Nabire, Jubi – Erselina Krey datang pagi itu membawa putrinya usia Sekolah Dasar ke Puskesmas Nabire Kota. Cuaca sangat cerah pada Kamis, 13 November 2025 itu, sampai-sampai langit terlihat biru.
Puskesmas yang terletak di Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah itu sudah ramai pengunjung pada pukul 09.00 WIT. Termasuk Mama Erselina yang membawa anaknya hendak berobat. Ketika giliran putrinya tiba, mereka masuk ke ruangan dokter.
Setelah dokter memeriksa anaknya dan memberikan resep, dokter memberitahu Mama Erselina ada program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan menyarankan agar perempuan 50 tahun itu langsung ikut.
“Saya tidak tahu kalau ada program Cek Kesehatan Gratis, karena datang cuma bawa anak berobat. Tapi tadi dokter tanya saya dan tawarkan saya untuk manfaat CKG, jadi saya ikut sekarang,” kata Mama Erselina kepada Jubi.id di ruang tunggu Puskemas Nabire Kota.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Erselina mengaku setuju setelah dokter menjelaskan panjang lebar kepadanya tentang manfaat CKG. Ia menyimpulkan, Cek Kesehatan Gratis sangat baik untuk mengetahui kondisi kesehatan dan juga dilakukan dengan gratis.
“Saya pikir baik untuk kesehatan pribadi, kita kan mau sehat,” ujarnya. “Akhirnya tadi saya didaftarkan oleh petugas, saya diperiksa, dan sekarang saya menunggu hasilnya keluar.”
Bagi Erselina program Cek Kesehatan Gratis sangat penting dan bermanfaat. Sebab, terkadang orang merasa tubuhnya baik-baik saja, sehat-sehat saja, tapi tidak tahu kondisi kesehatan tubuhnya yang sebenarnya.
“Karena itu, perlu dilakukan cek kesehatan agar bisa mendeteksi penyakit lebih dini. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati, jadi CKG dilakukan supaya kita bisa mencegah penyakit,” ujarnya.
Sebenarnya, kata Erselina, program CKG bermanfaat sekali bagi OAP (Orang Asli Papua), karena dilakukan secara gratis.
“Mungkin ada yang tidak punya biaya untuk berobat karena mahal, jadi dengan CKG ini bisa mendeteksi penyakil lebih awal, tentu bermanfaat sekali bagi orang asli Papua,” katanya.
Ia sangat senang mendapat informasi dari Puskesmas tentang CGK dan bisa langsung diikutkan. Erselina yakin sangat banyak orang asli Papua yang belum mengetahui, seperti dirinya sebelum datang ke Puskesmas. Karena itu, ia berharap petugas lebih banyak menyosialisaikan CGK kepada OAP.
“Jangan sampai banyak OAP yang tidak tahu program ini, karena program ini sangat penting agar OAP mengetahui kondisi kesehatan tubuhnya lebih awal,” ujarnya.
Seperti Erselina Krey, Isack Rumbrawer memiliki kisah yang sama. Pria 33 tahun itu baru tahu ada program Cek Kesehatan Gratis saat mengantarkan keluarganya yang sakit ke Puskesmas, empat bulan lalu. Sampai di Puskesmas ia ditawari ikut CKG.

“Karena sudah dijelaskan baik-baik dan saya mengerti manfaatnya akhirnya saya ikut CKG, karena CKG ini sangat baik sekali untuk mengetahui kondisi kesehatan kita,” ujarnya.
Apalagi, tambah Isack, pemeriksaan dilakukan secara gratis tanpa pungutan biaya atau pembayaran apapun.
“CKG ini penting bagi kita untuk mengetahui gejala-gejala penyakit di dalam tubuh kita. Kita harus ikut CKG supaya tahu kesehatan kita, baik fisik maupun mental,” katanya kepada Jubi.id pada Selasa, 11 November 2025.
Setelah ikut CKG, Isack Rumbrawer akhirnya mengetahui kondisi kesehatannya sehingga harus mengonsumsi obat dan dianjurkan rutin berolahraga.
