Sentani, Jubi –– Aleks Waisimon adalah tokoh penting di balik suksesnya Kampung Rhepang Muaif di Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura masuk daftar 50 Desa Wisata Nasional dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Keunggulan Kampung Wisata Rhepang Muaif terletak pada lokasi pengamatan burung atau ‘Birdwatching Site’ yang sangat populer, yaitu Isyo Hill’s. Di Isyo Hill’s wisatawan bisa melihat burung Cenderawasih, maskotnya Papua.
Pengelola dan pemilik Isyo Hill’s adalah Aleks Waisimon. Waisimon kepada Jubi mengatakan bangga dan terharu terhadap upaya bersama seluruh masyarakat adat di Kampung Rephang Muaif dan beberapa kampung tetangga dalam mewujudkan Kampung Rhepang Muaif masuk 50 Desa Wisata Nasional 2024.
“Kita berharap ke depan ada Aleks-Aleks yang lain untuk melanjutkan seluruh upaya dan daya kita bersama selama sembilan tahun bagi Kampung Rhepang Muaif, juga kampung-kampung lain di Kabupaten Jayapura dan Papua pada umumnya,” ujarnya.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Alex Waisimon adalah peraih Kalpataru 10 tahun silam. Baginya tidak ada cara lain untuk menyelamatkan isi perut bumi ini dengan menjaga dan merawat lingkungan, serta hutan di mana tinggal.

“Karena hutan dan seluruh habitatnya adalah harta karun yang sangat berharga bagi kelangsungan hidup orang banyak,” ujarnya.
Di Isyo Hill’s, jantungnya Kampung Wisata Rephang Muaif, selain tersedia tempat pengamatan burung Cenderawasih, juga sudah ada tempat penginapan, tempat ‘tracking’ dan ‘camping’ pengunjung.
“Juga sudah terbentuk kelompok sadar wisata, kelompok perajin, kuliner, dan sanggar-sanggar tari untuk pelestarian seni dan budaya, serta sekolah alam,” katanya.
Isyo Hill’s yang dikelola bersama oleh masyarakat asli Suku Nmblong itu, sudah 10 tahun menjadi ikon dan tujuan utama para wisatawan yang berkunjung ke Kampung Wisata Rhepang Muaib. Lokasinya yang strategis memungkinkan pengunjung untuk mencapai spot ‘bird watching’ hanya dengan berjalan kaki selama 10 menit dari Isyo Lodge.
Di sana wisatawan dapat menyaksikan keindahan burung Cenderawasih yang sangat langka, termasuk empat jenis Cenderawasih yang mendiami area itu. Salah satu jenis itu adalah burung Cenderawasih endemik yang sangat dicari para pengamat burung mancanegara.
Berdasarkan penilaian Kemenparekraf
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melaksanakan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Hasilnya terpilih 50 desa di seluruh Indonesia yang ditetapkan sebagai Desa Wisata Nasional. Tiga di Tanah Papua, yaitu Desa Wisata Namatota di Kabupaten Kaimana, Papua Barat dengan kategori ‘berkembang’. Kemudian untuk kategori rintisan adalah Desa Wisata Kampung Rhepang Muaif (Kabupaten Jayapura) dan Desa Wisata Malasigi Village (Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya).

Pendaftaran peserta ADWI 2024 sudah berlangsung sejak awal tahun. Penjurian berdasarkan data dan dokumen profil masing-masing desa atau kampung yang dikirimkan kepada panitia pelaksana. Pengumuman 50 desa terbaik telah disampaikan Menteri Parekraf Sandiaga Uno pada 24 Mei 2024.
Tim juri dan sejumlah pejabat Kemenparekraf kemudian mendatangi Kampung Rhepang Muaif pada awal Oktober lalu. Keindahan alamnya masih asli dengan hutan hujan tropisnya yang kaya akan biodiversitas. Kondisi ini mencuri hati para tim juri ADWI 2024. Selain keindahan alam, kekayaan budaya melalui masyarakat adat menjadi hal terpenting dalam proses penilaian.
Manteri Parekraf RI Sandiaga Salahuddin Uno datang ke Kabupaten Jayapura khusus untuk Kampung Rhepang Muaif pada Rabu (9/10/2024). Ia hadir di aula lantai dua Kantor Bupati Jayapura di Sentani untuk menandatangani prasasti ADWI 2024 bagi yang masuk dalam 50 Desa Wisata Nasional.
Dalam sambutannya, Sandiaga Uno mengatakan ia sangat mengapresiasi dan bangga atas prestasi yang telah diperoleh Kampung Rhepang Muaif. Ia juga meminta maaf karena tidak sempat berkunjung ke Rhepang Muaif dengan berbagai pertimbangan.
“Tahun lalu Kampung Rhepang Muai masuk dalam 100 besar Desa Wisata Nasional dan tahun ini satu-satunya dari Provinsi Papua yang masuk dalam 50 Desa Wisata Nnasional,” ujarnya.

