Jayapura, Jubi – Di jantung Malaita Utara, masyarakat Ofu di wilayah Bita’ama memberikan contoh kuat bagi Kepulauan Solomon, wilayah Pasifik, dan dunia dalam hal konservasi keanekaragaman hayati.
Hal ini tergambar melalui keberhasilan penerapan proyek yang dipimpin masyarakat: Proyek Konservasi Keanekaragaman Hayati Bita’ama. Inisiatif ini tidak hanya merevitalisasi lingkungan alami teluk mereka, tetapi juga memperkuat tradisi budaya, meningkatkan sanitasi, dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Demikian dikutip dari www.solomonstarnews.com, Senin (9/6/2025).
Inti dari proyek ini adalah menghubungkan kembali masyarakat dengan daratan dan lautan yang menopang kehidupan mereka—memulihkan keanekaragaman hayati, menghargai pengetahuan tradisional, dan berinvestasi pada masa depan.

Mulai dari penanaman kembali pohon-pohon asli seperti ngali-nut, sukun, dan bambu, hingga pelestarian kehidupan laut penting seperti ikan kakatua (parrotfish), proyek ini mencerminkan pendekatan holistik terhadap konservasi yang berakar pada budaya, mata pencaharian, dan keberlanjutan.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Kami selalu hidup dari daratan dan lautan, tetapi sekarang kami lebih memahami cara melindunginya untuk generasi mendatang,” kata Lovelyn Sauna, Koordinator Komunitas proyek tersebut. “Masyarakat kami sekarang tidak hanya menghargai lingkungan, tetapi juga tradisi budaya yang mendalam yang terkait dengan hasil panen kami seperti kacang ngali dan sukun, pantai kami, dan terumbu karang kami. Proyek ini telah membangkitkan kesadaran itu,” tambahnya.
Pencapaian utama proyek ini meliputi:
- Reboisasi spesies lokal dan asli, termasuk kacang ngali, sukun, bambu, bakau, dan talas rawa.
- Konservasi keanekaragaman hayati laut, khususnya ikan kakatua, spesies penting bagi kesehatan terumbu karang.
- Pelestarian dan pembersihan sungai untuk menjaga keanekaragaman hayati air tawar.
- Pendirian Situs Demonstrasi di Ofu serta Rumah Pengolahan dan Pengawetan Kacang Ngali, yang kini menjadi mesin ekonomi dan berkembang sebagai objek wisata.
- Pemasangan 30 toilet flush di 30 rumah tangga (beberapa telah terpasang), yang secara signifikan meningkatkan sanitasi dan kesehatan masyarakat.
Selama pelaksanaan, proyek ini melibatkan pemangku kepentingan lokal secara aktif, termasuk kelompok gereja, pemilik tanah adat, kelompok perempuan dan pemuda, serta anggota masyarakat lainnya. Kolaborasi ini tidak hanya menumbuhkan rasa kepemilikan, tetapi juga mentransfer keterampilan teknis dan pengetahuan konservasi guna memberdayakan pengelolaan lokal.
Hasilnya, warga kini menyadari nilai ekonomi dari makanan tradisional mereka dan pentingnya mengelola kawasan lindung laut serta ekosistem air tawar secara berkelanjutan. Kebangkitan kembali pengolahan kacang ngali, yang dulunya menjadi bagian penting dalam upacara adat dan pesta masyarakat, juga telah memperkuat kebanggaan budaya dan pengetahuan antargenerasi.
Ke depan, masyarakat mengambil langkah-langkah untuk memastikan keberlanjutan proyek. Rencana sedang disusun untuk membentuk komite manajemen proyek khusus atau mendelegasikan pengawasan kepada Komite Tanah Suku yang ada, guna memastikan perlindungan dan pertumbuhan jangka panjang dari inisiatif yang dipimpin masyarakat ini.
Proyek Konservasi Keanekaragaman Hayati Bita’ama lebih dari sekadar upaya konservasi—ini adalah gerakan yang dipimpin masyarakat untuk melindungi lingkungan mereka, melestarikan budaya mereka, dan membangun masa depan yang berkelanjutan.
Program Hibah Kecil (Small Grants Programme – SGP) merupakan program unggulan dari Fasilitas Lingkungan Global (Global Environment Facility – GEF) yang dilaksanakan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) sejak 1992. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua














Discussion about this post