Manokwari, Jubi – Komunitas Kopi di Manokwari Papua Barat menggelar kompetisi Manokwari Battle Manual Brew 2024, melibatkan 24 peserta dari berbagai Cafe di Manokwari dan utusan dari Nabire Papua Tengah.
Dalam kurun waktu 4 Tahun belakangan, komunitas Kopi menggelar festival mencari bakat barista.
“Sudah empat tahun ini kita terus menggelar Festival Kopi. Kali ini sebanyak 24 peserta dari berbagai Cafe di Manokwari,” kata Ichal pengelola Panitia sekaligus pengelolah Veet Cafe, Sabtu (7/12/2024).
Festival ini merupakan dukungan dari berbagai pihak termasuk pengusaha atau pengelola Cafe di Manokwari dan beberapa pihak lainya.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Kompetisi ini sei pertama sistem gugur , peserta diuji kemampuannya, kemudian hasil kopi dinilai oleh juri yang terdiri dari pakar kopi hingga akademisi di bidang pertanian, lalu pada sesi kedua peserta diuji lagi hingga mendapat yang terbaik,” kata Ichal.
“Pola penilaian juri , meliputi rasa aroma yang seimbang,” katanya lagi
Dance alias Agung Nurcahyo dari Rock house, salah satu peserta yang lolos ke tahap selanjutnya mengaku yang dia lakukan adalah sajian kopi secara manual dengan alat yang disediakan.
“Tadi kita pakai alat V60, kemudian hasil seduhan yang dinilai oleh juri,” kata Agung
Agung menyebut kopi yang dipakai dalam kompetisi yakni Kopi Arabika Bali dan Aceh yang digabungkan.
“Kalau tahap pertama jenis kopi ditentukan oleh panitia, tapi selanjutnya ditahap berikutnya peserta bawa kopi jenis Arabika, terutama kopi lokal untuk lebih banyak kita mengenal kopi Papua,” kata Agung yang mengaku ini merupakan hobi yang selama ini dia tekuni.
Peserta yang memenangkan kompetisi ini selain mendapat uang tunai juga mendapat sertifikat dan juga piagam penghargaan dari komunitas Kopi.

Ketua Komunitas Kopi Papua Barat Roland Rawiyai, mengaku festival semacam ini menjadi ajang mencari bakat SDM di bagian perkopian. Dia berharap partisipasi generasi muda Papua dalam kegiatan tersebut.
Rawiyai mengatakan kopi yang tumbuh subur di Papua, terutama di Pegaf dan Manokwari Papua Barat menjadi salah satu komoditas yang belum banyak dilirik anak muda. Padahal lahan dan alamnya sangat mendukung
Menurut dia perbedaan kopi di Papua Barat dan daerah lain, dikenal lewat aroma dan rasa.
“Untuk membedakan Kopi di Papua Barat dengan Kopi di luar Papua Barat yakni karakteristik dan rasa yang mewakili alam tempat kopi itu ditanam,” kata Ketua Komunitas Kopi Papua Barat Roland Rawiyai.
Tanaman Kopi Jenis Arabika di Papua Barat tumbuh dan juga ditanam oleh petani di daerah seperti Kabupaten Pegunungan Arfak dan dataran di Distrik Warmare Kabupaten Manokwari Papua Barat. Meskipun sejauh ini petani Kopi belum begitu banyak seiring menjawab permintaan pasar baik didalam Wilayah Papua Barat maupun di luar.
“Kopi di Papua Barat memiliki rasa manis yang tinggi dan aroma buah dan bunga yang menonjol serta rasa asam yang cukup ini yang membedakan Kopi disini dengan kopi di Daerah lain dan memiliki harga pasaran yang tinggi,” ucap Rawiyai.
“Saat ini untuk kebutuhan kopi di Manokwari belum memenuhi sangat sedikit akhirnya banyak kopi dari luar seperti Toraja, Sumatera Bali NTT dan lain-lain,” katanya.
Raweyai mengaku, sebagai Rostri, dia membutuhkan kopi selama satu tahun bisa sebanyak setengah hingga 1 ton, untuk menjawab kebutuhan permintaan.
“Kebutuhan Cafe di Manokwari dalam setahun itu lebih dari 20 Ton. Sangat tinggi permintaan. Sehingga saya berharap kebutuhan kopi lokal tinggi dengan banyak petani sadar menanam kopi,” katanya.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















Discussion about this post