Jayapura, Jubi- Hari ini Jumat, 9 Agustus 2024, merupakan Hari Masyarakat Adat sedunia dan juga dirayakan di tanah Papua. Yayasan Anak Dusun Papua (Yadupa) memberi tema khusus di tanah Papua dengan judul Depopulasi dan Marjinalisasi.
“ Hari yang telah ditetapkan oleh kelompok kerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk depopulasi dan tujuan dari penetapan 9 Agustus ini untuk memberi kesadaran kepada masyarakat dunia, tentang hak hak masyarakat adat. Ada sekitar 480 juta masyarakat adat di dunia yang telah memberikan kontribusi terbesar terhadap hampir 7000 bahasa di dunia,”kata Leo Imbiri Direktur Yadupa dalam mengawali diskusi bertajuk, Depopulasi dan Marjinalisasi di tanah Papua di JubiTV, Rabu (7/9/2024).
Dia menambahkan hampir 5000 budaya yang dikontribusikan bagi masyarakat adat, sementara sistem masyarakat adat itu memberikan keanekaragaman budaya yang begitu besar. “Sementara sistem yang dibangun dalam pemerintahan modern, adalah sistem yang menjurus (pada) keseragaman. Jadi ada kesepakatan-kesepakatan untuk keseragaman yang menghilangkan keanekaragaman yang kaya milik masyarakat adat,”katanya.
Dikatakan, sistem yang dialami saat ini atau masyarakat adat itu adalah sistem kolonial atau sisa-sisa kolonial yang terus dipraktikkan sampai hari ini. “Kalau kita bicara misalnya soal perbatasan antar negara, batas itu dibuat oleh siapa yang menjajah sebelumnya. Misalnya antara Papua Nugini dan Papua sekarang ini dibuat lama zaman kolonial antara Belanda dan Jerman. Hari ini kita nikmati hasilnya hidup sebagai saudara serumpun di antara dua negara yang berbeda,”katanya.
Masyarakat adat adalah pemilik tanah dan budayanya yang kemudian harus tergeser dari tanah dan hutannya. Adapun tema Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024 menurut Leo Imbiri adalah Protecting the Right of Indigenious People in Voluntary Isolation of initial contact (Melindungi Hak Masyarakat Adat dalam Isolasi Sukarela kontak awal).
Sementara itu mengutip Ethnologue edisi ke-14, mencantumkan 826 bahasa di Papua Nugini dan 257 bahasa di Nugini Barat , dengan total 1083 bahasa, dengan 12 bahasa yang tumpang tindih.
Bahasa-bahasa tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bahasa Austronesia dan semua bahasa lainnya, disebut bahasa Papua untuk memudahkan.
Istilah bahasa Papua merujuk pada pengelompokan wilayah, bukan pengelompokan bahasa linguistik. Bahasa-bahasa yang disebut bahasa Papua mencakup ratusan bahasa yang berbeda, yang sebagian besar tidak saling terkait.
Meskipun menurut Leo Imbiri data menurut Summer Institute Linguistic (SIL) di era 1980 an menyebutkan keanekaragaman suku bangsa dan bahasa di Provinsi Irian Jaya atau West Papua sebanyak 350 budaya, namun yang dikenal sekarang hanya 254 suku dan bahasa.
Pesan Sekjen PBB Antonio Gutteres dalam perayaan Hari Masyarakat Adat Sedunia, masyarakat adat mewakili sekitar 6 persen populasi dunia. “Mereka adalah penjaga pengetahuan dan tradisi yang membantu menjaga sebagian wilayah dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di planet kita,”katanya sebagaimana dikutip jubi.id dari indonesia.un.org, seraya menambahkan cara hidup mereka yang unik merupakan bukti kekayaan umat manusia.
“Namun mereka juga menghadapi tantang serius yang mengancam keberadaan mereka. Masyarakat adat sering kali menjadi korban ancaman dan kekerasan,”katanya.
Dikatakan di sektor ekstraktif dan produksi, seperti pertambangan, pertanian, dan transportasi telah mempercepat deforestasi dan degradasi lahan. “Tanah air leluhur dan sumber daya alam yang mereka andalkan untuk bertahan hidup kini dikepung. Hak mereka untuk menentukan nasib sendiri dan mengambil tindakan yang tertuang dalam Deklarasi PBB tentang Hak Masyarakat Adat masih belum terpenuhi,”kata Guterres.
Dia mengatakan tema tahun ini mengingatkan kita akan hak mereka untuk melindungi diri dari kontak yang tidak diinginkan. “Kontak yang dapat menimbulkan dampak buruk,”kata Guterres.
Dikatakan paparan terhadap penyakit menular. Asimilasi paksa, dan gangguan budaya,bahasa, dan mata pencaharian. “Saat ini dan setiap hari, dunia harus mendukung hak -hak masyarakat adat untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Bersama- sama, mari kita jaga hak mereka untuk hidup damai dan bermartabat,”kata Gutteres dalam sambutan Hari Masyarakat Adat Sedunia, 9 Agustus 2024.(*)




Discussion about this post