Kampung Rhepang Muai, kata Sandiaga, bukan satu-satunya yang telah berhasil memperoleh prestasi terbaik di Papua. Sebelumnya ada Kampung Yoboi dan sejumlah Kampung di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura.
Ia berpesan agar dalam pengembangan ke depan Pemprov Papua dan Kabupaten Jayapura memberikan perhatian lebih terhadap peningkatan, pemberdayaan, dan keberpihakan terhadap ekonomi kreatif masyarakat dalam menjaga serta meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya.
“Kita bicara pariwisata hijau dan berkelanjutan, maka Kampung Rhepang Muai punya potensi yang sangat menjanjikan,” katanya.
‘Bird watching’, lanjut Sandiaga, merupakan salah satu situs yang saat ini digemari masyarakat di luar Indonesia, khusus wisatawan mancanegara.
“Ternyata di Rhepang Muaif sudah ada tempat pengamatan burung Cendrawasih. Ini yang menjadikan Kampung Rephang Muaif sebagai pilihan utama bagi para wisatawan nasional maupun mancanegara,” katanya.
Menteri mengatakan akan terus mengupayakan pengembangan Kampung Wisata Kampung Rhepang Muaif menjadi salah satu tonggak utama sektor pariwisata di Provinsi Papua.
“Bukan hanya menghadirkan keindahan alam melihat burung Cendrawasih, tapi juga ikut melestarikan alam menjaga lingkungan, karena dengan sendirinya yang menjadi daya tarik itu adalah ‘bird watching site, berarti semua lingkungannya harus dijaga,” ujarnya.
Pada acara itu, Penjabat Bupati Jayapura Semuel Siriwa sangat berterima kasih kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Parekraf yang telah melaksanakan program ADWI 2024 dan Kampung Rhepang Muaif di Distrik Nimbokrang bisa terpilih dalam 50 Desa Wisata Nasional.

“Dalam pengembangan ke depan, kami juga membutuhkan dukungan dari pemerintah pusat, juga Pemerintah Provinsi Papua agar upaya bersama dalam menjaga lingkungan dan habitatnya bisa terwujud, secara khusus pada peningkatan pariwisata, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Keunggulan lain Rhepang Muaif
Kampung Rhepang Muaif memang pantas masuk ke dalam daftar 50 desa wisata tahun ini. Sebagai kampung wisata, dari sisi akomodasi sudah cukup memadai. Penginapan terdiri dari homestay dan campsite,
menawarkan pengalaman menginap yang autentik dan dekat dengan alam.
Ada 19 kamar yang dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal dengan sentuhan keramahan khas
Papua. Selain itu, tersedia 12 gazebo yang dapat digunakan untuk mendirikan tenda. Area kemping mampu mengakomodasi sekitar 500 hingga 600 orang untuk kegiatan luar ruang (‘outdoor’). Fasilitas lainnya meliputi ruangan serbaguna atau ‘ballroom’ untuk kegiatan formal, dengan akses listrik 24 jam dan internet 4G.
Sedangkan area makan dapat menampung 50-100 orang dengan dapur memasak menggunakan kayu bakar untuk memberikan aroma khas. Semuanya dikelola oleh masyarakat asli Suku Nmblong.
Kampung Wisata Rhepang Muaib juga fokus pada konservasi alam dan edukasi lingkungan. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga hutan hujan dan melindungi spesies yang terancam punah. Pengunjung juga dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan konservasi dan mendapatkan pengetahuan lebih mendalam tentang budaya dan alam Papua melalui Sekolah Alam Yombe Yawa Datum yang didirikan oleh masyarakat asli Suku Nmblong dan tim pengajar adalah anak muda dari Suku Nmblong. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post