Jayapura, Jubi – Pemerintah Otonom Bougainville (ABG) telah menolak usulan kemitraan yang melibatkan Bougainville Copper Limited (BCL) di tambang tembaga Panguna.
Presiden Bougainville, Ishmael Toroama mengeluarkan pernyataan terkait usulan kemitraan BCL dengan China Molybdenum Company (CMOC) sehubungan dengan Panguna. Demikian dikutip jubi.id dari laman internet RNZ Pasifik, Jumat (30/1/2026).
Dia mengatakan bahwa pemerintahannya tidak mengesahkan proposal apa pun yang melibatkan partisipasi ekuitas atau demerger saham ABG sebesar 72,9 persen di BCL.
BCL sebelumnya merupakan operator tambang Panguna yang tetap ditutup sejak 1989 ketika konflik Bougainville dimulai. Perusahaan tambang tersebut berencana untuk mengembangkan kembali tambang Panguna, dan saat ini memiliki lisensi eksplorasi selama lima tahun.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Perwakilan BCL mengatakan kepada ABG tahun lalu bahwa tambang yang ditutup tersebut masih memiliki potensi produksi selama lebih dari 20 tahun, dan kemungkinan akan menghasilkan pendapatan sekitar US$ 28 miliar, setara dengan Rp470 triliun.
Mitra pilihan
Presiden Toroama mengatakan bahwa ABG telah mengarahkan BCL untuk menghentikan pembicaraan dengan CMOC dan sebagai gantinya, mengejar kerja sama dengan Lloyds Metals & Energy Limited sebagai mitra pilihan ABG.
Menurut Toroama, ABG sedang mempertimbangkan kemungkinan kesepakatan dengan Lloyds yang akan berupa “model kemitraan penambangan kontrak atau jasa, yang seharusnya tidak memengaruhi status lisensi EL01 BCL atau kepemilikan saham ABG di BCL”.
“Arahan ini mencerminkan posisi kebijakan ABG bahwa Bougainville harus mempertahankan kepemilikan dan kendali sambil melibatkan operator berpengalaman melalui pengaturan kontrak yang didefinisikan dengan jelas,” kata Presiden dalam pernyataannya.
“ABG tetap berkomitmen untuk memajukan proyek Panguna dengan cara yang sah, transparan, dan tertib yang melayani kepentingan jangka panjang rakyat Bougainville,” tambahnya.
Tambang Panguna di Bougainville
Tambang Panguna adalah tambang tembaga besar yang terletak di Bougainville, Papua Nugini. Panguna merupakan salah satu cadangan tembaga terbesar di Papua Nugini dan di dunia, dengan perkiraan cadangan satu miliar ton bijih tembaga dan dua belas juta ons emas. Tambang ini telah ditutup sejak tahun 1989 dan telah menghentikan semua produksi.
Sejarah
Penemuan deposit bijih tembaga yang sangat besar di Pegunungan Crown Prince di Bougainville menyebabkan pendirian tambang tembaga pada 1969 oleh Bougainville Copper Ltd (BCL), anak perusahaan dari perusahaan Australia Conzinc Rio Tinto. Tambang tersebut mulai berproduksi pada 1972, dengan dukungan Pemerintah Nasional Papua Nugini sebagai pemegang saham 20%. Sebaliknya, penduduk Bougainville menerima 0,5–1,25% bagian dari total keuntungan. Lokasi tersebut pada saat itu merupakan tambang tembaga/emas terbuka terbesar di dunia, menghasilkan 12% dari PDB PNG dan lebih dari 45% dari pendapatan ekspor negara. Keuntungan yang diperoleh dari tambang tersebut membantu mendanai kemerdekaan Papua Nugini dari Australia pada tahun 1975.
Penambangan di Panguna menjadi sejarah kelam, saat perusahaan membuang langsung limbah tambang ke anak sungai Sungai Jaba. Tambang tersebut menyebabkan masalah lingkungan yang menghancurkan di pulau itu, dan perusahaan tersebut bertanggung jawab atas peracunan seluruh Sungai Jaba, menyebabkan cacat lahir, serta kepunahan kelelawar buah di pulau itu.
Pada awal berdirinya, Bougainville Copper Limited (BCL) membangun sistem segregasi rasial di Pulau Bougainville dengan memisahkan fasilitas antara pekerja kulit putih dan penduduk setempat. Kebijakan tersebut memicu pemberontakan pada 1988 yang dipimpin Francis Ona, pemilik tanah Panguna sekaligus komandan Tentara Revolusioner Bougainville (Bougainville Revolutionary Army/BRA). Pemberontakan ini kemudian berkembang menjadi Konflik Bougainville, yang memperhadapkan BRA—yang menuntut pemisahan diri dari Papua Nugini (PNG)—dengan Pasukan Pertahanan Papua Nugini. Konflik yang berlangsung selama sekitar sepuluh tahun itu menewaskan lebih dari 20.000 orang, menyebabkan penutupan tambang pada 15 Mei 1989, serta penarikan seluruh personel BCL pada 24 Maret 1990. Hingga Januari 2026, tambang tersebut masih belum beroperasi.(*)
Untuk melihat lebih banyak content JUBI TV, click here!




Discussion about this post