• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Pasifik

Papua Nugini Butuh Perjanjian Antikorupsi untuk Atasi Kemiskinan, Bukan Pakta Pertahanan

October 9, 2025
in Pasifik
Reading Time: 2 mins read
0
Penulis: Dominggus A. Mampioper - Editor: Alberth Yomo
Papua Nugini

Permukiman kumuh dan pusat gang Rascol di ibu kota Port Moresby – Jubi/RNZ Pasifik

0
SHARES
8
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Seorang advokat tata kelola dan kepemimpinan, Reginald Renagi, mengecam para pemimpin dan pemerintahan Papua Nugini (PNG) karena dinilai gagal memperbaiki sistem yang membuat rakyat terus hidup dalam kesulitan.

PNG baru saja memperingati 50 tahun kemerdekaannya bulan lalu, dengan perayaan besar-besaran yang digambarkan sebagai “pesta rakyat penuh suka cita”. Namun, Renagi menilai euforia itu menutupi kenyataan pahit bahwa banyak warga masih terjebak dalam kemiskinan. Demikian dikutip jubi.id dari laman internet RNZ Pasifik, Kamis (9/10/2025).

Dalam pidato Hari Kemerdekaan pada 16 September, Perdana Menteri James Marape mengakui bahwa negerinya masih menghadapi banyak kekurangan.

IMG 20230313 161524 scaled
Pusat kota Vanimo, Provinsi West Sepik, di tapal batas Wutung, Kota Jayapura – Jubi/DAM

“Saya akui dalam kemajuan kita selama 50 tahun terakhir, masih banyak kantong kemiskinan, keterisolasian, dan wilayah-wilayah yang belum terhubung satu sama lain,” kata Marape.

*****************

Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.

CLICK HERE!

*****************

Namun dalam surat kepada editor yang diterbitkan Post-Courier, Kamis (9/10/2025), Renagi menulis bahwa setelah setengah abad berdiri, PNG “masih terjebak dalam kemiskinan, korupsi, dan tata kelola yang buruk.”

“Kenyataan menyedihkan adalah bahwa PNG kini menjadi negara yang gagal – dikhianati oleh para pemimpin dan lembaganya sendiri,” tulisnya.

Menurutnya, musuh terbesar bangsa itu bukanlah tentara asing, melainkan korupsi dan kemiskinan. Dua hal inilah yang, katanya, telah melumpuhkan perekonomian, melemahkan lembaga negara, dan menghancurkan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan nasional.

BERITATERKAIT

Papua Nugini butuh dana besar perangi polio

Standar Jurnalisme di Papua Nugini butuhkan pelatihan dan dukungan hukum

Warga Papua Nugini wajib setor jaminan US$15.000 untuk masuk AS

Regulasi baru untuk sektor kelistrikan Papua Nugini

Renagi menuding miliaran dolar telah hilang akibat penyuapan, proyek bayangan, dan pencucian uang yang merugikan rakyat biasa. Awal bulan ini, Gubernur Bank PNG memperingatkan bahwa negara itu berisiko masuk dalam “daftar abu-abu” Gugus Tugas Aksi Keuangan (FATF) – lembaga global yang memantau praktik pencucian uang – paling cepat awal tahun depan.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Ia juga menyinggung Perjanjian Pukpuk, pakta pertahanan antara PNG dan Australia, yang menurutnya tidak menjawab persoalan utama negara itu.

“PNG tidak butuh pakta pertahanan, tetapi perjanjian antikorupsi – untuk melacak, mengungkap, dan memulihkan dana publik yang dicuri dan disembunyikan di luar negeri,” ujarnya.

Renagi menambahkan, Australia telah memiliki sistem intelijen keuangan dan lembaga antikorupsi yang kuat, dan bisa membantu PNG mengidentifikasi pelaku penjarahan sumber daya nasional serta membawa mereka ke pengadilan.

Menurut Indeks Persepsi Korupsi Transparency International, PNG menempati peringkat 127 dari 180 negara, sejajar dengan beberapa negara paling korup di dunia. PNG memperoleh skor 31 dari 100 dalam persepsi tingkat korupsi sektor publik—penilaian berdasarkan pandangan para ahli dan pelaku bisnis.

Dengan populasi sekitar 11 juta jiwa, PNG memiliki tingkat kemiskinan yang signifikan: sekitar separuh penduduk hidup dengan kurang dari US$3,65 per hari. Menurut laporan Save the Children dan Bank Dunia, sekitar 71,1 persen penduduk hidup dalam kemiskinan, dengan keterbatasan akses listrik, pendidikan rendah, serta tingginya biaya hidup dan pengangguran. Kondisi ini memperparah kerawanan pangan dan kekerasan sosial.

IMG 20230313 035758
Pedagang asongan anak-anak di jantung ibu kota Port Moresby – Jubi/DAM

Renagi menyerukan reformasi besar-besaran untuk membalikkan keadaan, termasuk pembatasan masa jabatan perdana menteri, sistem merit dalam pengangkatan pejabat publik, serta kerja sama dengan Australia untuk memulihkan dana yang dicuri.

“Perjanjian pertahanan dengan Australia tidak akan melindungi PNG dari musuh yang sebenarnya. Korupsi telah merusak bangsa ini lebih parah daripada ancaman eksternal mana pun,” tegasnya.

Parlemen PNG sebenarnya telah mengesahkan Undang-Undang Antikorupsi pada November 2020 yang melahirkan Komisi Independen Antikorupsi (ICAC), sekitar 18 bulan setelah Marape menjabat.
Pada Juni lalu, Marape menegaskan, “Komitmen kami untuk memerangi korupsi tetap teguh.” (*)

Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

Continue Reading
Tags: kemiskinanPapua NuginiPerjanjian Antikorupsi
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

April 4, 2026
Kaledonia Baru

UU Reformasi konstitusi Kaledonia Baru ditolak Majelis Nasional Prancis

April 4, 2026

Kepulauan Solomon dan Inggris buat MoU Tata Kelola Hutan

April 2, 2026

Layanan token listrik Papua Nugini pulih

April 2, 2026

Bagaimana negara kepulauan Pasifik menangani krisis BBM

April 2, 2026

Discussion about this post

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara