Opini  

Papua sebagai ”ukauwo OAP” (Memupuk patriotisme, menuai nasionalisme)

Ukauwo
Ilustrasi Demonstrasi penolakan Otsus dan pemekaran Papua di Kota Jayapura, pada Jumat (29/7/2022). - Jubi/Theo Kelen

Oleh: Siorus Degei

Setiap suku bangsa di dunia ini memiliki kearifan lokal (local genius). Hal tersebut termaktub dalam kebudayaan yang berlaku turun-temurun dalam setiap suku bangsa. Di sisi lain, hal-ihwal itu merupakan identitas, sekaligus kekayaan yang hukumnya harus dilestarikan oleh generasi penerus sebagai pewaris, agar selalu eksis atau sulit terpengaruh oleh modernisasi, globalisasi dan digitalisasi yang berkembang menjadi sekularisme dan profanisme instan.

Maka proses regenerasi, edukasi, literasi, promosi dan sosialisasi nilai-nilai kearifan lokal melalui literasi dan edukasi, wajib menjadi perhatian dan gebrakan bersama semua pihak, khususnya penganut kebudayaan tersebut, dengan target utamanya ialah generasi milenial .

Dari semua kearifan lokal yang eksis, pandangan filosofis bahwa “bumi sebagai mama yang merahimi hidup” merupakan kearifan lokal yang hidup di hampir setiap suku di Tanah Papua. Semisal bagi orang gunung, hutan adalah mama yang senantiasa memberikan kehidupan (hutan adalah rahim mama), karena dari sana lahir semua kebutuhan hidup, baik sandang, maupun pangan dan papan. Bagi masyarakat pesisir, laut merupakan mama yang senantiasa menghidupi mereka. Masyarakat Papua Selatan (Merauke, Asmat, Timika, dan sekitarnya) juga meyakini bahwa sungai dan rawa di sekitarnya merupakan manifestasi dari seorang ibu—yang menjaga dan menghidupi mereka turun-temurun.

Di belahan dunia lainnya juga, masyarakat Indian memandang hutan dan Sungai Amazon sebagai sumber kehidupan atau paru-paru bagi keberlangsungan hidupnya. Amazon bahkan tercatat sebagai paru-paru pertama atau oksigen dunia. Sayangnya terjadi kebakaran yang cukup hebat tahun 2019.

Jadi, pada dasarnya secara lokal-kultural masyarakat Papua—dan dunia, mengenal dan memaknai bumi ini sebagai rumah bersama, sumber kehidupan atau mama yang menghidupi. Maka sudah sewajarnya mama bumi diperhatikan dan diperlakukan dengan penuh cinta kasih, layaknya seorang ibu yang harus dihargai dan dicintai.

Dalam falsafah orang West Papua bumi selalu dipandang sebagai “ibu” atau “mama”. Laut dipandang sebagai ibu yang memberikan kehidupan. Gunung dipandang sebagai ibu yang memberikan makanan, minuman dan tempat tinggal. Hutan menjadi mama yang senantiasa menyediakan segala kebutuhan manusia asli West Papua. Orang Nusantara (Indonesia) juga memaknai bumi sebagai ibu atau ibu pertiwi.

Penulis pada tulisan ini memaknai filosofi bumi sebagai mama dalam terang filsafat bumi sebagai ukauwo, yang eksis dalam pemikiran orang asli West Papua di wilayah Meepago. Penghayatan dan pemaknaan spritualitas bumi Papua sebagai ukauwo menjadi sumbangsih yang cukup kuat, sebagai upaya pemupukan benih-benih patriotisme dan nasionalisme kepapuaan.

Memahami falsafah ukauwo

Ukauwo secara etimologis berasal dari kata uka dan uwo. Uka berarti busur panah, ibu atau induk, sedangkan uwo berarti air. Jadi, ukauwo sering dipahami sebagai tanah air ibu (kampung halaman dari mama). Ukauwo mendapatkan tempat yang sentral dalam kehidupan setiap orang Mee. Banyak nilai penting yang terkandung dalam penghayatan dan pemaknaan spritualitas ukauwo.

Pertama, simbol harga diri. Bagi orang Mee, ukauwo adalah harga dirinya. Mereka bisa melakukan apa saja demi mempertahankan harkat dan martabat ukauwo-nya. Karena semua orang Mee menyadari bahwa ketika menghadapi perkara atau masalah besar, pasti mama, paman atau keluarga dari kampung mama yang membelanya. Orang Mee sangat mencintai kampung halaman mamanya, sebab mereka menyadari bahwa di tempat itulah terletak kekuatannya;

Kedua, sebagai wujud cinta tanah air dari mama yang melahirkan, merawat, menjaga dan membesarkan anaknya. Terlebih cinta kasihnya terhadap tanah kelahiran mama dan paman-pamannya.

Orang Mee bisa melakukan apa saja demi mempertahankan eksistensi status quo ukauwo-nya. Ia bisa melakukan hal yang wajar bahkan hingga hal yang paling gila sekalipun.

