Jayapura, Jubi – Perusahaan tambang raksasa Prancis, Eramet telah mengumumkan perubahan besar dalam kepemimpinannya.
Perusahaan ini merupakan pemangku kepentingan utama dalam industri nikel Kaledonia Baru, sebagai pemilik Société Le Nickel (SLN), operator tambang nikel dan peleburan tertua di wilayah Prancis tersebut. Demikian dikutip Jubi.id dari RNZ Pasific, Kamis (20/2/2025).
Ketua/kepala eksekutif Eramet saat ini, Christel Bories, akan melepaskan jabatan CEO-nya, tetapi tetap mempertahankan perannya sebagai ketua.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Perubahan tersebut diharapkan berlaku efektif pada rapat umum pemegang saham Eramet, yang dijadwalkan pada t27 Mei,” kata Eramet dalam rilisnya.
Direktur jenderal/CEO yang baru adalah Paulo Castellari.
Castellari, 55, digambarkan sebagai warga negara Brasil dan Italia “dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang pertambangan dan logam serta di industri pupuk dan energi”.
“Selama karier internasionalnya di Amerika Selatan dan Utara, Eropa, dan Afrika, ia telah memegang posisi kepemimpinan senior di berbagai perusahaan pertambangan, dengan fokus kuat pada operasi, keuangan, dan manajemen proyek yang kompleks”, Eramet menjelaskan.
Ia juga memegang posisi kunci di berbagai perusahaan Brasil, dengan spesialisasi di industri pertambangan (besi).
Definisi organisasi baru dan modus operandi tata kelola dikatakan menanggapi orientasi baru dalam grup, dengan bagian yang lebih besar untuk keahlian internasional dan pengembangan internasional.
Bories menyatakan Eramet menyambut baik “latar belakang komersial dan keuangan Castellari, pengalamannya yang kuat dalam mengelola operasi kompleks di industri pertambangan dan logam”.
Castellari mengatakan perannya adalah untuk mengejar “transformasi mendalam” Eramet dalam beberapa tahun terakhir di bawah kepemimpinan Bories, dengan fokus kuat pada diversifikasi dan “memposisikan dirinya sebagai pemain yang diakui dalam penambangan yang bertanggung jawab.”
Bories menjadi CEO Eramet pada tahun 2017. Sejak itu, dia memimpin proses implementasi menuju perubahan besar dalam strategi grup dengan fokus kuat pada produksi mineral untuk pasar baterai kendaraan listrik yang sedang berkembang.
Hal ini terwujud melalui pengembangan tambang litium di Argentina, yang mulai berproduksi pada akhir tahun 2024.
Berbicara kepada media internasional minggu lalu, Bories meyakinkan keputusannya melepaskan peran CEO adalah untuk mencurahkan lebih banyak waktu untuk proyek pribadi. Dia menambahkan tidak memiliki masalah kesehatan dan mendapat dukungan penuh dari dewan.
‘Eramet tidak lagi mendanai SLN’
Terkait aset Eramet di New Caledonian Société Le Nickel atau SLN (beberapa lokasi pertambangan dan satu pabrik peleburan di dekat Nouméa), pada presentasi investor terakhirnya, pada bulan Januari 2025, grup tersebut dengan jelas menyatakan mereka “tidak lagi membiayai SLN”.
Dia juga mengklarifikasi, kebutuhan uang tunai SLN tidak lagi berdampak pada neraca Eramet “berkat pembiayaan dari Negara Prancis”.
Hal ini merupakan hasil konversi pinjaman Negara Prancis yang ada kepada SLN (€260 juta per 31 Desember 2023) menjadi obligasi subordinasi (dalam) yang tidak bertanggal (“TSDI”).
Selain itu, pada tahun 2024, perjanjian ditandatangani dengan Negara Prancis untuk mengubah utang masing-masing sebesar €60 juta dan €80 juta menjadi kewajiban de facto, dan tidak lagi muncul di kolom “utang”.
Kepemilikan saham Eramet meliputi APE – Agence des Participations de l’Etat – (Negara Bagian Perancis, 27,1 persen) dan STCPI – Société Territoriale Calédonienne de Participation Industrielle – (entitas yang dimiliki oleh provinsi-provinsi di Kaledonia Baru, 4 persen).
Masa depan nikel Kaledonia Baru
Setahun yang lalu, akhir Februari 2024, Bories menjadi berita utama internasional. Dalam sebuah wawancara dengan The Financial Times , ia meramalkan anak perusahaan Eramet, SLN di Kaledonia Baru, kemungkinan besar akan termasuk dalam lokasi penambangan dan peleburan nikel yang berisiko “musnah…dalam waktu lima tahun”, karena “kurangnya daya saing” dan munculnya Indonesia sebagai produsen utama berkualitas tinggi dan berbiaya rendah.
Ia memerkirakan, pada 2030 Indonesia dapat menguasai lebih dari tiga perempat pangsa nikel murni kelas tertinggi di dunia.
“Saya sangat meragukan masih banyak pemerintah yang ingin memberikan subsidi besar-besaran…untuk bersaing dengan produksi Indonesia,” katanya.
Bories juga dengan jelas menegaskan Eramet “tidak akan pernah” mempertimbangkan investasi baru dalam nikel Kaledonia Baru.
Ia lebih lanjut menyarankan agar Kaledonia Baru bersiap untuk beralih ke ekonomi yang lebih berorientasi pada pariwisata dan pertanian.
“Terus terang di masa lalu, (Kaledonia Baru) terlalu bergantung pada nikel, karena itu adalah cara mendapatkan uang dengan mudah”, katanya.
Ia lebih lanjut merekomendasikan bahwa industri nikel masa depan Kaledonia Baru seharusnya hanya berfokus pada penambangan ekstraksi yang menguntungkan dan menghentikan pabrik peleburan nikel yang menguras uang tunai.
Ia meramalkan, Kaledonia Baru dapat berubah menjadi wilayah “penambangan nikel saja”.
Sebagai bagian dari proses diversifikasinya, Eramet juga memegang kepentingan dalam operasi di Weda Bay, Indonesia, yang sekarang dianggap sebagai tambang nikel terbesar di dunia.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post