Jayapura, Jubi – Sama seperti yang terjadi di benua Biru atau Eropa, para pesepak bola asal Brasil menjadi bintang dalam perantauan mereka hingga ke penjuru dunia, termasuk di Tanah Papua. Tercatat, ada beberapa nama pemain asing asal Brasil yang punya jejak rekam istimewa saat memperkuat klub-klub sepak bola Papua, dari Persipura Jayapura hingga PSBS Biak Numfor.
Petualangan para “penari” samba lapangan hijau di Bumi Papua sudah dimulai pada 2003 silam saat kompetisi sepak bola Indonesia masih bernama Liga Indonesia (Ligina) IX. Di masa itu, empat warga negara Brasil didatangkan sekaligus oleh manajemen Persipura Jayapura.
Momen tersebut menjadi musim kedua Persipura diperkuat oleh pemain asing, setelah pada Ligina VIII untuk pertama kali menggunakan jasa pemain asing, Bako Sadissou dan Ebanda Timothy, yang keduanya berasal dari Benua Afrika.
Dituturkan legenda hidup dan eks kapten Persipura, Eduard Ivakdalam, gerbong pertama legiun asing Brasil itu berisikan David da Rocha, Uilian Souza, Jose Luiz Vieira Feitosa dan Leonardo. Dari empat nama itu, hanya David da Rocha yang punya karier mulus di Persipura.
Waktu berjalan, tiga nama terakhir hanya bertahan singkat di skuad Mutiara Hitam. Sedangkan David da Rocha melanjutkan kariernya selama enam tahun, termasuk berandil mempersembahkan trofi juara Liga Indonesia pertama kali untuk Persipura pada 2005 dan juara Liga Super Indonesia musim 2008/2009.
“Waktu itu David da Rocha datang dengan Leonardo, Luiz Feitosa sama Uilian Souza, ada empat pemain dari Brasil waktu itu.
David yang lama bekarier di Persipura, Leonardo hanya sebentar saja, begitu juga dengan Uilian dan Luiz Feitosa. Waktu kita juara 2005 itu hanya tinggal David saja,” kata Eduard Ivakdalam kepada Jubi, Senin (3/5/2024).
Pada suatu momen saat diwawancarai awak media Jubi, David da Rocha merasa berkesan pernah berkarier di Persipura. David selalu mengenang momen indah saat masih berkostum merah hitam.
“Saya menjadi pemain Brasil pertama yang juara bersama Persipura dan banyak membantu dalam gelar pertama klub. Itu membuat saya selalu ingat dengan Papua dan saya sangat senang dan bahagia,” David da Rocha.
Selain pemain asing, klub-klub Papua juga pernah menggunakan jasa pelatih asing asal Brasil. Di Persipura ada nama Antonio Gonzaga Neto, Jacksen Tiago, Osvaldo Lessa, Wanderley Junior, Amilton Silva, dan Luciano Leandro. Sedangkan di Persiram Raja Ampat dan Persiwa Wamena ada nama Gomes de Olivera. Gomes dan Wanderley Junior juga pernah melatih Perseru Serui.
Dari Da Rocha hingga Alexsandro
Ada empat klub dari Pulau Papua yang pernah menggunakan jasa pemain asing asal Brasil, yakni Persipura, Perseru Serui, Persiram Raja Ampat dan PSBS Biak. Persipura menjadi yang terbanyak mendatangkan pemain Brasil, 16 pemain sejak 2003 hingga 2022.

David da Rocha menjadi legiun asing Brasil pertama bersama Uilian Souza, Luiz Feitosa dan Leonardo yang berkiprah di klub Papua. David juga jadi orang Brasil pertama yang sukses bersama Persipura dengan dua gelar juara, Liga Indonesia 2005 dan ISL 2008/2009.
Alberto Goncalves da Costa atau Beto kemudian menyusul di tahun 2007 dan berlanjut hingga 2010. Ia menggondol gelar top skor Copa Indonesia 2007/2008 dan mengantarkan Persipura meraih juara ISL 2008/2009. Beto kembali memperkuat Persipura untuk kedua kalinya pada musim 2011/2012 usai membela klub pertamanya, Persijap Jepara.
Di musim kedua bersama Persipura, Beto tampil sebanyak 34 kali dan mencetak 25 gol. Meski gagal membawa Persipura kembali sebagai juara, Beto dinobatkan sebagai top skor ISL musim 2011/2012.
Bersamaan di musim itu, Persiram Raja Ampat sebagai debutan di kompetisi kasta tertinggi Indonesia coba mengikuti jejak Persipura dengan mendatangkan pemain bertahan asal Brasil, Anderson da Silva. Bek berkepala plontos itu tampil 13 kali dan mencetak 3 gol untuk Persiram.
