar.
Pukul 23.00 WIT, suara riuh dan tawa riang anak-anak perlahan menghilang. Mereka tampak tertidur lelap setelah seharian menghabiskan waktu bermain, belajar, memuji Tuhan dan menyaksikan film Tuhan Yesus.
Pembelajaran Alkitab dan Pentas Seni
Kemping Paskah di Pasar Mama-Mama Papua masih berlanjut hingga Sabtu, 4 April 2026. Senam pagi mengawali aktivitas mereka pada hari kedua. Menjelang siang, anak-anak dibimbing dalam sesi pembelajaran Alkitab untuk mengenal dan memahami tentang Firman Tuhan.
Tak disangka, anak-anak yang setiap harinya menghabiskan waktu dengan bermain di lingkungan pasar itu punya pengetahuan kerohanian yang mendalam. Satu per satu menjawab dengan lugas ketika ditanya tentang tokoh-tokoh dan isi Alkitab.
Dani yang kini duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, turut senang bisa terlibat dan bergabung dengan kegiatan itu. Ia mengaku mendapatkan banyak hal positif, termasuk saling belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Saya sudah dua kali ikut dan banyak teman di sini, berkumpul bersama dan belajar tentang Alkitab, sangat senang dan membuat kita bersemangat,” kata Dani.
Kegiatan bertajuk Pentas Seni semakin memeriahkan suasana kemping pada malam kedua. Ada puisi, drama, menari, dan yel-yel. Dengan keberanian dan percaya diri, anak-anak tampil menunjukkan kemampuan mereka di hadapan orang tua dan teman-teman sebaya mereka.
“Anak-anak ini tidak ada yang pernah menyangka mereka punya kelebihan dan kemampuan yang luar biasa. Di usia mereka yang masih anak-anak, mereka sudah berani tampil di depan umum, bahkan melebihi kemampuan anak-anak seusia mereka,” kata Naomi Selan.
Malam Paskah yang sederhana di lantai tiga Pasar Mama-Mama Papua itu tak hanya sekadar kemping, tapi memberikan banyak pengalaman berharga bagi anak-anak. Mereka tidak hanya bermain, berdoa, dan tidur, tapi ada sesi di mana karakter mereka dibentuk, pemahaman akan alkitab, dan menggali kemampuan, agar kelak bisa bermanfaat bagi masa depan mereka.
“Saya tidak bisa bayangkan bagaimana dengan mereka pada beberapa tahun nanti, dengan apa yang mereka punya dan apa yang sudah mereka tampilkan itu bisa menjadi bekal yang baik untuk kehidupan mereka di masa mendatang,” ujar Naomi.
Salah seorang pengasuh, Uria Swabra juga meyakini apa yang didapat anak-anak dalam kemping Paskah itu akan menjadi bekal yang berguna di masa depan.
“Lewat kegiatan ini mereka bisa meresapi makna yang mendalam bagi pertumbuhan iman mereka, sampai ketika mereka dewasa nanti, sehingga kelak mereka bisa bertumbuh dan menjadi orang yang hebat, terutama untuk keluarga, jemaat, dan banyak orang,” kata Uria.
Obor dan nyanyian kemenangan
Malam semakin larut di lantai tiga Pasar Mama-Mama Papua. Satu per satu anak mulai merebahkan diri di atas alas yang telah disediakan. Beberapa masih berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya, menceritakan tentang permainan atau pengalaman yang baru mereka lalui.

Ada yang sudah tertidur lelap karena kelelahan setelah seharian penuh beraktivitas. Namun tak sedikit pula yang harus dibujuk supaya tidur lebih cepat, sebab mereka harus turun ke jalan mengarak obor mengelilingi jalanan kota sebelum matahari terbit. Suara tetesan air sisa-sisa hujan terdengar lamat-lamat di sela kesunyian malam, menemani tidur pulas mereka.
Waktu seakan berjalan lambat. Hingga jarum jam memasuki pukul tiga subuh, para pengasuh mulai membangunkan mereka. Udara yang dingin selepas hujan di Jayapura tidak menyurutkan semangat anak-anak itu.
Dari lantai tiga pasar, mereka turun perlahan, berbekal ratusan potongan bambu yang sudah disiapkan. Satu per satu, ujung bambu yang dibalut kain mulai dinyalakan. Inilah puncak dari tradisi malam Paskah itu, Pawai Obor. Mereka melangkah ke jalanan membawa obor yang sudah menyala terang.
Subuh itu, belum terlihat jemaat lain yang turun di jalan, hanya anak-anak itu dan suara nyanyian, sorak sorai, tepuk tangan yang saling bersahutan memecah kesunyian subuh di jalanan Kota Jayapura. Mereka menyambut fajar Paskah dengan hati yang gembira.
Cahaya api obor yang menari-nari ditiup angin subuh menyinari wajah-wajah mungil mereka. Meski sisa kantuk masih menggantung di pelupuk mata, binar semangat yang terpancar dari tatapan mereka jauh lebih terang dibandingkan api yang mereka genggam.
Lantunan pujian terus terdengar lantang, memuji Sang Pencipta, bergema dari satu mulut ke mulut lainnya tanpa rasa lelah. Seolah bagi mereka, membawa obor yang terang bukan sekadar berjalan di kegelapan, tapi menjadi simbol merayakan kemenangan dan harapan baru yang lahir kembali.
Api yang mereka genggam bermakna cahaya akan selalu menemukan jalannya untuk datang setelah malam yang paling gelap sekalipun. Bagi mereka, Paskah tidak hanya tentang tradisi tahunan, tapi tentang menjaga nyala harapan agar terus hidup dalam setiap langkah menuju masa depan. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post