Jayapura, Jubi – Kepulauan Solomon dan China menandatangani perjanjian pada Kamis 7 November di Honiara, untuk membebaskan warga negara kedua negara dari persyaratan visa perjalanan.
‘Perjanjian tentang Pembebasan Visa Bersama bagi Warga Negara Pemegang Paspor Biasa’ ditandatangani oleh Duta Besar Tiongkok Cai Weiming dan Menteri Luar Negeri Kepulauan Solomon Peter Shanel Agovaka, dan disaksikan oleh Perdana Menteri Jeremiah Manele, kata Kedutaan Besar Tiongkok di Kepulauan Solomon. Demikian dikutip Jubi.id dari Rnz.co.nz, Jumat (8/11/2024).
Cai mengatakan penandatanganan penghapusan visa, merupakan tonggak sejarah lainnya, dalam hubungan bilateral kedua negara.
Ia mengatakan hal itu akan berkontribusi pada kontak antarmasyarakat, dan selanjutnya meningkatkan kerja sama dan persahabatan antara Beijing dan Honiara.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Manele mengatakan bahwa perjanjian itu akan memungkinkan warga negara untuk bepergian dengan bebas, mendorong pertukaran budaya dan meningkatkan saling pengertian antara kedua negara, menurut Tavuli News.
“Pada tahun 2022, saya berkesempatan untuk menandatangani perjanjian tentang perjanjian visa bersama bagi pemegang paspor diplomatik, paspor dinas, dan paspor dinas saat menjabat sebagai menteri luar negeri dan perdagangan luar negeri,” katanya.
“Upacara penandatanganan hari ini (Kamis, 7/11/2024) merupakan kemajuan, yang memungkinkan warga negara biasa untuk bepergian dengan bebas, mempelajari budaya masing-masing, serta meningkatkan pengertian dan rasa hormat,” katanya.
Mengutip thediplomat.com hubungan diplomatik antara Kepulauan Solomon dan China, yang terjalin lima tahun lalu, telah memberi pengaruh besar terhadap pembangunan, ekonomi, dan lanskap politik negara tersebut.
Peringatan ini merupakan waktu yang tepat untuk mengkaji lintasan hubungan ini, peristiwa-peristiwa penting, dan dampaknya terhadap Kepulauan Solomon sambil juga mempertimbangkan perubahan politik terkini dan implikasi yang lebih luas, bagi masa depan negara ini.
Kepulauan Solomon, yang terletak di Samudra Pasifik bagian barat daya, adalah negara kepulauan yang terdiri dari enam pulau besar dan lebih dari 900 pulau kecil. Evolusi negara ini dibentuk oleh keterpencilan geografisnya, keterbatasan infrastruktur, dan ketergantungan pada sumber daya alam.
Perekonomian nasional utamanya berbasis pada pertanian, kehutanan, dan perikanan, dengan sektor-sektor ini menyediakan mata pencaharian bagi sebagian besar penduduk.
Namun, negara ini menghadapi tantangan seperti keterbatasan akses ke pasar internasional, kerentanan terhadap bencana alam, dan ketidakstabilan politik, yang semuanya telah menghambat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang konsisten.
Hubungan historis dengan Taiwan
Dari 1983 hingga 2019, Kepulauan Solomon menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Tiongkok, yang juga dikenal sebagai Taiwan.
Selama periode ini, Taiwan memberikan bantuan substansial kepada Kepulauan Solomon, termasuk proyek infrastruktur, beasiswa pendidikan, dan bantuan medis. Hubungan ini merupakan bagian dari strategi Taiwan yang lebih luas untuk mempertahankan pengakuan internasional dalam menghadapi pengaruh global Republik Rakyat Tiongkok yang semakin besar.
Hubungan Kepulauan Solomon-Taiwan ditandai dengan kunjungan tingkat tinggi dan kerja sama bilateral yang sering, yang menekankan pentingnya kemitraan bagi kedua negara.
Namun, seiring meluasnya pengaruh global Tiongkok, posisi diplomatik Taiwan melemah. Pada September 2019, Kepulauan Solomon memutuskan untuk memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Taiwan dan menjalin hubungan formal dengan Tiongkok.
Pergeseran ini sejalan dengan tren yang lebih luas di antara negara-negara Pasifik yang mengevaluasi kembali hubungan diplomatik mereka dengan Taiwan demi Tiongkok. Kiribati meninggalkan Taiwan untuk menjalin hubungan dengan Tiongkok pada bulan yang sama dengan Kepulauan Solomon; Nauru mengikutinya pada Januari 2024.
Hubungan dengan Taiwan telah memberikan manfaat bagi Kepulauan Solomon dalam beberapa hal. Dukungan Taiwan meliputi bantuan keuangan untuk proyek pembangunan, bantuan teknis di bidang pertanian dan perikanan, serta layanan kesehatan, khususnya di daerah pedesaan dan terpencil. Bantuan ini membantu mengatasi beberapa kebutuhan penting Kepulauan Solomon dan berkontribusi pada upaya pembangunan negara tersebut. Akan tetapi, sumber daya dan pengaruh Taiwan terbatas dibandingkan dengan Tiongkok yang semakin kuat dan mendominasi dunia. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua














Discussion about this post