Jayapura, Jubi – Aktivitas eksplosif meningkat dalam beberapa hari terakhir di gunung berapi Bagana di Bougainville. Observatorium Vulkanologi Rabaul di Papua Nugini mengumumkan siaga satu untuk Gunung Bagana di tengah peningkatan aktivitasnya yang paling signifikan dalam dua tahun terakhir.
Kepala surveyor geodetik Observatorium, Steve Saunders, mengatakan bahwa aktivitas di gunung berapi tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun, tetapi pekan lalu aktivitasnya meningkat.
“Terjadi letusan besar, pada dasarnya kubah gunung berapi itu runtuh di sisi timur. Letusan itu sangat spektakuler, tetapi terjadi di daerah yang tidak berpenghuni sehingga tidak menimbulkan masalah besar,” katanya sebagaimana dilansir Jubi dari laman RNZ Pasifik, Rabu (1/7/2026).
Mencatat aktivitas lava yang terus menerus di puncak, Saunders mengatakan ada “cahaya merah dan bebatuan yang berguling menuruni sisi setiap beberapa minggu”.
“Memang ada debu di arah angin, tetapi kelihatannya lebih buruk daripada yang sebenarnya,” tambahnya.
Komentar di media sosial tentang gunung berapi tersebut mengindikasikan masalah debu yang berdampak pada tanaman di selatan Torokina, di pantai timur Bougainville.
Pusat Informasi Nasional PNG mengatakan bahwa Kantor Penanggulangan Bencana Departemen Pemerintahan Komunitas dan Urusan Distrik telah menghubungi Torokina dan daerah lain yang terdampak, serta memantau situasi.
Sementara itu, di bagian lain wilayah Kepulauan PNG, Provinsi Manus, Saunders mengatakan bahwa bongkahan besar batu apung dari gunung berapi bawah laut aktif di Laut Bismarck telah mulai menyebar.
Sejak bulan Mei, batu apung yang dihasilkan oleh gunung berapi yang disebut Punggungan Titan telah terbawa oleh pasang surut dan arus ke pantai selatan Pulau Manus, berdampak pada kehidupan laut dan lalu lintas maritim.
Namun, Saunders mengatakan bahwa saat ini hanya sedikit batu apung yang dihasilkan oleh gunung berapi tersebut karena aktivitasnya telah mereda dalam satu atau dua minggu terakhir, dan bahwa rakit batu apung di sekitar Pulau Manus sebagian besar telah hanyut terbawa arus dan angin.
Namun, warga di Manus mengatakan kepada RNZ Pacific bahwa batu apung masih menjadi masalah, dan batu apung juga semakin banyak ditemukan di pulau-pulau kecil terpencil di provinsi tersebut. (*)




Discussion about this post