Sorong, Jubi – Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu meninjau pembangunan talud yang berada di wilayah Kilometer 8, Kota Sorong pada Kamis (1/5/2025). Kawasan pembangunan talud itu, selama ini merupakan wilayah rawan banjir.
Pembangunan talud tersebut sebagai upaya Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menanggulangi banjir yang sering terjadi di Kota Sorong, ibu kota provinsi Papua Barat Daya.
Ketika diwawancara wartawan di lokasi, Elisa Kambu mengatakan pembangunan talut itu merupakan bagian dari langkah strategis untuk mengurangi risiko banjir di daerah tersebut.
Katanya, masalah banjir di Kota Sorong tidak hanya di satu titik, namun terjadi di beberapa wilayah sehingga memerlukan pendekatan terintegrasi.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Gubernur Papua Barat Daya juga menyinggung pentingnya sinergi antartingkat pemerintahan, serta peran penting Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan pemerintah provinsi dalam mendukung pembiayaan. Hanya saja, pembebasan lahan menjadi tantangan tersendiri yang perlu ditangani Pemerintah Kota Sorong.
“Kolaborasi dengan APBN dan [kebijakan pemerintah] provinsi sangat memungkinkan untuk disinergikan. Namun masalah utama kini adalah pembebasan lahan. Itu merupakan kewenangan dan tanggung jawab wali kota, agar sepanjang aliran kali dan kanal bisa ditata dengan baik, termasuk relokasi penduduk yang tinggal di sekitarnya,” kata Elisa Kambu.
Gubernur Kambu juga menyinggung target jangka panjang pemerintah dalam menuntaskan persoalan banjir. Menurutnya masalah itu dapat diselesaikan dalam 10 tahun kedepan, jika pengelolaan anggaran dan komitmen bersama terus ditingkatkan.
“Dengan anggaran yang ada, target jangka panjang sepuluh tahun saya rasa bisa kita selesaikan,” ucapnya.
Katanya, upaya pembenahan kota bebas banjir di Kilometer 8 merupakan langkah awal yang baik. Akan tetapi harus disadari bahwa banjir tidak hanya terpusat di lokasi itu, melainkan menyebar di banyak titik. Karenanya, penting untuk berpikir jangka panjang dan menyeluruh.
Menurutnya, pembangunan talud di Kilometer 8 dapat menjadi sampel untuk pengembangan infrastruktur serupa di kawasan lain seperti Kilometer 10 dan Kilometer 14.
“Kita harap, [dengan] niat baik kita semua, ini bisa sukses. Kalau ruas ini bisa kita tangani, maka ada peluang untuk diperluas ke titik-titik lainnya,” katanya.
Sebagai langkah konkret jangka pendek, Gubernur Papua Barat memerintahkan agar alat berat disiagakan di sekitar kawasan untuk menangani tumpukan sedimen dan sampah di aliran sungai.
Gubernur juga mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan kota, dengan tidak membuang sampah sembarangan yang dapat memperparah kondisi banjir.
“[Masalah di] kota ini bukan hanya soal banjir, tapi juga soal taman, sampah, RTH (ruang terbuka hijau), dan keamanan. Kalau kita tidak ubah mindset, kita akan terus terdampak. Pemerintah sudah siapkan tempat sampah, tinggal bagaimana masyarakat berkomitmen. Mari kita jaga kota kita kebersihannya, keamanannya, dan keindahannya,” ucapnya.
Elisa Kambu mengatakan, perubahan tidak bisa hanya datang dari pemerintah, namun butuh keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
“Tidak ada yang tidak bisa. Semua bergantung [pada] komitmen kita untuk menerapkan budaya bersih dan tidak membuang sampah sembarangan,” katanya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















Discussion about this post