Papua No.1 News Portal | Jubi

PGRI Jayawijaya kecewa kantor Gubernur Provinsi Papua Pengunungan di kantor Dinas Pendidikan

Writer: Imma PelleEditor: Dewi Wulandari
PGRI Jayawijaya
Yeri Himan, Ketua PGRI Jayawijaya, saat memberikan keterangan kepada awak media di halaman kantor Dinas Pendidikan Jayawijaya di Wamena, Kamis (8/9/2022). – Jubi/Imma Pelle

Wamena, Jubi – Yeri Himan, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI Jayawijaya, menyatakan kecewa dan menyesal terkait penempatan kantor Gubernur Provinsi Papua Pengunungan di kantor Dinas Pendidikan Jayawaijaya di Wamena. Hal itu menurutnya tidak wajar.

“Kami dari PGRI Jayawijaya berpandangan bahwa kami ada di Wamena, kami ada di kultur budaya yang ada di Wamena, berarti perlu memandang kantor Dinas Pendidikan itu secara kultural dan budaya Wamena, sebab kantor Dinas Pendidikan itu ibarat honai yang setiap saat dia harus menghasilkan putra-putri terbaik agar anak bangsa ini menjadi abdi negara yang terbaik,” ujarnya di Wamena, Kamis (8/9/2022).

Namun kenyataannya, lanjutnya, yang terjadi adalah penempatan kantor Gubernur Provinsi Papua Pegunungan ini mungkin karena posisi mereka tidak memahami dan melihat kultur tersebut.

“Itu yang bikin kami kesal. Kekesalan kami ini dilatarbelakangi oleh banyak faktor, salah satunya kami menunggu honai ini wajahnya seperti apa. Artinya, semua guru, stakeholder, dan setiap orang yang menginginkan pendidikan itu baik dan yang menginginkan wajah honai ini baik, sehinga kerinduan itu hari ini kami baru mau merasakan, baru mau menikmati, baru dibuat, baru dibangun, dan baru diresmikan, tetapi sebelum menikmati itu semua kenyataannya yang terjadi seperti ini,” ungkapnya.

Kekesalan yang kedua, lanjutnya, adalah pemerintah daerah melakukan perubahan seperti ini tanpa ada koordinasi kepada pemakai gedung Dinas Pendidikan. Pemakai gedung adalah pegawai dinas sebagai tenaga kependidikan, guru sebagai tenaga pendidik, orang tua siswa, dan tokoh intelektual sebagai pendukung pendidikan.

Semua ini adalah lapisan-lapisan yang mempunyai kepentingan dengan pendidikan, makanya pemerintah seharusnya melakukan pendekatan dan koordinasi sehingga apa yang diharapkan dapat berjalan dengan mulus. Tetapi pemerintah tidak melakukan itu semua maka kesan yang terjadi saat ini adalah semua guru hening dan perasaannya sedang menangis.

“Sehinga saya sebagai Ketua PGRI Jayawaijya yang menjadi ujung harapan dari pada guru untuk memperjuangkan harapan guru. Saya menyesal dengan melihat kondisi guru seperti itu, perlindungan guru harus kemana yang seharusnya pemerintah yang menjadi pelindung tetapi pemerintah sendiri yang melakukan seperti itu maka guru harus minta perlindungan ke mana, sedangkan kalau dilihat sebenarnya ujung tombak republik ini adalah seorang guru,” ujarnya.

Ketika dikonfirmasi soal sikap PGRI Jayawijaya terhadap kantor Dinas Pendidikan dijadikan sebagai kantor Gubenur Provinsi Papua Pengunungan, ia mengatakan sementara kantor gubernur yang sedang dibangun maka kantor dinas ini akan dijadikan sebagai sekertariat sementara.

“Tetapi jika tidak, maka saya bisa pastikan akan ada aksi-aksi yang terus dilakukan oleh guru-guru jika pemerintah tetap memaksakan menempati tempat ini. Maka dari itu sebagai catatan guru saat ini hatinya sedang kecewa dan menangis,” pungkas Himan. (*)

Comments Box

Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari News Room Jubi. Mari bergabung di Grup Telegram “News Room Jubi” dengan cara klik link https://t.me/jubipapua , lalu join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
banner 728x250