Jayapura, Jubi – Senator Prancis mendukung teks amandemen Konstitusi mengenai status masa depan Kaledonia Baru, Selasa, 24 Februari 2026. Sebanyak 215 senator—sebagian besar dari aliansi partai kanan dan kanan-tengah,memberikan suara mendukung, sementara 41 lainnya menolak. Demikian dikutip jubi.id dari laman internet RNZ Pasifik, Kamis (26/2/2026).
Sidang yang berlangsung selama empat jam itu diwarnai pidato panjang Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, yang hadir untuk menyatakan dukungannya terhadap naskah tersebut. Ia menegaskan bahwa mempertahankan status quo di Kaledonia Baru “bukanlah pilihan yang layak.”
Menurut Lecornu, membiarkan situasi tetap seperti sekarang sama artinya dengan “meninggalkan cita-cita republik Prancis, kemajuan sosial, dan upaya membangun kembali perdamaian” di wilayah Pasifik Prancis tersebut.
“Kesepakatan (Bougival) ini memang tidak sempurna,” ujar Lecornu, “namun inilah hasil terbaik yang secara kolektif dapat kami capai setelah empat tahun perundingan.”
Paket Baru dan Sejumlah Syarat
Dalam pidato yang sama, Lecornu juga memaparkan paket dukungan keuangan baru untuk Kaledonia Baru berupa “pakta pembaruan” senilai sekitar 2 miliar euro untuk periode lima tahun.
Ia menjelaskan, paket tambahan tersebut mencakup alokasi besar untuk “memperkuat daya tarik (Kaledonia Baru)” sebesar 330 juta euro melalui pembentukan zona perdagangan bebas, pembebasan pajak bagi investor baru, serta 500 juta euro lainnya untuk menopang industri pertambangan dan pengolahan nikel yang tengah terpuruk namun tetap strategis. Namun, bantuan itu tidak diberikan tanpa syarat.
“Saat ini sedang disusun rencana transformasi yang kredibel,” kata Lecornu.
“Mendukung dan mendampingi, ya. Tetapi mendanai kerugian tanpa batas waktu, tidak.”
Pemungutan suara ini berlangsung hampir dua tahun setelah gelombang kerusuhan dan aksi kekerasan pecah pada Mei 2024, yang menewaskan 14 orang dan menyebabkan kerugian material lebih dari 2 miliar euro, serta ratusan usaha dijarah dan dihancurkan.
Sejak saat itu, Kaledonia Baru berjuang memulihkan perekonomiannya yang sempat terkontraksi hingga 13,5 persen dari produk domestik bruto (PDB).(*)























Discussion about this post