Kita (pembaca) pasti tidak asing dengan cerita-cerita bagaimana orang Mee tampil layaknya orang gila untuk mempertahankan eksistensi ukauwo-nya. Barangkali kita juga pernah menyaksikan atau terlibat dalam aksi-aksi seperti itu. Atau barangkali familiar dengan istilah ukauwo daba (kampung halaman mama itu kecil, tidak ada apa-apanya) atau om daba (semua saudara laki-laki mama itu kecil/kerdil dan tidak ada apa-apanya).

Memang secara leksikal dua istilah di atas terkesan sebagai ungkapan perendahan atas kesucian dan spiritualitas ukauwo dan paman. Namun, sejatinya di balik dua ungkapan itu terselip sebuah undangan yang menuntut atau menagih konsistensi patriotisme orang-orang Mee.

Dua ungkapan itu semacam menuntut pembuktian pasti, bahwa jika memang benar orang Mee itu cinta mama atau paman dan ukauwo-nya, maka sudah seyogyanya itu dibuktikan. Bukan sekadar kata-kata. Sehingga memang dua ungkapkan itu mesti secara hati-hati dan bijak diucapkan kepada orang Mee. Sebab mereka akan melakukan hal-hal yang gila sekalipun, demi menjaga dan memproteksi eksistensi ukauwo-nya.

Pemaknaan ukauwo dalam rahim kebudayaan orang Mee di atas ini bisa menjadi model dan bekal dasar bagi bangsa West Papua, dalam konteks pemupukan patriotisme dan nasionalisme kepapuaan. Terutama generasi emas Papua yang semakin melupakan semangat dan spirit patriotisme dan nasionalisme kepapuaan yang sejati. Orang asli Papua mesti memiliki semangat cinta tanah air layaknya penghayatan falsafah ukauwo dalam diri orang Mee.

Tanah Papua sebagai “ukauwo OAP”

Seperti disinggung di muka, bahwa secara filosofis Tanah Papua ini dipandang oleh orang West Papua proto sebagai “mama’. Mereka sering menyebutnya sebagai “Papuana”, “Papuani”, atau “Iriana” dan,”Iriani”. Hal ini menunjukkan bahwa semua orang Papua memakai bumi Papua sebagai mama yang senantiasa merahimi, melahirkan, menyusui, menjaga dan membesarkan mereka.

Di atas dasar dan sendi filosofis seperti di atas itulah penulis hendak mengajak bangsa West Papua untuk memiliki patriotisme dan nasionalisme “ukawo daba” dan “om daba”.

Bahwasannya mesti ada rasa memiliki, moralitas tuan, etika penguasa dan filsafat raja. Bahwa seluruh tanah dan isinya di West Papua itu hanyalah milik orang West Papua. Bahwa dalam suka-duka sampai langit terbelah sekalipun bangsa Papua tetap bangsa Papua. Dan tanah Papua tetap tanah Papua. Tidak ada pihak yang bisa mengubah keniscayaan itu selain Tuhan, alam dan leluhur bangsa West Papua.

Bangsa West Papua harus sadar bahwa ukauwo dan para pamannya terus dibantai oleh kapital kolonial NKRI sejak tahun 1961. Kampung halaman ibunya terus dihancurkan oleh kolonial NKRI dan sekutunya. Ibunya “diperkosa” dan dilecehkan oleh para penguasa dan pengusaha tamak, lalim, eror, diktator dan otoriter.

Karena itu, sudah saatnya “om bada” dan “ukauwo bada” bangsa Papua secara konsisten, tanggung jawab dan berani menyatakan sikap untuk merdeka, menolak sistem dan hukum NKRI, melepaskan garuda dan jabatan pemerintahan NKRI, memboikot semua produk kapital kolonial NKRI, memutuskan semua saluran transportasi dan penghubung di West Papua, mogok sipil nasional, dan agenda-agenda revolusi universal lainnnya di bumi West Papua dalam bentuk apapun.

Mengakhiri tulisan ini penulis merekomendasikan beberapa hal esensial:

Pertama, Tanah Papua mesti dimaknai sebagai “ukauwo” seluruh bangsa West Papua. Mesti ada spiritualitas patriotisme dan nasionalisme yang membumi, sebagaimana falsafah ukauwo orang Mee;

Kedua, pengentalan dan pengendapan filosofi bumi sebagai “mama Papua” itu mesti berurat berakar dalam naluri dan sanubari bangsa West Papua. Untuk lebih mendarahdagingkan filosofi ukauwo sebagai pemantik patriotisme dan nasionalisme kepapuaan, maka bangsa Papua mesti secara konsisten dan kontinu, bahkan sebelum berperang terlebih dahulu men-charge spiritualitas perjuangan dan pergerakan di honai atau kampung halaman dan ukauwo-nya masing-masing;

Ketiga, Tanah Papua adalah ukauwo OAP, “om daba” dan “ukauwo daba” jika Papua tidak merdeka atau tanah damai dan Papua baru. Mari perjuangkan dan pertahankan eksistensi kekudusan ukauwo kita bersama, tanah West Papua. (*)

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura-Papua

Comments Box
Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari News Room Jubi. Mari bergabung di Grup Telegram “News Room Jubi” dengan cara klik link https://t.me/jubipapua , lalu join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Writer: Admin JubiEditor:  Timoteus Marten
banner 728x250