Jayapura, Jubi – Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) adalah salah satu jenis penyu yang sangat terancam punah. Spesies ini termasuk dalam familia Cheloniidae dan dikenal karena keunikannya: sering bermain di terumbu karang.
“Penyu sisik ini sangat terancam di dunia. Uniknya, mereka sering bermain di terumbu karang. Karena terumbu karang di Teluk Wondama masih cukup baik, kita masih sering melihat mereka di sana,” kata Yusup Adrian Jantewo, pakar biodiversitas dan perikanan yang pernah bekerja bersama WWF Indonesia, kepada jubi.id di Manokwari, Senin (26/5/2025).
Yusup menambahkan bahwa di wilayah Manerbu, Distrik Pulau Roon, dan sekitarnya, penyu sisik masih sering dijumpai di terumbu karang. Hal ini diamini oleh Oto Bosayor, tokoh adat dari Kampung Aisandemi, Distrik Teluk Duairi, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. “Kami menyebut penyu ini ‘wau’ dalam bahasa Kepulauan Roon, mirip dengan sebutan di suku Byak,” katanya.
Saat tim jubi.id melakukan liputan ke Kampung Aisandami, mereka menemukan kerangka bagian bawah kulit penyu di pantai Kampung Sobey Indah. “Oh, itu penyu sisik,” kata Tonci Somisa, Ketua Kelompok Ekowisata Kampung Aisandami.
Tonci menjelaskan, penyu sisik memiliki bentuk kepala kecil meruncing seperti paruh burung, yang membedakannya dari penyu lainnya. “Mulut kecilnya memudahkan mereka menjangkau celah-celah terumbu karang untuk mencari makan,” ujarnya.
Mengutip 1001indonesia.net, penyu sisik dewasa biasanya memiliki berat 45–90 kilogram dan panjang sekitar 0,5–1 meter, sehingga tergolong spesies penyu kecil. “Karena kecantikan karapasnya, penyu sisik dianggap paling indah di antara spesies penyu lainnya. Namun, hal ini pula yang membuat populasinya menurun drastis—dalam 100 tahun terakhir, jumlahnya diperkirakan turun hingga 90 persen,” tulis 1001indonesia.net.
23 Mei, Hari Penyu Sedunia
Mengutip www.worldturtleday.org, Hari Penyu Sedunia atau World Turtle Day telah diperingati setiap 23 Mei sejak diluncurkan oleh American Tortoise Rescue (ATR) pada 2000.
“Saya mendirikan Hari Penyu Sedunia bersama suami saya, Marshall, untuk memuja, mendidik, dan melindungi penyu serta kura-kura. Hari ini menjadi pengingat tentang habitat mereka yang hilang di seluruh dunia dan cara-cara yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan makhluk-makhluk menakjubkan ini,” kata Susan Tellem, pendiri ATR dan Hari Penyu Sedunia.
Susan Tellem dan Marshall Thompson mendirikan ATR pada 1990 sebagai organisasi penyelamatan nasional pertama untuk penyu dan kura-kura di AS. Mereka mendorong perlakuan manusiawi terhadap semua hewan, termasuk reptil. Sejak 1990, ATR telah menempatkan sekitar 4.000 kura-kura dan penyu di rumah-rumah perawatan dan membantu penegakan hukum saat kura-kura atau penyu langka disita.
“Makhluk lembut ini telah ada selama 260 juta tahun, tetapi kini cepat menghilang akibat penyelundupan, industri makanan eksotis, perusakan habitat, pemanasan global, dan perdagangan hewan peliharaan yang kejam. Ini adalah masa yang sangat menyedihkan bagi kura-kura dan penyu di dunia,” kata Susan Tellem. (*)




Discussion about this post