Jayapura, Jubi – Laju Persipura Jayapura di lintasan persaingan Grup Timur Pegadaian Championship kian stabil. Kemenangan atas Barito Putera pada laga pembuka putaran ketiga menempatkan tim ini di puncak klasemen dengan raihan 40 poin.
Hasil tersebut menjadi pijakan kuat bagi tim kebanggaan masyarakat Papua ini untuk mengejar target promosi ke Super League yang dulunya dikenal dengan sebutan kompetisi Liga 1.
Keberhasilan di arena pertandingan berjalan seiringan dengan pergerakan manajemen yang tengah menyiapkan hal-hal penting untuk mendukung tim berjulukan Mutiara Hitam di luar lapangan. Seolah mempertegas keseriusan mereka untuk naik kasta.
Gaya main berubah
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Pelatih Persipura Rahmad Darmawan mengungkapkan ada perubahan signifikan atau ‘wajah baru’ gaya bermain timnya dalam pesta gol yang baru saja diraih atas Barito Putera, Minggu (15/2/2026). Masuknya dua gelandang baru, Williams Lugo asal Venezuela dan Bima Ragil dari Deltras Sidoarjo, telah mengubah permainan Persipura.
Eks pelatih tim nasional Indonesia itu menyebut kehilangan striker jangkung asal Brasil, Matheus Silva, yang pindah ke kompetisi Irak, mengubah skema di lapangan. Timnya tidak lagi mengandalkan umpan silang dari sektor sayap seperti sebelumnya.
“Sebelumnya kita dominan wing play dan cross ball. Lawan Barito combination play sangat dominan. Permainan satu-dua lebih menonjol karena kita tidak punya lagi striker tinggi seperti Matheus,” ujar Rahmad Darmawan, Senin (16/2/2026).
Ia menilai skema baru yang dijalankan timnya itu berjalan efektif. Trio pemain baru, Bima Ragil, Williams Lugo, dan Victor Mansaray, mampu menjalankan instruksi tersebut.

Dalam aspek teknis, Rahmad Darmawan melakukan penyesuaian strategi dengan mendatangkan pemain yang memiliki keunggulan fisik.
Kehadiran striker asing berpaspor Amerika Serikat, Victor Mansaray menjadi jawaban atas kebutuhan tim dalam memenangkan duel-duel udara, terutama saat menghadapi lawan yang gemar memperagakan permainan panjang.
”Kehadiran Victor Mansaray adalah untuk mengantisipasi bola-bola mati tim lawan. Karena praktis lawan mulai mengembangkan permainan dengan direct play yang biasanya itu akan banyak menghasilkan beberapa momen untuk mereka corner kick, free kick, dan sebagainya. Mansaray punya postur badan tinggi sehingga bisa challenge dengan tinggi badan pemain-pemain lawan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kembalinya performa terbaik dua pemain veteran, Tinus Pae (Tipa) dan Boaz Solossa (Bochi). Keduanya tampil dengan fisik dan visi bermain yang mengingatkan pada masa kejayaan mereka.
”Kita sama-sama lihat bagaimana Tipa dan Bochi bermain seperti kembali menemukan performanya mungkin seperti 10 tahun yang lalu. Itu bukan dari saya atau bukan dari kita, tapi dari diri sendiri yang memang mau berlatih dengan lebih serius, lebih baik lagi,” katanya.
Manajer Persipura Owen Rahadian juga memuji kontribusi para pemain baru yang dianggap berhasil melengkapi kebutuhan tim. Ia juga mengapresiasi para pemain senior yang tetap menunjukkan dedikasi tinggi meskipun sudah melewati usia emas.
”Penampilan Bima dan Lugo sangat memuaskan, termasuk juga Mansaray. Saya berterima kasih kepada pelatih dan jajaran official/assistant coaches yang telah menganalisis kebutuhan tim sehingga kepingan puzzle ini terasa pas. Kita bisa lihat pemain legenda seperti Boaz Solossa dan Yustinus Pae. Walaupun usia mereka sudah tidak muda, penampilan mereka masih sangat luar biasa,” kata Owen.
Perubahan positif itu pun disambut baik oleh para pendukung setia. Ikhsan, perwakilan dari kelompok suporter The Comens, memberikan perspektif dari sisi tribun. Ia menilai Persipura sedang berada dalam fase transisi, dan menunjukkan semangat serta potensi untuk merebut tiket promosi.
“Gaya permainan berubah, kehadiran pemain baru mulai memberi dampak yang positif. Manajemen dinilai sudah bergerak ke arah yang lebih serius untuk kebangkitan klub, namun tetap dituntut pembuktian nyata,” ujarnya.
Tantangan dan peluang promosi
Rahmad Darmawan melihat tren positif timnya sebagai bagian dari perkembangan tim yang harus terus dijaga konsistensinya. Baginya, berada di puncak klasemen adalah tantangan untuk tetap menjaga fokus para pemain agar tidak terlena dengan pencapaian sementara.

”Saya berharap momentum kemenangan melawan Barito Putera bisa dijaga dengan baik oleh para pemain, karena saya melihat bagaimana tim ini berproses dan punya progres bermain yang semakin baik. Dan ini saya harap tidak menjadi sebuah hal yang memuaskan mereka, tapi justru sebaliknya, ini satu tantangan untuk menghadapi sisa kompetisi,” kata RD.
Tantangan terbesar bagi Persipura, menurutnya ditentukan oleh timnya sendiri bukan oleh tim lain. Menjaga konsentrasi dan kondisi fisik pemain di sisa musim ini menjadi kunci utama untuk meraih kesuksesan.
“Buat saya lawan terberat Persipura itu bukan dari tim lawan, tapi diri sendiri. Dan itu yang harus saya jaga bagaimana anak-anak harus fokus, anak-anak harus terus ada dalam kondisi terbaik, sehingga mereka mampu menampilkan kondisi fisik yang prima dan bermain dengan baik,” katanya.
Menurutnya, delapan lawan berikutnya yang akan dihadapi semua memiliki kekuatan yang sama dan tak ada yang bisa dipandang remeh, tapi semua bisa dilewati dengan hasil positif jika seluruh pemain dalam timnya tetap fokus untuk menampilkan yang terbaik.
“Jadi kalau ditanya lawan yang berat, semua lawan itu harus kita hadapi dan enggak ada yang mudah. Tapi kita bakal bisa atasi itu kalau saya mampu atau kita semua mau menjaga diri kita untuk menghadapi pertandingan dengan serius, dengan fokus,” ujarnya.
Melihat tabel klasemen Grup Timur saat ini, Persipura memimpin dengan 40 poin dari 19 pertandingan yang telah dilakoni. Namun, posisi puncak ini belum sepenuhnya aman karena persaingan yang rapat.
PSS Sleman membayangi tepat di peringkat kedua dengan 39 poin, hanya selisih satu angka. Sementara Barito Putera menyusul di urutan ketiga dengan 37 poin, yang berarti kemenangan di setiap laga menjadi harga mati demi menghindari kejaran lawan.
Ujian sesungguhnya akan dimulai dengan dua partai tandang yang sangat menentukan arah perebutan juara grup. Pada 21 Februari 2026, Persipura dijadwalkan bertandang ke markas PSS Sleman. Kemenangan di laga itu akan memberikan jarak aman bagi Persipura, sementara kekalahan akan langsung melontarkan PSS Sleman ke puncak klasemen.
Pada 1 Maret 2026, tim asuhan Rahmad Darmawan kembali harus terbang untuk menghadapi Kendal Tornado FC yang saat ini bertengger di posisi keempat dengan 36 poin. Jika berhasil melewati dua tantangan luar kota itu dengan hasil maksimal, langkah Persipura akan jauh lebih ringan saat kembali ke hadapan publik Jayapura.

Jadwal kandang yang tersisa mencakup pertemuan dengan Deltras Sidoarjo pada 28 Maret, Persela Lamongan pada 11 April, dan PSIS Semarang pada 18 April. Keuntungan bermain di rumah sendiri di hadapan puluhan ribu suporter harus dimanfaatkan untuk mengumpulkan poin penuh. Di sela-sela jadwal kandang tersebut, Persipura masih harus melawat ke markas Persiba Balikpapan pada 4 April 2026.
Manajemen telah menghitung secara cermat setiap kemungkinan yang ada. Dengan total 6 pertandingan sisa yang terdaftar di jadwal kompetisi, sapu bersih kemenangan akan membawa poin akhir Persipura menjadi 58 poin, angka yang sangat sulit dikejar oleh kontestan lain.
“Terkait target poin untuk mengunci tiket promosi, manajemen sudah menyiapkan skema bonus bagi para pemain. Sistem ini sudah mereka ketahui, jadi mereka tahu apa yang harus diperjuangkan. Intinya, kalau bisa sapu bersih kemenangan, kenapa tidak?” kata Manajer Persipura Owen Rahadian.
Membangun kemandirian dan fondasi masa depan
Keseriusan Persipura untuk naik kasta juga tercermin dari rencana pembangunan jangka panjang. Manajemen sedang menyiapkan sport center, akademi, dan store merchandise di kawasan Lantamal Entrop yang akan segera diluncurkan.
”Kami bekerja sama dengan pihak luar untuk membangun sebuah sport center di Lantamal (Entrop). Di sana akan dibangun lapangan mini soccer, persipura store dan cafe. Juga rencana peluncuran akademi Persipura dalam waktu dekat,” ujar Owen Rahadian.
Selain infrastruktur, Owen juga berkomitmen memprioritaskan dan memberdayakan sumber daya manusia lokal Papua, mulai dari karyawan store hingga pemain muda yang akan ditempa di akademi.
“Komitmen saya adalah memprioritaskan anak-anak asli Papua. Untuk batasan usia, kami sangat terbuka, mirip seperti komposisi tim bola yang membutuhkan perpaduan antara pemain muda dan yang berpengalaman,” katanya.

Satu tantangan besar bagi manajemen adalah peredaran jersey tidak resmi, pembelian produk asli sangat penting untuk mendanai operasional klub, terutama jika nanti bersaing di Super League.
”Jika kalian memang cinta Persipura, support Persipura, belilah yang asli. Saya juga paham mungkin stok atau ketersediaan (availability) baju ini lumayan kurang ya, ini yang akan saya genjot lagi untuk itu,” ujarnya.
Manajemen berencana mengambil langkah penertiban setelah melakukan persiapan stok barang asli dan sosialisasi kepada pedagang.
“Ini yang lagi kita rapatkan secara internal dulu, mungkin langkah-langkah apa ke depannya untuk kita tertibkan. Yah, mungkin kita imbau janganlah jual dengan logo Persipura atau Cendrawasih Karsa. Mau warnanya sama tidak apa-apa, tapi tolong hargai juga pemasukan dari jersey ini untuk tim,” kata Owen.
Ia menyebutkan kontribusi suporter melalui pembelian tiket dan merchandise asli adalah kunci untuk menjaga keberlangsungan klub.
“Tanpa penjualan jersey dan tiket, kita tidak bisa dapat pemain yang bagus. Dan jika kita promosi nanti, kita butuh makin banyak support lagi karena biaya akan semakin meningkat,” ujarnya.
Upaya manajemen membangun kemandirian dengan menghadirkan store dan sport center mendapat dukungan positif dari elemen suporter. Ikhsan dari The Comens menilai langkah menyiapkan store resmi dan akademi dipandang sebagai keputusan strategis yang sangat penting untuk masa depan klub Persipura.
“Diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi masa depan Persipura, baik secara prestasi maupun keberlanjutan klub,” ujarnya.
Tim Mutiara Hitam Persipura saat ini tidak hanya sedang mengejar kemenangan di lapangan, tetapi juga sedang membenahi diri sebagai klub sepak bola yang lebih kuat dan profesional dari segi teknis dan finansial. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post