Merauke, Jubi – Di tengah hiruk-pikuk kawasan industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tempat deru mesin pabrik menjadi irama harian, tiga remaja asal Kabupaten Merauke, Papua Selatan, bertahan hidup demi sebuah tekad: melanjutkan pendidikan dan menggapai cita-cita.
Mereka adalah Koleta Kambe Dumbon, Maria Sance Gerin Jupyo, dan Gabriel Kamuyop Kombakay. Anak-anak asli Papua Selatan ini menjalani hidup di tanah rantau, jauh dari orang tua dan kampung halaman. Di balik senyum mereka yang cerah, tersimpan perjuangan sunyi yang tak semua orang tahu.
Mereka tinggal di kompleks perumahan umum Graha Pemerintah Daerah, Jalan Citarum, Cikarang. Koleta dan Maria menempati rumah kontrakan sederhana berukuran sekitar 4×5 meter. Di dalamnya hanya ada satu busa tipis untuk tidur, beberapa alat makan, dan perlengkapan dapur seadanya. Gabriel tinggal di rumah yayasan, tak jauh dari kontrakan kedua temannya.
Koleta adalah siswi kelas XII AX00 2 SMK Binamitra Cikarang Timur. Gadis kelahiran Merauke, 24 November 2006 ini gemar membaca. Ia bercita-cita masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri atau IPDN dan sejak kecil ingin mengabdi di pemerintahan.
Maria, remaja kelahiran Merauke, 2 November 2008, duduk di kelas XI SMK Dharma Paramitha Cikarang Utara dengan jurusan perhotelan. Ia juga memiliki impian menembus IPDN usai lulus nanti.
Gabriel, yang termuda di antara mereka, masih duduk di kelas VI SDN Simpangan 03 Cikarang. Anak kelahiran 2014 ini memiliki mimpi menjadi pemain sepak bola profesional. Teman-temannya menjulukinya “Neymar”. Ia pernah bergabung dengan SSB Beger Bekasi yang menjuarai Piala Soeratin U-13 Askab PSSI Kabupaten Bekasi pada Juni lalu.
Kini Gabriel melanjutkan latihan di sekolah bola Bhayangkara FC. Selain aktif bermain bola, ia juga berprestasi di sekolah dan beberapa kali meraih peringkat di kelasnya.

Menjejak Tanah Jawa
Tahun 2022 menjadi titik balik dalam hidup Koleta, Maria dan Gabriel. Sebuah yayasan memfasilitasi keberangkatan sepuluh anak asal Merauke ke Bekasi untuk melanjutkan pendidikan. Anak-anak ini bagian dari kelompok itu. Mereka mengambil peluang tersebut meski harus menempuh ribuan kilometer ke pulau seberang. Mereka berangkat dengan membawa harapan dan tekad kuat: menimba ilmu di tanah rantau.
Dari ‘Kota Rusa ke Kota Industri’, mereka tidak membawa banyak. Bekal mereka bukan materi, melainkan semangat dan cita-cita. Mereka ingin menamatkan sekolah di tempat yang memiliki fasilitas lebih lengkap, lalu melanjutkan langkah untuk mewujudkan mimpi mereka masing-masing.
Keterbatasan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor pendorong keputusan besar itu. Tanpa banyak gambaran soal kehidupan di kota besar, mereka tiba di Cikarang hanya berbekal harapan dan semangat.
Namun, harapan tidak selalu terwujud baik. Berbeda dengan Gabriel yang masih tinggal di yayasan, Koleta dan Maria harus bertahan hidup sendiri sejak 2023. Mereka tidak lagi ditampung yayasan, dengan alasan yang tak jelas. Sehari-hari, keduanya berjuang mengisi perut dan memenuhi kebutuhan hidup, di samping menjalani kewajiban utama sebagai pelajar.
Saat Jubi berkunjung ke kos mereka di Cikarang, Koleta, Maria, dan Gabriel tampak sumringah. Mereka menyambut dengan senyum dan tawa, seperti anak-anak pada umumnya. Tidak terlihat guratan kesedihan atau beban berat di wajah. Namun, di balik keceriaan itu, tersembunyi perjuangan yang tak ringan – berjuang hidup di tanah rantau demi pendidikan.
“Kami sudah empat tahun di sini sejak 2022. Setelah teman-teman satu per satu keluar dari panti dan pulang ke Merauke, saya dan Maria juga keluar dua tahun lalu. Hanya Gabriel yang masih tinggal di panti,” kata Koleta baru-baru ini.

Bertahan dalam keterbatasan
Sejak keluar dari panti, Koleta dan Maria berjuang hidup sendiri. Saat keluar dari panti itu, mereka ditampung sementara oleh warga asal Kota Jayapura yang bekerja di pabrik Cikarang, dan kebetulan satu gereja dengan mereka.
Untuk makan, mereka mengandalkan bantuan guru, teman sekolah, warga sekitar, dan sesekali kiriman dari orang tua. Beberapa kali juga mereka pindah tempat tinggal karena tidak mampu membayar rumah sewa.
“Selama di sini kami sudah tiga atau empat kali pindah tempat tinggal. Tempat ini yang paling baru. Orang tua kirim uang tidak tentu, kadang Rp500 ribu, kadang lebih. Itu pun dipakai bayar kos dan sekolah,” ujar Koleta.
Ia sadar betul bahwa orang tuanya yang bekerja sebagai petani tidak memiliki penghasilan tetap. Setiap rupiah yang dikirim dari kampung sangat berarti, makanya mereka prioritaskan untuk biaya pendidikan.
“Bapak dan mama saya petani. Saya lima bersaudara. Saya dan adik saya yang sempat sekolah di Cikarang. Tapi adik saya sudah pulang setelah lulus SMP dan lanjut SMA di Merauke,” jelasnya.

Tangan-tangan yang menguatkan
Anak-anak ini mendapat perhatian dari dua aktivis, yakni Marta Elizabeth Tita Halawa yang biasa disapa Usi Elsye di Merauke, dan Kornelis Renwarin alias Koko di Jakarta. Keduanya kerap membantu jika anak-anak kesulitan membayar kos atau uang makan.
“Kalau tidak ada uang makan atau belum bayar kos dan sekolah, kami biasa sampaikan ke Kaka Elsye dan Koko,” ujar Koleta.
Menurutnya, tekad mereka untuk tetap bersekolah menjadi alasan utama untuk bertahan.
“Kami malu kalau kembali dengan gagal. Kami ingin selesaikan sekolah dulu baru pulang,” ucapnya tegas.
Maria pun mengisahkan perjuangan mereka sehari-hari. Mereka biasa menumpang kendaraan warga untuk ke sekolah karena tidak mampu bayar angkutan umum. Jarak sekolah mereka sekitar 30 menit perjalanan.
“Kalau Gabriel aman karena sekolahnya dekat, bisa jalan kaki,” kata Maria.
Ia juga mengenang saat pertama kali keluar dari panti. Rasa takut, bingung, dan cemas menyelimuti mereka karena tidak tahu harus tinggal di mana dan bagaimana makan. Namun, karena semangat belajar masih menyala, mereka memilih bertahan.
Dan berkat dukungan beberapa orang baik, seperti Bapa Entong – warga Jayapura yang bekerja di pabrik dan satu gereja dengan mereka, anak-anak ini bisa bertahan hingga kini.
“Kami sepakat apapun yang terjadi, kami harus selesaikan sekolah. Kami sempat ditampung Bapa Entong dari Jayapura. Kami satu gereja, jadi beliau bantu kami sebelum kami pindah ke kos,” cerita Maria.
Kornelis Renwarin, saat mendampingi mereka, mengaku prihatin. Ia dan Elsye merasa terpanggil untuk membantu sebisanya.
“Kalau mereka butuh uang makan, kadang minta ke saya atau Elsye. Mereka jauh dari orang tua, jadi kami bantu semampunya,” kata Koko.
Koko mengaku mereka juga menghubungi beberapa pejabat dan menyampaikan kondisi anak-anak itu. Bantuan berupa uang atau sembako kadang diberikan dan langsung disalurkan.
“Kami punya beberapa kenalan pejabat. Karena kedekatan, kami sampaikan ke mereka. Mereka mau bantu, ya kami teruskan bantuannya,” ujarnya.
Koko dan Elsye pernah mempertimbangkan memulangkan anak-anak ke Merauke. Namun anak-anak justru bersikeras ingin menyelesaikan sekolah mereka.
“Tantangan yang mereka hadapi mungkin justru menjadi pelecut semangat. Mereka ingin sampai garis akhir. Pengalaman ini akan membentuk karakter mereka,” tutup Koko.
Kisah Koleta, Maria, dan Gabriel bukan sekadar cerita tentang bertahan hidup, tapi tentang keberanian untuk bermimpi lebih besar dari kenyataan. Sebab mimpi tak akan pernah terlalu jauh, selama langkah tak berhenti, dan hati tetap menyala.
Mereka bukan sekadar bertahan hidup, tapi sedang menenun mimpi di atas benang-benang pengorbanan. Di setiap langkah, mereka sedang menulis babak baru tentang keteguhan hati dan harapan. Sebab hidup tak selalu mudah, tapi mimpi pantang padam.
Mereka datang dari ujung timur negeri ini, membawa mimpi yang sederhana namun besar, yakni sekolah dan meraih cita-cita. Di tengah kerasnya hidup, mereka memilih untuk bertahan. Karena bagi mereka, menyerah bukan pilihan.
Anak-anak ini membuktikan bahwa anak Papua bisa bersaing di mana saja, selama ada tekad, doa orang tua, dan keberanian untuk terus belajar.
Kisah mereka juga adalah cermin bahwa masih banyak anak Indonesia yang harus berjalan lebih jauh demi pendidikan. Mereka tidak butuh iba, tapi kesempatan. Karena di balik wajah-wajah muda itu, tersimpan potensi besar untuk masa depan negeri ini.(*)




Discussion about this post