Jayapura, Jubi – JGC Holdings Corporation Jepang mengumumkan bahwa perusahaan EPC (engineering, procurement, and construction) luar negerinya, JGC Corporation, telah terpilih bersama Hyundai Engineering & Construction Co., Ltd sebagai kontraktor EPC untuk proyek besar LNG rendah karbon. Proyek ini merupakan bagian dari Papua LNG Project yang direncanakan oleh TotalEnergies bersama para mitra usahanya di Papua Nugini.
Dalam proyek ini, JGC dan Hyundai E&C akan membentuk usaha patungan untuk membangun fasilitas produksi LNG di Port Moresby, dengan memanfaatkan pasokan gas alam dari ladang gas Elk-Antelope di Papua Nugini. Demikian dilansir jubi.id dari laman cms.tvwan.com.pg, Sabtu (4/4/2026)
Dengan kapasitas produksi yang direncanakan sekitar 4 juta ton per tahun, proyek ini menjadi salah satu langkah besar berikutnya bagi negara tersebut dalam meningkatkan kapasitas ekspor LNG.
Pemberian kontrak EPC final serta izin mulai pengerjaan diperkirakan akan dilakukan setelah keputusan investasi akhir (final investment decision/FID) proyek ini, yang dijadwalkan pada tahun 2026.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Sebelumnya, JGC juga telah memenangkan kontrak EPC pada 2009 untuk fasilitas pencairan dalam proyek PNG LNG Project.
Dengan tambahan proyek Papua LNG ini, total kapasitas produksi LNG Papua Nugini diperkirakan akan melampaui 10 juta ton per tahun.
Grup JGC menyatakan akan terus aktif mengejar peluang di sektor LNG.
Menurut OEC World, pada 2024 Papua Nugini mencatat ekspor Gas Alam Cair (LNG) sebesar 5,36 miliar dolar AS, menjadikannya eksportir LNG terbesar ke-9 di dunia dari 82 negara.
Pada tahun yang sama, LNG juga menjadi komoditas ekspor utama dari total sekitar 850 produk, dengan pasar utama meliputi Jepang (2,43 miliar dolar AS), Tiongkok (1,6 miliar dolar AS), Taiwan (941 juta dolar AS), Korea Selatan (354 juta dolar AS), dan Malaysia (39,1 juta dolar AS), sementara Tiongkok mencatat pertumbuhan tercepat sebesar 106 juta dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, impor LNG Papua Nugini relatif sangat kecil, yakni hanya sekitar 7,18 ribu dolar AS pada 2023, menempatkannya di peringkat ke-111 dari 139 negara importir LNG; impor tersebut terutama berasal dari Australia (4,44 ribu dolar AS) dan Filipina (2,75 ribu dolar AS), serta hanya menempati posisi ke-3.463 dari 4.412 produk impor negara tersebut.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

















Discussion about this post