Jayapura, Jubi – Pakar ekologi kehutanan dari Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa Foundation) di Manokwari, Dr. Yance de Fretes, menyatakan bahwa aktivitas pembangunan yang tidak ramah lingkungan serta perubahan iklim akan mempercepat hilangnya spesies asli dari keanekaragaman hayati di Tanah Papua.
“Benar, perubahan iklim dan aktivitas pembangunan, termasuk pemekaran wilayah yang tidak mempertimbangkan kelestarian lingkungan, akan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati Papua,” katanya kepada Jubi.id di Manokwari, Senin (26/5/2025).
Ia menambahkan bahwa hilangnya spesies tertentu dapat memicu perubahan lingkungan yang signifikan, termasuk meningkatnya penyakit dan hilangnya tanaman penting bagi kehidupan manusia.

Pernyataan ini disampaikan Dr. Yance dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, yang diperingati setiap 22 Mei. Peringatan ini diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengangkat isu-isu penting seputar keanekaragaman hayati. Tema edisi 2025 adalah “Harmoni dengan Alam dan Pembangunan Berkelanjutan.”
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Dalam pernyataannya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa keanekaragaman hayati merupakan fondasi kehidupan dan pembangunan berkelanjutan. Namun, aktivitas manusia telah menyebabkan kerusakan besar akibat polusi, krisis iklim, penghancuran ekosistem, dan kepentingan jangka pendek yang memicu eksploitasi alam secara tidak berkelanjutan.
“Kehilangan keanekaragaman hayati adalah tantangan global yang tidak bisa diatasi oleh satu negara, betapapun kaya atau kuatnya,” kata Guterres, sebagaimana dilansir Jubi.id dari www.cbd.int/biodiversity-day, Selasa (27/5/2025). “Semua negara harus bekerja sama untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan ini melalui kerangka kerja global Keanekaragaman Hayati Kunming-Montreal.”
Guterres menekankan perlunya kebijakan, peraturan, dan insentif yang mendukung mata pencaharian berkelanjutan serta membangun ekonomi hijau yang kuat. “Negara-negara perlu menyediakan strategi keanekaragaman hayati nasional, mengatasi ketimpangan, memajukan pembangunan berkelanjutan, menghormati pengetahuan tradisional, serta memberdayakan perempuan, anak perempuan, dan masyarakat adat,” tambahnya.
“Seperti tema Hari Internasional tahun ini, hidup dalam Harmoni dengan Alam dan Pembangunan Berkelanjutan adalah jalan umat manusia menuju dunia yang lebih baik bagi semua,” tutup Guterres.
Mengutip Wikipedia, Hari Keanekaragaman Hayati Internasional termasuk dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Agenda Pembangunan Pasca 2015 PBB. Isu keanekaragaman hayati menjadi perhatian penting bagi berbagai sektor: pertanian berkelanjutan, penggurunan, degradasi lahan dan kekeringan, air dan sanitasi, kesehatan, energi, ilmu pengetahuan dan teknologi, transportasi berkelanjutan, perubahan iklim, samudra dan laut, serta ketahanan pangan. Peran penting keanekaragaman hayati diakui dalam dokumen hasil Konferensi Rio+20, “Dunia yang Kita Inginkan: Masa Depan untuk Semua.” (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post