• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Dari Buka Tutup Gurita di Pulau Langkai–Lanjukang, Sulawesi Selatan, hingga Sawora dan Kadup di Teluk Wondama, Papua Barat

September 16, 2025
in Lingkungan, Nasional & Internasional
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Dominggus A. Mampioper - Editor: Alberth Yomo
sistem “Buka Tutup” sebagai wujud kearifan lokal dalam menjaga lingkungan hidup.

Para pemateri dalam diskusi “Masyarakat Pesisir Menjaga Laut, Berdaulat Pangan dan Ekonomi” Sabtu (13/9/2025) di Festival Media (Fesmed) AJI di Benteng Ujung Pandang. Dari kiri: Wahyu Candra (wartawan Mongabay), Prof. Dr. Munsi Lampe, Erwin (kelompok nelayan), Nurjannah (kelompok perempuan), dan Nirwan Dessibali (Direktur YLKI) – Jubi/dam

0
SHARES
4
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Antropolog Maritim Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Munsi Lampe, MA, dalam diskusi bertema “Masyarakat Pesisir Menjaga Laut, Berdaulat Pangan dan Ekonomi” pada Sabtu (13/9/2025) di Festival Media (Fesmed) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Benteng Ujung Pandang, menilai sistem “Buka Tutup” sebagai wujud kearifan lokal dalam menjaga lingkungan hidup.

“Konservasi bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga keberlanjutan sosial dan ekonomi. Perlu ada kelembagaan nelayan, koperasi, industri olahan, serta pendidikan maritim berbasis budaya,” ujarnya kepada jubi.id di sela-sela diskusi.

Ia menambahkan, berbagai upaya perlindungan kawasan laut melalui pembatasan telah lama dilakukan, seperti sasi di Papua dan Maluku, awig-awig di Bali dan Nusa Tenggara, serta keberadaan Panglima Laot di Aceh.

1000598613
Artikel Jubi soal sasi yang juga dibahas dalam diskusi di Fesmed 2025 di Makassar – Jubi/dam

“Sepanjang pengetahuan saya, upaya pembatasan seperti ini jarang dilakukan masyarakat Bugis-Makassar. Sehingga ketika muncul inisiatif untuk melakukannya, ini sangat menarik dan perlu direalisasikan,” katanya. Ia menambahkan, masyarakat Bugis-Makassar sejak dulu sulit melakukan pembatasan, kemungkinan karena pengaruh pengusaha Tionghoa yang kapitalistik. “Mereka terbiasa mencari ikan dalam jumlah besar karena tingginya permintaan pasar dan faktor harga,” tambahnya.

*****************

Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.

CLICK HERE!

*****************

Praktik Buka Tutup di Lanjukang

Sejak 2022, masyarakat Pulau Lanjukang menerapkan sistem buka tutup di area tangkap gurita. Ketua Forum Passibuntuluki, Erwin – mantan pengguna bom ikan dan obat bius – mengakui perlunya cara tangkap ramah lingkungan.

“Saya menyadari mencari ikan dengan bahan peledak justru merusak ekosistem dan terumbu karang. Dulu hanya 1–2 mil dari pantai sudah dapat gurita, tetapi sekarang harus 6–7 mil baru bisa dapat. Kami belajar dari praktik di Wakatobi dengan bantuan Yayasan Konservasi Laut Indonesia,” kata Erwin.

Menurutnya, dalam satu tahun biasanya ada tiga lokasi buka tutup, masing-masing seluas 600 meter persegi. Meski program awal gagal, program keempat dan kelima menunjukkan hasil positif. “Dalam satu sesi, 20 nelayan bisa menangkap lebih dari 50 kilogram gurita hanya dalam waktu 1,5 jam,” ujarnya.

BERITATERKAIT

Bisnis berbasis Kearifan Lokal mengangkat model ekonomi adat Papua ke Pasar internasional

Pokja adat MRP dukung kearifan lokal sasi perlu dibuat perda

Warga Kampung Tua Depapre rencanakan gelar Tiyatiki, upacara tutup laut

Penelitian menunjukan 60 persen terumbu karang di Fiji terpengaruh suhu laut

Inovasi juga datang dari kelompok Merpati Putih di bawah pimpinan Nurjannah. Ia mengatakan, praktik buka tutup gurita dulunya hanya melibatkan laki-laki. “Sekarang perempuan juga mau terlibat, terutama mengolah hasil laut setelah konservasi. Kami membuat abon ikan dan sambal gurita,” katanya. Menurutnya, gurita dengan grade rendah lebih banyak diolah karena grade A dan B harganya mahal dan cepat laku di pasaran.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Nilai Ekonomi Gurita

Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Laut Indonesia (YLKI), Nirwan Dessibali, menegaskan konservasi harus berbasis sosial, ekologi, dan ekonomi. “Gurita ini spesies unik, cepat tumbuh, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Kami ingin masyarakat merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, gurita justru cukup tahan terhadap praktik tangkap destruktif. “Gurita cepat lari dan bisa bertahan lama, sehingga perlu pengelolaan yang benar,” tambahnya.

Sawora dan Kadup di Teluk Wondama

Apa yang terjadi di Lanjukang juga dialami masyarakat di Kampung Sombokoro, Pulau Mios, dan Aisandami, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Mama-mama di Kampung Sombokoro mengaku sejak 1980-an ikan mudah didapat, namun setelah tahun 2000-an, mereka harus mendayung lebih jauh ke laut untuk mendapatkannya.

Kondisi itu membuat warga kembali mengelola lingkungan dengan sistem sasi, atau dalam bahasa setempat disebut Sawora dan Kadup. Tak heran jika masyarakat yang melakukan sasi bisa memperoleh hasil melimpah dan meningkatkan pendapatan.

Tradisi yang Harus Dijaga

Prof. Munsi Lampe menegaskan, inti dari semua praktik ini adalah bukti nyata yang dirasakan masyarakat. “Mereka yang dulunya pelaku destructive fishing, kini berubah total menjadi anti-bom dan anti-bius,” katanya.

Ia menilai sistem buka tutup di Langkai dan Lanjukang adalah program bagus yang bisa diikuti nelayan di pulau lain. Menurutnya, tradisi sasi di Papua dan Maluku sudah berlangsung turun-temurun. Karena itu, kelembagaan lokal dan peran pemimpin adat harus terus diperkuat agar praktik ini terjaga selamanya. (*)

Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

Continue Reading
Tags: Kearifan LokalLingkungan Hidup
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

KontraS

Koalisi desak presiden perintahkan tangkap pelaku teror terhadap aktivis KontraS

March 17, 2026
KontraS

Aktivis disiram air keras, KontraS desak pelaku diusut

March 14, 2026
Tanah Papua

Gereja mesti tegas terhadap krisis tanah dan lingkungan di Tanah Papua

March 7, 2026

Kain dan cat merah, upaya masyarakat adat Papua jaga paru-paru dunia

March 6, 2026

Dorongan pengakuan wilayah laut adat dan revisi UU Pemda

March 5, 2026

Potensi laut di Tanah Papua luas, tapi sepi peminat

March 4, 2026

Discussion about this post

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara