Wamena, Jubi – Kekeringan akibat musim kemarau di Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan sejak Juni 2026, berlanjut hingga kini. Situasi itu menyebabkan warga mengalami krisis pangan, karena lahan pertanian mereka gagal panen.
Salah satu warga asal Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan yang menjadi pengungsi internal di wilayah Kuyawage sejak 2018 silam, Nuwinus Gwijangge mengatakan lahan pertanian gagal panen akibat kekeringan, dan menyebabkan warga krisis pangan.
Katanya, krisis pangan ini tidak hanya dialami pengungsi internal asal Kabupaten Nduga, juga warga lokal Lanny Jaya yang ada di Kuyawage.
Menurutnya, krisis pangan itu membuat pengugsi internal dari Nduga di Kuyawage berharap, pemerintah kabupaten (pemkab) daerah asal mereka dapat membantu warganya memenuhi kebutuhan pangan selama masa kekeringan.
“Selama ini Pemkab Nduga tidak pernah memperhatian kami. Justru [kami] pengungsi [asal] Nduga rasa malu dengan Pemkab Lanny Jaya, karena selama ini kami selalu mendapat bantuan dari Pemkab Lanny Jaya, selain dari usaha kami sendiri untuk bertahan hidup di pengungsian,” kata Nuwinus Gwijangge melalui telepon selularnya, Kamis (6/8/2026).
Katanya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan juga diharapkan dapat menyalurkan bantuan kebutuhan pangan kepada warga di Kuyawage.
“Setelah terjadi bencana [kekeringan], warga [lokal Lanny Jaya] meminta perhatian bantuan bahan makanan dari pemda setempat. Namun, kami [pengungsi internal asal] Nduga seakan tidak ada pemerintahan,” ucapnya.
Gwijangge mengatakan sejak ia bersama warga lain asal Nduga menjadi pengungsi internal di Kabupaten Lanny Jaya pada 2018 silam hingga kini, tidak pernah ada perhatian dari Pemkab Nduga.
Warga asal Nduga yang menjadi pengungsi internal di Lanny Jaya lanjut Gwijangge, telah berulangkali meminta bantuan kepada pemkab, namun tak pernah direspons.
“Kali ini kami di Kuyawage sudah satu bulan lebih mengalami kekeringan. Tanaman kami menjadi kering dan gagal panen. Kami sulit memenuhi kebutuhan sehari-sehairi dan kehidupan kami terancam,” ujarnya.
Saat musim kemarau melanda sebagian wilayah Kuyawage pada Juni 2026, pengungsi internal Nduga di sana menyampaikan kepada Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Nduga, Daniel Lokbere mengenai kebutuhan pangan warga pengungsi di Lanny Jaya.
Ketika itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Nduga hendak menyaluran bantuan beras kepada pengungsi internal asal Nduga di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Pengungsi internal asal Nduga di Kuyawage yang terdampak kekeringan pun meminta beras bantuan jatah mereka saat itu. Namun tak ada respons dari dinas terkait.
Karenanya, kali ini mereka berharap Pemkab Nduga dan Pemprov Papua Pegunungan dapat membantu kebutuhan pangan warga di Kuyawage.
Katanya, daerah Bonbon, Yugume dan sekitarnya terlebih dahulu mengalami kekeringan pada Jun 2026. Kini situasi itu melanda seluruh wilayah Kuyawage. Situasi ini terjadi dua kali dalam setahun.
“[Situasi ini] akan berdampak terhadap nyawa (keberlangsungan hidup) manusia jika tidak tanggapi oleh pemda (Pemkab Nduga) dan Pemprov Papua pegunungan”. kata Nuwinus Gwijangge.
Ia mengatakan, secara administrasi pemerintahan, wilayah Kuyawage berada di tiga kabupaten. Ada wilayah masuk wilayah Kabupaten Nduga, Kabupaten Lanny Jaya, dan Kabupaten Puncak, Provisi Papua Tengah. (*)




Discussion about this post