Jayapura, Jubi – Suara Kaum awam Katolik Papua masih terus menuntut Uskup Agung Merauke, Petrus Canisius Mandagi untuk mengklarifikasi dan meminta maaf kepada umat yang dirugikan di Kampung Wogikel dan Wanam Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan terkait dukungannya terhadap pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) cetak sawah.
Pada hari Minggu (17/11/2024), aksi yang digelar di Paroki ‘Gembala Baik’ Abepura dan Paroki ‘Kristus Terang Dunia’ Waena, Kota Jayapura, Papua, memasuki minggu ke-7.
Kristianus Dogopia mengatakan Uskup Jayapura, Mgr. Yanuarius Teofilius Matopai, Pr sendiri sempat melihat aksi di halaman gereja Paroki Waena. Karena pada hari Minggu itu Uskup Jayapura memimpin misa kedua untuk penerimaan Sakramen Krisma kepada 130-an umat.
“Pastor paroki, dewan pengurus paroki dan umat yang lain dari kedua paroki itu, mereka menyaksikan aksi kami. Dan banyak umat bertanya soal sikap, pernyataan dan keberpihakan Uskup Mandagi terhadap masyarakat adat dan umat Katolik di Kampung Wogikel, dan Wanam, Distrik Ilwayab, Merauke,” kata Dogopia.
Dogopia mengatakan kelompoknya akan tetap melakukan aksi setiap hari Minggu dalam batas waktu yang tidak ditentukan selama Uskup Mandagi belum melakukan klarifikasi dan meminta maaf kepada umat yang dia rugikan. Menurutnya aksi yang dilakukan itu berdasarkan hasil refeleksi yang panjang, dari diskusi ke diskusi hingga mendorong Kaum Awam Katolik membiasakan aksi rutin atau aksi mingguan di gereja.
”Dan sampai kapanpun, kalau kami merasa ada yang tidak beres dalam tubuh gereja Katolik di Tanah Papua, kami akan melakukan aksi mingguan protes terhadap segala sesuatu yang menurut kami bertentangan dengan manusia, alam semesta dan tentunya Tuhan sendiri,” tegas Dogopia.
Kaum Awam Katolik, menurut dia, sudah menggunakan metode aksi mingguan bahkan sejak tahun 2014. Aksi mingguan dilakukan di Kantor Keuskupan, gereja dan tempat dimana para klerus melakukan pertemuan. “Kalau dihitung-hitung, aksi mingguan macam ini sudah dilakukan lebih dari 30-an kali,” katanya.
“Tapi khusus terkait protes kepada Uskup Mandagi, sejak dia melakukan MoU dengan perusahan kelapa sawit di Papua Selatan, kami melakukan protes sebanyak 20-an kali melalui berbagai macam sarana. Dan aksi menuntut pernyataan Uskup Mandagi ini saja sekarang sudah 7 kali kami lakukan di paroki-paroki,” ujarnya.
Keprihatinan khusus dilontarkan pemuda dari suku Marind, Merauke, Stenly Dambujai, bahwa semakin hari bertambah umat Katolik asal Papua Selatan yang mengkhawatirkan respon Keuskupan Agung Merauke. Mereka katakan bahwa sikap, pernyataan dan keberpihakan Uskup Mandagi yang bias pada PSN, penguasa, dan perusahaan dapat berdampak pada perubahan sikap dan pilihan hidup umat setempat.
“Banyak umat, terutama di Kampung Wogikel dan Wanam makin tidak percaya terhadap Gereja Katolik. Karena Mandagi sebagai pimpinan gereja mengkhianati umat. Dan kami rasa Uskup tidak mampu membangun dialog pastoral. Tidak mampu juga menjadikan suka duka umat, bahkan berjalan bersama dalam semangat gereja sinodal,” kata Dambujai.
Menurutnya Suara Kaum Awam Katolik Papua telah mengikuti perkembangan dinamika pastoral setelah Mandagi mendukung perusahaan yang mencaplok tanah-tanah adat milik umat dan merusak keutuhan alam setempat. Menurutnya hal itu membuat umat katolik kehilangan kepercayaan pada gereja dan pemimpinnya.
Sebagai informasi Aksi rutin yang dilakukan Suara Kaum Awam Katolik Papua ini dimulai dari pukul 08:30-13:30 WIT setiap hari Minggum aksi dilakukan setelah mengikuti misa pertama dan kedua dari dua gereja katolik terbesar di kota Jayapura yaitu Paroki ‘Gembala Baik’ Abepura dan Paroki ‘Kristus Terang Dunia’ Waena, Kota Jayapura, Papua.
Sejumlah spanduk dan pamflet dalam bahasa Latin, Italia, Inggris dan Indonesia dibentangkan di hadapan ribuan umat di pintu utama masuk keluar gereja, agar dibaca oleh umat yang berjalan pulang sehabis misa. (*)























Discussion about this post