• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

Komnas HAM akui lambat selesaikan penyelidikan kasus penyiksaan warga sipil Puncak

July 21, 2024
in Polhukam, Tanah Papua
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Theo Kelen - Editor: Aryo Wisanggeni
Penyiksaan

Kepala Kantor Perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM Papua, Frits Ramandey. - Jubi/Theo Kelen

0
SHARES
1.9k
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Kantor Perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM Papua mengakui pihaknya sangat lambat menyelesaikan kasus penyiksaan warga sipil Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah, oleh sejumlah terduga prajurit Batalion Infanteri Raider 300/Braja Wijaya. Penyelidikan telah dilakukan tim Komnas HAM di Jakarta dan Komnas Perwakilan Papua sejak April 2024, dan belum juga tuntas.

Pada 22 Maret 2024, beredar video di media sosial yang merekam penyiksaan terhadap seorang warga sipil. Korban ditaruh dalam drum berisi air, dengan kedua tangannya terikat. Korban itu dipukuli dan ditendang berulang kali oleh sejumlah orang yang diduga prajurit Batalion Infanteri Raider 300/Braja Wijaya yang sedang diperbantukan di Tanah Papua. Punggung korban juga disayat menggunakan pisau. Wajah sejumlah pelaku terlihat dalam video itu.

Pada 25 Maret 2024, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Candra Kurniawan menyatakan delapan prajurit Batalion Infanteri Raider 300/Braja Wijaya telah ditahan dalam kasus itu.

Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey mengatakan tim Komnas HAM di Jakarta dan Kantor Perwakilan Komnas HAM Papua telah menyelidiki kasus sejak April 2024. Ramandey mengatakan hingga kini penyelidikan itu belum tuntas dilakukan Komnas HAM.

Menurut Ramandey, kelambanan penyelidikan itu disebabkan masalah internal Komnas HAM. Namun, Ramandey tidak menjelaskan masalah internal apa yang menyebabkan penyelidikan kasus penyiksaan itu belum tuntas.

“Terkait kasus penyiksaan kasus di Puncak Komnas HAM belum tuntas menyelesaikan penyelidikan ini. Di internal kami yang lambat tuntaskan. Kasus sebesar ini Komnas HAM terkesan lambat,” ujarnya.

Belum ketemu korban

BERITATERKAIT

Komnas HAM sampaikan pemantauan enam kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua

Kekerasan tentara non-organik terhadap Orang Asli Papua terus berulang

Pembentukan tiga Batalyon di Papua dinilai berpotensi menciptakan pelanggaran HAM

Amnesty International Desak Usut Tuntas Penyiksaan Prajurit Dua Lucky hingga Tewas

Ramandey mengatakan Komnas HAM belum meminta keterangan semua pihak berkaitan dengan kasus penyiksaan tersebut. Tim Komnas HAM baru meminta keterangan Bupati Puncak, Sekretaris Daerah Kabupaten Puncak, dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ilaga, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Puncak, dan Kepala Satuan Reserse Kriminal Puncak.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

“Secara informal [kami] juga sudah mendapatkan [keterangan] dari Polres Puncak [soal] bagaimana kronologi singkat [saat korban] diamankan satuan TNI [dan] di bawah ke rumah sakit,” katanya.

Ramandey mengatakan hingga kini tim Komnas HAM belum bisa meminta keterangan dari korban yang mengalami penyiksaan. Korban yang mengalami penyiksaan itu adalah Alianus Murib, Delfius Kogoya, dan Warinus Murib (telah meninggal dunia).

“Kita kesulitan [meminta keterangan] korban yang masih hidup. Kami belum bertemu secara langsung. Ada komunikasi untuk bertemu, dua kali kami datang ke Timika untuk bertemu. Saya sudah dua kali memimpin tim untuk bertemu [korban], hanya belum sempat ketemu korban [karena] berbagai alasan, [diantaranya] korban trauma. Upaya untuk bertemu korban secara langsung sudah kami upayakan. Kami sudah minta bantu keluarga korban, dan mitra,” ujarnya.

Ramandey mengatakan Komnas HAM juga belum meminta keterangan prajurit TNI terduga pelaku penyiksaan warga sipil di Kabupaten Puncak. Ramandey mengatakan keterangan dari para terduga itu penting untuk mengetahui alasan mereka menyiksa warga sipil itu.

Infografis Kekerasan Aparat Keamanan di Tanah Papua

“Soal pemeriksaan anggota [TNI] yang dilakukan tim di Jakarta. Saya juga meminta maaf Komnas HAM di Jakarta terkesan lambat dan mengabaikan kasus sebesar ini,’ katanya.

Ramandey memohon maaf kepada keluarga korban dan masyarakat Papua karena belum menyelesaikan kasus penyiksaan tersebut. Menurut Ramandey kasus ini telah menyita perhatian publik secara nasional dan internasional.

“Kasus itu berdampak luas secara nasional maupun internasional. Kasus penyiksaan [itu] disaksikan jutaan orang, karena disebarkan. Lalu Komnas HAM tidak bisa menuntaskan. Kita ingat, salah satu unsur pelanggaran HAM [adalah] penyiksaan. Saya harus minta maaf kepada korban, kepada masyarakat Papua, karena kasus [itu] sudah diungkap jelas, sudah ada pengakuan, tapi kami terkesan terlambat merespon,” ujarnya.