Ia tidak menceritakan kondisi kesehatannya yang terdeteksi berkat hasil CKG tersebut. Namun, ia mengajak semua orang, khususnya OAP, untuk segera ikut CKG agar bisa mendeteksi secara dini penyakit yang ada di dalam tubuh masing-masing.
Menurut Isack, CKG sangat baik untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang, karena dilakukan screening cukup menyeluruh terkait sejumlah penyakit, seperti pemeriksaan Hepatitis B, HIV, gula darah, kolestrol, dan kesehatan jiwa.
Ia senang sudah mengetahui hasil pemeriksaan kesehatannya, karena itu ia menganggap CKG sangat bermanfaat.
“Untuk kita OAP, kita harus mengikuti CKG ini supaya kita terhindar dari hal-hal yang mengakibatkan kita kena berbagai macam penyakit, seperti penyakit HIV dan sipilis. Ini penting bagi OAP, karena penyakit ini berbahaya bagi kita, jadi kita cek dini lebih baik. Saya ingin kita orang asli Papua ikut CKG ini dan menjaga diri,” ujarnya.
Naomi Hermalina Andoi, 53 tahun, bidan PNS (Pegawai Negeri Sipil) di UPTD Puskesmas Nabire Kota mengaku sempat takut ketika atasannya mewajibkan semua pegawai mengikuti CKG. Tapi setelah mengikuti, ia akhirnya lega karena semuanya normal.
“Kita periksa darah lengkap langsung dari laboratorium, mereka kasih lihat kita punya hasil cek. Ternyata waktu saya cek itu tidak ada penyakit seperti HIV, paru-paru, kolesterol, asam urat, tekanan darah tinggi, dan lain-lain. Itu sama sekali tidak ada, normal semua,” katanya kepada Jubi.id pada Kamis, 13 November 2025.
CKG, kata Naomi, sangat penting dan bermanfaat, khususnya bagi orang asli Papua, karena bisa mengetahui kondisi kesehatan, apakah sehat atau tidak.
“Kebiasaan OAP itu banyak takut, mereka tidak mau ikut CKG karena takut hal lain-lain yang ada di tubuhnya. Waktu dengar CKG itu saya awalnya juga takut, tapi karena satu Puskesmas ini semua petugasnya diharuskan ikut CKG, saya terpaksa ikut,” ujarnya.
Naomi berharap orang Papua lebih banyak lagi yang ikut CGK, karena gratis. Ia juga berharap petugas kesehatan memberikan pandangan dan cerita yang baik tentang CGK supaya masyarakat bersedia ikut.

Menurut Naomi ada 12 ribu warga yang berada di wilayah pelayanan Puskesmas Nabire Kota. Karena di Nabire baru diluncurkan, sesuai target nasional, mestinya tahun ini 35 persen penduduk sudah mengikuti CKG.
Afirmasi untuk OAP
Penanggung Jawab Program Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas Nabire Kota, dr Anita Tonapa mengatakan pelaksanaan CKG di wilayah kerjanya dilakukan dengan strategi Integrasi Layanan Primer atau ILP melalui pendekatan aktif.
Caranya adalah dengan mengintegrasikan CKG dengan jadwal Posyandu dan Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular). Selain itu, juga dilakukan dengan sistem ‘jemput bola’.
“Kita keluar gedung, salah satunya pada saat Car Free Day (CFD) setiap Sabtu,” katanya di ruang kerjanya, Selasa, 11 November 2025.
Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire membuat jadwal menggilirkan puskesmas membuka jadwal CKG di lokasi CFD.
CKG, kata Dokter Anita, juga dilakukan ke sekolah-sekolah. Saat ini sudah tiga Sekolah Dasar yang melaksanakan CKG. Ke depan akan dilakukan untuk siswa SMP dan SMA. Kemudian juga akan dilakukan di kantor-kantor.
“Alur pelayanan CGK bisa dengan peserta yang datang atau kami yang jemput, lalu melakukan pendaftaran menggunakan NIK (Nomor Induk Kependudukan) pada akun Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK),” katanya.
Setelah dilakukan pelayanan, jelas dr Anita, ditutup dengan konseling dari hasil pemeriksaan CKG berdasarkan paket-paketnya sesuai kelompok usia.
