Sorong, Jubi – Menjaga keseimbangan alam dengan hanya mengambil secukupnya menjadi pesan yang kuat dalam Gala Premiere film ‘Teman Tegar Maira’ di Cinema XXI Ramayana Mall, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (15/1/2026). Film produksi Aksa Bumi Langit ini mengangkat perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan hutan sebagai ruang hidup dari ancaman deforestasi.
Disutradarai oleh Anggi Frisca, film ini mengisahkan pertemuan antara Tegar (M. Aldifi Tegarajasa), seorang anak kota dengan keterbatasan fisik, dan Maira (Elisabeth Sisauta), gadis masyarakat adat Papua. Keduanya memulai petualangan dan melindungi hutan adat dari ekspansi perusahaan besar.
“Papua adalah masa depan. Melalui film ini, kita belajar kembali cara hidup yang benar dari masyarakat adat yang mampu beradaptasi dengan alam,” ujar Anggi.
Latar film yang mengambil lokasi di Kabupaten Kaimana, Papua Barat, menyuguhkan visual lanskap tutupan hutan yang alami, lembah, hingga kekayaan hayati yang masih terjaga. Proses produksi film ini memakan waktu dua tahun dengan melibatkan 60 persen kru dari masyarakat lokal.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, yang membuka langsung acara tersebut memberikan apresiasi. Menurutnya, film merupakan media edukasi yang jauh lebih efektif daripada sekadar tulisan dalam mensosialisasikan nilai kearifan lokal Papua ke kancah global.
“Ini bukan hanya untuk kita di Papua, tapi pesan bagi seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia. Bagaimana masyarakat adat berkontribusi nyata menjaga keberlanjutan ekosistem. Kami berterima kasih kepada tim film Maira yang mengangkat isu lingkungan ini,” tutur Ahmad Nausrau.
Produser film, Chandra Sembiring, menjelaskan bahwa ‘Maira’ merupakan sekuel atau pengembangan dari film ‘Tegar’ sebelumnya yang mengusung isu inklusivitas. Kali ini, fokus dialihkan pada krisis iklim (climate crisis). “Kami ingin pesan tentang krisis iklim ini bisa ‘dikunyah renyah’ oleh penonton, sehingga memicu gerakan-gerakan kecil untuk menjaga bumi,” katanya.
Namun, di balik keindahan visualnya, film ini juga memicu diskusi kritis mengenai realita di Tanah Papua. Perwakilan NGO Bentang Alam Papua, Sabonnama Riantoby mengingatkan bahwa ancaman eksploitasi nikel dan sawit di di Papua Barat Daya, seperti di Raja Ampat, yang meninggalkan konflik bagi warga lokal.
“Masyarakat adat Papua bisa mempertahankan kedaulatan lingkungan dengan cara mereka sendiri. Saya mengajak pemerintah dan NGO untuk berkolaborasi secara nyata, bukan sekadar seremonial atau mencari donor, tapi demi output jangka panjang bagi tanah Papua,” kata Sabonnama.
Tokoh masyarakat adat Sorong, Tori Kalami menilai film ini adalah cermin kondisi Indonesia saat ini. “Masyarakat adat sudah punya konsep mitigasi dan pengetahuan tradisional dalam menjaga ruang hidupnya. Sekarang pertanyaannya, apakah pemerintah punya konsep yang sama untuk melindungi kami?” ujarnya.
Gala premiere ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat Pemprov Papua Barat Daya, akademisi, serta perwakilan organisasi lingkungan. Setelah penayangan perdana di Sorong, film ‘Maira’ dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026 mendatang.(*)
Untuk melihat lebih banyak content JUBI TV, click here!




Discussion about this post