Kasus muntaber di Distrik Waan – Merauke, Nakes diperintahkan kembali ke tempat tugas

Merauke
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, dr Nevile Muskita - JUBI/Emanuel Riberu

Merauke, Jubi – Sejak bencana banjir rob melanda lahan pemukiman dan lahan pertanian di wilayah distrik Waan, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada pertengahan Januari 2023, menyebabkan kasus Muntaber terjadi pada anak-anak di sana.

Dari informasi yang dihimpun Jubi, warga Kampung Kladar, Distrik Waan mengeluhkan ketiadaan tenaga kesehatan – nakes di puskesmas setempat. Pasalnya, dilaporkan banyak anak yang terserang muntaber, dan bahkan telah ada korban jiwa. Di sisi lain, belum ada pertolongan dari tenaga medis setempat.

Kepala Dinas Kesehatan, dr Nevile Mus kita kepada wartawan, Senin (30/1/2023) sore, mengakui jika sebagian besar tenaga kesehatan – nakes, termasuk kepala Puskesmas Waan sedang berada di Kota Merauke ketika kasus muntaber terjadi di Waan. Akibatnya kebenaran informasi mengenai mengenai kasus tersebut belum secara detail diterima oleh dinas kesehatan.

“Petugas memang sudah saya cek, kebanyakan ada di sini. Saya sudah perintahkan untuk segera besok kembali ke sana (Waan) dan langsung bekerja. Kapusnya (kepala puskesmas) juga kemarin saya telepon ternyata ada di sini, makanya saya perintahkan besok supaya segera ke sana,” kata Nevile.

Menyoal alasan kepala dan tenaga kesehatan Puskesmas Waan berada di Merauke, Nevile menjelaskan bahwa kehadiran mereka di kota terkait dengan penyaluran Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk puskesmas tahun 2023. Secara teknis penyaluran BOK tahun ini tidak melalui rekening umum kas daerah, tapi langsung ke rekening puskesmas.

“Sehingga kepala-kepala puskesmas dan bendaharanya kita panggil untuk membuka rekening di BNI. Karena dari Kemenkes kerja samanya dengan BNI, jadi mereka harus membuka rekening di BNI, setelah itu harus kita dibuatkan SK bupati, jadi mereka kita panggil untuk urusan itu, sehingga terjadi kekosongan,” ujarnya.

Nevile juga mengungkapkan kekosongan tenaga medis di Waan, karena sebagian besar mereka lambat kembali setelah cuti Natal dan Tahun Baru beberapa waktu lalu.

“Biasanya kalau libur hari raya, petugas kesehatan biasanya tukaran. Saat Natal dan Tahun Baru, yang Kristen bisa turun natalan, sebaliknya saat Idul Fitri juga begitu. Nah mereka yang kemarin baru habis Natalan dan ini yang lambat kembali. Karenanya juga saya perintahkan untuk segera kembali,” tuturnya.

Terkait dugaan kasus muntaber di Waan, Nevile mengatakan bahwa ia menunggu laporan tim medis termasuk petugas kesehatan yang diberangkatkan ke Waan. Di sana, petugas bakal melakukan penyelidikan epidemiologi untuk menindaklanjuti kebenaran informasi terkait kasus tersebut.

“Setelah penyelidikan baru bisa kita tahu dan memberikan informasi yang akurat. Penyelidikan epidemiologi akan menentukan langkahnya,” kata Nevile.

Ia menambahkan bahwa melalui penyelidikan epidemiologi, akan diketahui kejadian tersebut benar atau tidak. Termasuk soal kapan kasus itu mulai muncul, sejauh mana penyebarannya, jumlah yang penderita dan faktor resiko.

“Kalau ke sana ketahuan, ya langsung penanganan. Jadi itu tidak hanya penyelidikan, misalnya terkonfirmasi bahwa betul ada muntaber di sana dan digolongkan sebagai peningkatan, itu tentu langsung diambil langkah-langkah penanganan,” pungkasnya.

Banjir rob di Distrik Waan terjadi akibat adanya kenaikan muka air laut yang disebabkan oleh pasang surut air laut. Bencana itu terjadi hampir setiap tahun di wilayah Waan.

Akibat banjir rob di sana, pemukiman warga dan lahan pertanian milik masyarakat terendam air. Tahun ini, bencana banjir di Distrik Waan dilaporkan melanda enam kampung, di antaranya Kladar, Sabon dan Tor. (*)

 

Comments Box

Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari News Room Jubi. Mari bergabung di Grup Telegram “News Room Jubi” dengan cara klik link https://t.me/jubipapua , lalu join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
banner 400x130
banner 728x250