Sentani, Jubi – Partisipasi warga dalam mengurus kartu tanda penduduk atau KTP elektronik, terbilang tinggi di Kabupaten Jayapura. Warga menyadari KTP sangat dibutuhkan untuk mengakses sejumlah layanan publik.
Bertha Diawaitou, 24 tahun, warga Depapre mengatakan mereka harus memiliki KTP karena khawatir dibutuhkan sewaktu-waktu. Itu sebabnya dia mendatangi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Jayapura untuk mengambil KTP milik adiknya, yang telah selesai dicetak petugas.
“Adik lagi hamil. Takutnya nanti ditanyakan KTP-nya saat hendak melahirkan di rumah sakit ataupun puskesmas,” kata Diawaitou kepada Jubi.id, saat mengantre di Disdukcapil Kabupaten Jayapura, Senin (18/11/2024).
Adik Diawaitou merekam data kependudukannya pada pekan lalu. Namun, Diawaitou baru sempat mengambil KTP-nya pada Senin lalu.
Berdasarkan data Disdukcapil Kabupaten Jayapura, perekaman data untuk KTP elektronik mencapai 139.300 orang. Jumlah itu setara 98,57 persen warga wajib KTP di Kabupaten Jayapura.
Sebanyak 137.277 dari 139.300 warga tersebut telah menerima cetakan KTP masing-masing. Dengan demikian, tingkat kepemilikan KTP elektronik mencapai lebih 97 persen dari seluruh warga wajib KTP di Kabupaten Jayapura.
Sekretaris Disdukcapil Kabupaten Jayapura Sarah Nursidah mengatakan antrean warga yang mengurus dokumen kependudukan, kerap membeludak. Mereka pun harus membatasi pencetakan KTP karena menyesuaikan kemampuan mesin pencetak.
“Mesin kami hanya mampu mencetak 50 buah KTP setiap hari. Jika over [lebih 50 buah], [mesinnya] bisa cepat rusak,” kata Sarah, Jumat pekan lalu.
Selain melayani warga di kantor, Disdukcapil Kabupaten Jayapura memiliki program jemput bola dalam kepengurusan dokumen kependudukan. Program tersebut diselenggarakan di pusat keramaian atau iven-iven besar.
“Kami pernah buka pelayanan di Sentani City Square, dan saat Festival Danau Sentani, atau kegiatan keramaian lain. Pelayanannya berlangsung selama satu hingga dua hari,” kata Sarah.
Program jemput bola dalam pengurusan KTP elektronik menerapkan layanan cepat, yakni sehari langsung jadi. Petugas pun sering kewalahan karena pencetakan bisa lebih dari 50 KTP setiap hari.
“Kami susah membatasi pencetakannya. Jadi, kami tinggal menyiasati pemeliharaannya [mesin cetaknya supaya tidak cepat rusak],” ujar Sarah. (*)




Discussion about this post