Semusim berikutnya, 2012/2013, Persipura ingin mengulang kesuksesan bersama pemain Brasil. Mereka merekrut Otavio Dutra dari Persebaya Surabaya. Meski hanya semusim berkostum merah hitam, Dutra sukses mengantarkan Persipura juara ISL 2013.
Tahun 2016-2017, Ricardo Almeida atau Ricardinho melanjutkan petualangan pemain Brasil di Persipura. Di musim itu, ia turut membantu Persipura menjuarai kompetisi tak resmi, Indonesia Soccer Championship (ISC) A. Lalu kemudian datang striker eks Persela Lamongan, Addison Alves di tahun 2017 dengan 30 kali penampilan dan mencetak 15 gol. Addison kembali ke Persipura pada Liga 1 2018 dengan mencatatkan 16 kali penampilan dan mencetak 5 gol.
Alves datang kembali ke Persipura untuk menggantikan rekan senegaranya, Marcel Sacramento yang bermain sebanyak 16 kali dan membuat 7 gol. Di tahun yang sama, 2018, Persipura juga diperkuat oleh dua pemain Brasil lainnya, Marcio Rosario Nascimento berposisi bek, dan Hilton Moreira yang berposisi striker dengan 29 kali penampilan dan mencetak 11 gol.
Tak berhenti di situ, Persipura kembali mendatangkan pemain-pemain Brasil di musim berikutnya. Andre Ribeiro Dos Santos, berposisi bek pada Liga 1 2019. Arthur Cunha da Rocha, Liga 1 2020, Thiago Amaral di Liga 1 2020, Henrique Motta di Liga 1 2021/2022, dan Hedipo Gustavo Conceicao, Liga 1 2021/2022.
Klub Papua lainnya, Perseru Serui juga pernah diperkuat oleh dua pemain Brasil pada Liga 1 2018. Keduanya adalah Alberto Antonio de Paula (Beto), berposisi striker, dan Osmar Filho dos Santos (Mazinho) berposisi playmaker.
Perjalanan karier pemain Brasil di klub Papua berlanjut ke PSBS Biak pada Liga 2 2023. Striker yang direkomendasikan oleh David da Rocha, Alexsandro dos Santos Ferreira melanjutkan kiprah manis para penari samba di klub Papua. Alex mencetak 19 gol pada debutnya yang membuatnya bermandikan prestasi, top skor, pemain terbaik dan juara Liga 2.
Kultur Sepak bola yang Mirip
Paitua Edu, sapaan akrab Eduard Ivakdalam mengakui karakter atau gaya bermain pesepakbola Brasil tak jauh berbeda dengan sepak bola Papua. Menurutnya, hal itu yang membuat pemain asing asal Brasil tak kesulitan beradaptasi saat bermain di klub Papua.
“Budaya dan ciri khas pemain Brasil sebenarnya tidak jauh beda dengan gaya bermain kita anak-anak Papua, karena mereka juga bermain dengan sepak bola yang menggabungkan skill, kecepatan dan keindahan. Itu cocok dengan gaya sepak bola kita yang bermain bola pendek dan cepat, suka menari dengan bola. Jadi mereka cepat beradaptasi dengan kita,” ujar Edu.
Legenda hidup sepak bola Indonesia asal Brasil, Luciano Leandro juga menuturkan kultur sepak bola Indonesia, khususnya Papua sangat mirip dengan di negaranya. Mereka selalu bermain sepak bola dengan kegembiraan. Kehadiran pemain Brasil di Indonesia baginya punya peran yang sangat besar.
“Keikutsertaan pemain Brasil dulu dan sekarang sangat penting dalam sepak bola di Papua dan Liga Indonesia. Kita mempunyai adat istiadat, sikap dan cara hidup yang sangat mirip,” kata legenda yang pernah melatih Persipura di putaran pertama Liga 1 2019.
“Ciri fisik dan cara pandang bahagia dalam hidup juga sangat mirip, mulai dari awal mula sepak bola profesional di Indonesia hingga saat ini, pemain asal Brasil selalu tampil menonjol,” sambungnya.
Manajer PSBS Biak Numfor, Yan Permenas Mandenas juga menilai pemain asal Brasil memang sangat cocok dengan kultur sepak bola Papua. Ia mencontohkan seperti David da Rocha dan Alberto Goncalves da Costa (Beto) pernah bersinar di Papua saat membela Persipura Jayapura.
“David dan Beto bisa bersinar saat bermain di Papua karena memang mereka cocok dengan kultur serta gaya para pemain Papua. Mereka juga cepat beradaptasi dengan baik,” kata Mandenas.
Gaya sepak bola ala Samba sudah tertanam pada pesepak bola Papua jauh sebelum Liga profesional Indonesia digelar. Bapak sepak bola Papua, mendiang HB Samsi adalah pelatih yang menerapkan gaya Samba di Bumi Papua sejak masa lampau. (*)























Discussion about this post