“Bila didapatkan hasil yang harus dilakukan rujukan, kemungkinan akan dilakukan rujukan ke rumah sakit daerah,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga melakukan sosialisasi melalui lintas sektoral yang ada di wilayah kerjanya melalui rapat sektoral per triwulan.
“Intinya, kita mobilisasi peserta dan khususnya OAP juga sangat kita tekankan untuk memanfaatkan, sebab program CKG ini salah satu program prioritas nasional yang Pak Presiden Prabowo berikan sebagai kado hari ulang tahun untuk seluruh rakyat indonesia,” ujarnya.
Sebenarnya, kata dr Anita, ada pengutamaan atau afirmasi OAP dalam pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis. Hal ini sesuai dengan mandat Otsus Papua di bidang kesehatan.
Bentuk pengutamaan kepada OAP itu dalam hal prioritas pelayanan dan pendekatan budaya oleh petugas saat melakukan edukasi, seperti mengutamakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien OAP. Selain itu juga mempertimbangkan nilai-nilai dan budaya lokal pada saat OAP datang mengambil program CKG.
“Ada beberapa Puskesmas juga melakukan mobilisasi aktif dengan mengalokasikan sumber daya lebih untuk menjangkau OAP yang berada di daerah terpencil, itu ada teman-teman di Puskesmas polosok agar OAP dapat berpartisipasi dalam CKG,” katanya.
Menurut dokter Anita Tonapa tantangan paling banyak terkait pelaksanaan program CKG kepada OAP adalah menyangkut identitas kependudukan. Ada beberapa OAP terkendala dokumen identitas KTP atau Kartu Keluarga untuk pendaftaran CKG.
“Ada beberapa kasus data dalam KTP tidak sesuai sehingga saat didaftarkan tidak bisa terbaca pada sistem, jadi harus melapor ke Dukcapil lagi untuk memperbaiki KTP-nya. Ada beberapa orang juga yang belum tahu informasi CKG,” ujarnya.
Soal bahasa dan budaya, kata dr Anita, juga menjadi kendala tersendiri. Kadang ada hambatan komunikasi antara petugas dengan OAP-nya, serta masih adanya preventif terhadap pengobatan tradisional tertentu.
“Mereka masih menganut pengobatan tradisional daripada pengobatan medis. Lalu pemahaman dan motivasinya kurang, serta rendahnya kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan sebagai preventif pencegahan,” katanya.
Menurut dr Anita, kebanyakan OAP cenderung baru datang berobat ke fasilitas kesehatan jika sudah sakit parah. Padahal sebelum sakit sebenarnya bisa datang melakukan pemeriksaan. Jadi tidak menunggu sakit ringan atau berat dengan ada program CKG gratis.
“Karena daripada periksa di klinik makam biaya, kalau CKG ini dihitung dan ditotalkan semua paket pemeriksaannya bisa Rp1,5 juta,” ujarnya.
Karena itu, dr Anita berharap semua rakyat Indonesia memanfaatkan program CKG untuk mengecek status kesehatannya.
“Kadang kita sehat-sehat saja, tapi di dalam tubuh belum tentu sehat dan kaget ternyata ada sesuatu, ada penyakit yang serius. Untung masih baru, belum ada keluhan yang parah, begitu cepat dideteksi, cepat ditangani dan bisa sembuh lebih awal. Tentu biayanya akan jauh lebih murah dibanding kalau sudah parah baru berobat,” katanya.

Hingga 1 November 2025, tercatat peserta CKG seluruh usia di Puskesmas Nabire Kota sudah 667 orang. Berdasarkan kelompok usia, peserta mencakup bayi, usia sekolah (7- 18 tahun), usia wanita subur, pria dewasa, dan lansia.
Target nasional untuk 2025 adalah 35 persen dari total penduduk. Untuk Puskesmas Nabire Kota yang melayani 12 ribu penduduk, maka 35 persennya adalah 4.200 orang.
“Kalau mengikuti target nasional itu capaian kami baru 5,5 persen sejak peluncuran,” katanya.
Puskesmas Nabire Kota juga sudah menyiapkan beberapa program tindak lanjut individu untuk langkah-langkah setelah seseorang mengikuti program CKG. Misalnya, bagi peserta dengan hasil normal diberikan edukasi penguatan perilaku untuk hidup sehat atau Germas (Gerakan Masyarakat Sehat).