Ramandey juga mengaku belum mengetahui perkembangan proses hukum terhadap para terduga pelaku. “Pantau [sidang] itu [seharusnya dilakukan] di Komnas HAM di Jakarta. Tanya ke Ketua Komnas HAM,” katanya.

Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Pusat, Uli Parulian Sihombing hanya menjawab singkat saat ditanya perkembangan penyelidikan kasus penyiksaan tersebut. “Komnas HAM sedang menyelesaikan pemantauan dan penyelidikan kasus Defius Kogoya dan kawan-kawan. Mohon sabar saja,” ujarnya melalui layanan pesan WhatsApp.

Uli tidak menjawab saat ditanya pengawasan Komnas HAM terhadap proses hukum para terduga prajurit TNI tersebut.

Percepat penyelidikan

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Papua, Emanuel Gobay meminta Komnas HAM serius menyelesaikan penyelidikan kasus penyiksaan tersebut. Gobay menilai penyelidikan yang dilakukan Komnas HAM dalam kasus itu lambat.

“Kami [dengar] Komnas HAM juga melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. Tapi dari April hingga Juli 2024, [sudah] kurang lebih 3 bulan ini belum mendapatkan hasil penyelidikan yang dilakukan Komnas HAM berkaitan dengan kasus penyiksaan itu,” kata Gobay pada Sabtu (20/7/2024).

Gobay mengatakan hasil penyelidikan Komnas HAM akan sangat bermanfaat bagi proses hukum terhadap prajurit Batalion Infanteri Raider 300/Braja Wijaya yang menjadi terduga pelaku dalam kasus penyiksaan itu. Gobay meminta Komnas HAM menyelesaikan dan mengumumkan hasil penyelidikan mereka.

“Agar kami [masyarakat Papua] tahu kerja-kerja penyelidikan yang dilakukan Komnas HAM dalam kasus penyiksaan. [Hasil penyelidikan itu] sangat penting, karena itu penyiksaan, pelanggaran HAM. Tugas dari Komnas HAM untuk memastikan itu,” ujarnya.

Gobay juga meminta agar Komnas HAM mengawasi proses hukum terhadap para prajurit TNI yang menjadi terduga pelaku dalam kasus itu. “Karena, sampai sejauh ini kami juga tidak tahu proses hukum [perkara penyiksaan itu] sampai di mana. Apakah masih penyelidikan, penyidikan, atau sudah [dilimpahkan] ke Oditur Militer. Ini kan kami tidak tahu,” kata Gobay. (*)

Tags: Batalion Infanteri Raider 300/Braja WijayaKekerasan Aparat Keamanan di Tanah Papuapelanggaran HAMPenyiksaan
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Film Pesta Babi

Pelarangan nobar Pesta Babi: Pembungkaman suara kritis tentang Tanah Papua

May 23, 2026
Dialog Lintas Iman

Dialog Lintas Iman: Evaluasi kebijakan yang memperparah krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 22, 2026

Dua anggotanya tewas, TPNPB klaim serangan balasan tewaskan satu militer

May 19, 2026

Film dokumenter Pesta Babi: Papua bukan tanah kosong

May 16, 2026

Operasi militer di Puncak: 13 orang tewas, 11 terluka, 22.661 jiwa mengungsi

May 16, 2026

Mahasiswa nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

May 11, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
  • Latest
  • Trending
  • Comments
RSUD Biak

Gubernur Fakhiri ingin RSUD Biak jadi pusat rujukan kesehatan wilayah Saireri

May 23, 2026
Papua tengah

Wakil Ketua DPR Papua Tengah desak pemprov tingkatkan kapasitas SDM ASN

May 23, 2026
Pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

May 23, 2026
Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
Pesta Babi

Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Masyarakat Adat

Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

May 22, 2026
Pesta Babi

Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

May 22, 2026
Anak yang ditembak

Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

May 20, 2026
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
ikan asar

Dapur ikan asar yang dikelola tiga generasi

May 21, 2026
RSUD Biak

Gubernur Fakhiri ingin RSUD Biak jadi pusat rujukan kesehatan wilayah Saireri

0
Papua tengah

Wakil Ketua DPR Papua Tengah desak pemprov tingkatkan kapasitas SDM ASN

0
Pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

0
Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

0
Nobar Film Pesta Babi

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

0
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

0
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

0

English Stories

The atmosphere during the joint screening and discussion of the documentary film 'Pig Feast': Colonialism in Our Times, at the Christ the Light of the World Catholic Church Hall, Waena, Heram District, Jayapura City, Papua, Friday (22/05/2026) - Jubi/Yuliana Lantipo
Pacnews

‘Pig Feast’: A Testimony of the Humanitarian Crisis in Papua

May 23, 2026
Deputy Chairperson I of LMA Nasawat, Marten Saflela, hands over the Indigenous community’s demands to Sarteis Yulian Sagrim, Head of the Watershed Management and Social Forestry Division at the Southwest Papua Environment, Forestry, and Land Agency, on Friday (22/5/2026). — Jubi/Gamaliel Kaliele
Pacnews

Indigenous Nasawat Community Rejects Village Forest Scheme

May 23, 2026
TPNPB
Pacnews

West Papua National Liberation Army (TPNPB) in Yahukimo Claims Eight Suspected Security Officers Killed in Operation

May 21, 2026
KNPB
Pacnews

Yahukimo Police Release Arrested KNPB (West Papuan National Committee) Activist

May 21, 2026
Child shot
Pacnews

Child Shot During Military Operation in Puncak Dies After Weeks of Treatment

May 20, 2026

Trending

  • Pesta Babi

    Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara