Jayapura, Jubi – Awalnya, Paitua Octovianus, yang biasa dipanggil Oto Bosayor (62 tahun), mengaku hanya memiliki satu rumah panggung homestay. Namun, rumah itu terbakar, dan ia memulai kembali membangun rumah baru. Kini, ia sudah memiliki dua rumah dan baru saja membangun satu rumah baru lagi.
“Rumah ketiga ini saya bangun untuk anak mantu saya, Oto Wambrauw,” katanya kepada jubi.id di kediamannya, homestay di Kampung Aisandami, Distrik Teluk Duari, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, Jumat, 15 Mei 2025 lalu.
“Hampir semua rumah panggung itu,” lanjut Bosayor, “hanya menggunakan tiang-tiang kayu dan tali-tali rotan, serta beratap daun sagu dan berdinding gabah-gabah pelepah daun sagu.” Ia mengakui bahwa rumah homestay tersebut sudah harus dinaikkan tiang-tiang penyangganya karena air laut sudah naik (rob) dan hampir mendekati lantai dasar rumah dari batang pinang dan pohon enau (Arenga pinnata).

Fungsi tiang dalam rumah panggung di pesisir Teluk Duari adalah untuk menopang seluruh struktur rumah dan memberikan jarak antara lantai dengan air laut. “Naiknya permukaan air laut membuat saya harus meninggikan tiang-tiang rumah agar aman dari air laut yang naik,” katanya.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
jubi.id memantau bahwa rumah panggung homestay milik Paitua Bosayor terdiri dari jembatan dari kayu. Rumahnya juga berbahan kayu, hanya saja toilet dan kamar mandi dibangun dengan konstruksi kayu beratap seng dan berdinding batu tela. Toilet dan kamar mandi itu terletak di pinggir laut, sehingga dari rumah homestay ke toilet harus berjalan kaki ke darat sekitar 50 meter atau 5–10 menit.
Paitua Oto Bosayor juga selalu menegaskan kepada anak-anaknya bahwa hanya mereka yang bekerja yang pantas menerima upah atau sekadar uang jajan. Ia juga membangun salah satu rumah homestay untuk menantunya, Oto Wambrauw, di dekat homestay utama milik Paitua Oto Bosayor. Kebetulan, menantu Oto Wambrauw juga setiap malam rajin balobe (mencari ikan malam hari) untuk konsumsi sehari-hari dan juga dijual kepada para konsumen di ibu kota Distrik Duari, Aisandami.

“Iya, saya biasa tiap malam cari ikan di Teluk Duari,” kata Napi Wambrauw, yang selalu mendampingi tim jubi selama liputan di Teluk Duari sampai ke Kampung Menarbu, Sombokoro, serta Kampung Pulau Mios Yop. Ia juga adalah Koordinator Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin, Tonci Somisa.
Homestay milik Paitua Oto Bosayor merupakan salah satu bagian dari Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin yang berdiri sejak 2018. Kelompok wisata ini mengembangkan wisatanya berbasis konservasi, terutama konservasi tradisional berupa sasi atau dalam bahasa setempat disebut Kadup.
Bersama tim jurnalis jubi.id di Kampung Aisandami, Koordinator Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin, Tonci Somisa, menunjukkan berbagai paket wisata di sana, antara lain: pengamatan burung Cenderawasih di Gunung Papisyowi, trekking ke Air Terjun Mambi, canoeing di hutan mangrove, dan bameti (tradisi memungut ikan, kerang, dan udang saat air laut surut). Selain paket wisata, terdapat juga homestay yang bisa dihuni oleh wisatawan saat berwisata ke Kampung Aisandami.
Terumbu Karang Bunga Mawar dan Bangkai Pesawat Jepang
Salah satu jejak Perang Dunia Kedua di Wondama dan Manokwari ditandai dengan pertempuran sengit di Pulau Numfor sekitar tahun 1944 antara Sekutu Amerika Serikat dan Jepang. Wilayah Pulau Numfor saat itu masuk dalam areal pertempuran Teluk Wondama karena berdekatan dengan Kepulauan Roon, sehingga pesawat tempur milik Jepang, Mitsubishi A6M Zero, tertembak jatuh di Selat Numamura, dekat Kampung Aisandami.
Bersama Koordinator Kelompok Wisata Aisandami, Tonci Somisa menunjukkan lokasi jatuhnya pesawat tempur Zero milik Jepang tersebut. Di sekitar Selat Numamura ini terdapat pula terumbu karang besar menyerupai bunga mawar yang masih terawat dengan baik di lokasi jatuhnya pesawat tersebut.

“Memang puing-puing pesawat sudah tidak utuh lagi dan terletak pada kedalaman sekitar 12 meter,” kata Tonci Somisa seraya menambahkan bahwa waktu terbaik untuk menyelam di Selat Numamura adalah siang hari, karena berkaitan dengan pantulan cahaya matahari di kedalaman 20 meter serta kondisi arus laut.
Napi Wambrauw yang turut menyelam mengaku bahwa arus di bawah Teluk Numamura cukup kuat, dan banyak ikan-ikan besar bermain di sekitar terumbu karang bunga mawar dan terumbu karang berbentuk panci besar.
Bagi para penyelam, lokasi ini sangat cocok untuk wall dive dan menikmati sensasi arus laut di dalamnya.
Bangkai pesawat milik Jepang terletak pada kedalaman sekitar 12 meter di tubir karang keras. Selain itu, terdapat pula ikan terumbu besar seperti bumphead parrotfish (Bolbometopon muricatum). (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post