Bagi peserta dengan faktor risiko atau pra penyakit diberikan konseling mendalam dan dimasukkan ke dalam program pembinaan puskesmas, seperti Posbindu PTM atau program gizi penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes.
Sedangkan bagi yang terdiagnosis penyakit, termasuk penyakit berat, akan diberikan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, yaitu RSUD Nabire untuk penanganan spesifik.
Kemudian, data peserta CKG akan dianalisis untuk memetakan masalah kesehatan, utamanya di wilayah kerja. Hasil analisis juga digunakan untuk merumuskan program khusus tahun berikutnya yang lebih tepat sasaran dan berbasis masalah.
“Misalnya kalau mengintensifkan promosi kesehatan dan kegiatan fisik di lokasi tertentu, itu bisa pakai data dari CKG,” katanya.
Karena CKG program gratis, ke depan Puskesmas Nabire Kota berencana melibatkan lintas agama, seperti mengadakan Cek Kesehatan Gratis di gereja.
Belum pasang target karena kesulitan BMHP
Program Cek Kesehatan Gratis di Kabupaten Nabire dimulai dengan tahap pertama pada lima puskesmas di wilayah kota pada Februari 2025. Kelima Puskesmas adalah Puskesmas Karang Mulia, Puskesmas Wonorejo, Puskesmas Nabire Kota, Puskesmas Siriwini, dan Puskesmas Karang Tumaritis.
Kepala Seksi Pelayanan Primar dan Rujukan, Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire Sugiyanti SKM SKeb menyebutkan, begitu program CKG diturunkan oleh Kementerian Kesehatan, pada Februari itu Pemkab Nabire bersama Pemprov Papua Tengah langsung meluncurkan untuk tahap pertama di lima Puskesmas tersebut.
Setelah itu, dilanjutkan dengan memperluas pelayanan di Puskesmas lain, seperti di Distrik Nabire dan Nabire Barat. Lalu di Puskesmas Distrik Teluk Kimi, Distrik Wanggar, dan Distrik Yaro.
“Pada Juli 2025 kami sudah melaksanakan CKG di seluruh Puskesmas yang ada di Kabupaten Nabire,” ujar Sugiyanti yang ditemui Jubi.id di kantornya, Kamis, 13 November 2025.
Ada 31 Puskesmas di Kabupaten Nabire yang teregistrasi di Kementerian Kesehatan. Mulai Juli 2025 itu, kata Sugiyanti, semua Puskesmas tersebut sudah melaksanakan CKG untuk Kabupaten Nabire.
Meski sudah melaksanakan program CKG sejak Februari, Sugiyanti mengatakan Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire belum menentukan target, karena terkendala Bahan Medis Habis Pakai (BMHP).
“Untuk pelaksanaan CKG kan dilakukan wawancara terkait riwayat kesehatan, juga ada pemeriksaan-pemeriksaan. Karena BMHP itu digunakan untuk pemeriksaan kesehatan, kami terkendala di situ,” katanya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire belum bisa menyediakan BMHP, karena kegiatan CKG turun ketika anggaran sudah ditetapkan dari 2024.
“Kami tidak menentukan target karena tidak semua Puskesmas mendapatkan dana kapitasi yang besar. Puskesmas pinggiran itu dana kapitasinya sangat kecil sehingga tidak mungkin kami harus menekan mereka untuk melaksanakan CKG, nanti mereka mau beli BMHP-nya pakai apa,” ujarnya.

Namun untuk tahun depan atau 2026, kata Sugiyanti, pihaknya akan menentukan target karena anggaran untuk BMHP sudah disiapkan.
Meski begitu, tambah Sugiyanti, bagi beberapa Puskesmas, terutama di kota, yang dana kapitasinya besar bisa melakukan target yang lebih tinggi dan memuaskan. Apalagi mereka bisa melakukan CKG kepada siswa di sekolah yang langsung mendongkrak pelayanan CKG.
Selain BMHP, kata Sugiyanti, hambatan lain adalah terbatasnya alat kesehatan dan sumber daya manusia (SDM) di sejumlah Puskesmas untuk memeriksa CKG. Tidak semua Puskesmas memiliki alat kesehatan yang lengkap, salah satunya alat Elektrokardiografi atau EKG untuk merekam aktivitas kelistrikan jantung.
“EKG ini untuk mendeteksi penyakit-penyakit atau kelainan jantung, di Kabupaten Nabire ini hanya beberapa Puskesmas yang memiliki EKG, sehingga Puskesmas lain tidak bisa melakukan deteksi dini terhadap kelainan jantung atau penyakit jantung, karena tidak mempunyai EKG,” ujarnya.
Terkait SDM, juga tidak semua Puskesmas memiliki SDM yang lengkap. Puskesmas paling tidak memiliki dokter, apoteker, bidan, perawat, tenaga analis, tenaga gizi, tenaga Promkes, dan kesehatan lingkungan.
“Yang jadi masalah, banyak Puskesmas di Kabupaten Nabire yang tidak mempunyai tenaga analis pemeriksaan laboratorium, padahal itu perlu. Kendalanya di situ,” katanya.
CKG untuk Semua Orang
Terkait pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis, Sugiyanti menyampaikan pelaksanaannya berlaku untuk semua orang atau masyarakat umum, baik Orang Asli Papua maupun bukan Orang Asli Papua. Baik yang memiliki BPJS Kesehatan maupun tidak.
“Dilakukan secara umum, karena CKG ini sebenarnya merupakan hadiah ulang tahun dari pemerintah kepada setiap warga negara Indonesia,” katanya.
Sebenarnya, kata Sugiyanti, untuk mengajak masyarakat di Nabire mengikuti CKG tidak susah, karena pemeriksaan dilakukan gratis dan antusiasme memasyarakat cukup bagus. Kemudian dari Dinas Kesehatan Nabire juga melakukan dukungan kepada 10 puskesmas yang berada di wilayah pinggiran. Kesepuluh puskesmas ini hampir semuanya melayani masyarakat Papua di kampung-kampung.
“Hasilnya juga luar biasa, masyarakat banyak yang datang untuk memeriksakan diri,” ujarnya.
CKG, kata Sugiyanti, sangat penting, karena selama ini biasanya masyarakat baru datang ke layanan kesehatan setelah mengalami sakit. Dengan adanya CKG bisa diketahui sejak dini masalah-masalah kesehatan yang ada di setiap orang.
“Misalnya selama ini merasa diri baik-baik saja, ternyata setelah melakukan pemeriksaan kesehatan gratis mungkin ditemukan asam urat tinggi atau gula darah tinggi yang selama ini tidak pernah mengalami keluhan, baru ketika sakit diketahui,” katanya.
Karena itu, CKG bisa menjadi ‘warning’ bagi setiap orang untuk mulai belajar hidup sehat, karena sudah ada tanda sebelum menjadi sakit.
“Kita sudah bisa melakukan proteksi atau pencegahan supaya tidak menjadi sakit,” ujarnya.
Ia menocntohkan, kalau dari hasil cek kesehatan gratis ternyata kadar gula naik, untuk mencegah supaya tidak sampai jatuh ke penyakit gula darah, maka sudah harus mulai mengubah pola hidup, terutama makanan.
“Makan kita mulai kurangi gula-gula, tepung, nasi, dan rajin berolahraga, sehingga kita tidak menjadi sakit, tujuannya itu,” ujarnya.
Yang tak kalah penting, kata Sugiyanti, selain melakukan CKG adalah tindak lanjut dari hasil Cek Kesehatan Gratis tersebut. Apabila ditemukan penyakit pada orang yang diperiksa, maka Puskesmas akan langsung menindaklanjuti dengan memberikan pengobatan.
Jika penyakit tersebut tidak bisa ditangani di tingkat Puskesmas maka akan dilakukan rujukan ke rumah sakit.
“Jadi langsung diobati, itu kalau bagi penyakit yang di Puskesmas bisa menanganinya, kalau yang tidak, bisa ditangani dengan dirujuk ke rumah sakit,” katanya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

























Discussion about this post