Wasior, Jubi – Peringatan satu abad tanah peradaban atau masuknya pendidikan modern di Tanah Papua yang akan digelar di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat pada Oktober 2025, disambut antusias masyarakat di sana.
Masyarakat Teluk Wondama mulai dari kampung-kampung, hingga ibu kota kabupaten berkomitmen menyukseskan peringatan itu, sebab bagi mereka ini adalah momentum sakral.
Warga Kampung Menarbu, Distrik Ron, Yosias Menarbu (38 tahun) menyatakan ia bersama warga lain siap menyukseskan momentum peringatan satu adab tanah peradaban.
Katanya, ini ditandai dengan pemasangan sasi atau kadup di kawasan perairan di kampung sejak beberapa tahun lalu, untuk menjaga hasil laut yang nanti akan digunakan sebagai bahan konsumsi saat peringatan satu abad.
“Kita buat sasi atau kadup ini untuk menjaga hasil laut supaya momen seperti [peringatan[ satu abad Wondama sebagai daerah peradaban, kita bisa pakai hasil laut untuk mendukung momen tersebut,” kata Yosias Kamis (22/5/2025).
Kampung Menarbu dikenal dengan hasil laut yang melimpah. Selain jenis biota lola dan teripang, Menarbu juga kaya akan ikan dan lobster kima. Di kampung itu terdapat sekitar 68 kepala keluarga dan dua rukun tetangga atau RT.
“Ini semua kita siapkan untuk momentum jadi pada satu abad. Kita buka satu bulan biar diambil hasilnya, sebagian dijual sebagian lain dibawa untuk konsumsi bagi tamu [saat peringatan satu abad],” ujarnya.
Warga Menarbu sebelumnya mengundang dua kapal nelayan besar untuk mengambil hasil laut berupa teripang dan lola. Hasilnya penjualan Rp78 juta diserahkan ke gereja dalam rangka mendukung momentum Keagamaan.
Tak hanya di Kampung Menarbu, Di Kampung Sambokoro Distrik Windesi warga juga antusias melakukan persiapan dengan memberlakukan sasi.
“Kalau [dipasang] sasi tidak bisa bawa sembarang [hasil laut]. Kalau kitorang (kita) mau makan kitorang ambil di tempat yang tidak di sasi,” kata Novela Bebari, warga Kampung Sombokoro.
Tempat atau kawasan laut yang sudah di sepakati dipasang sasi biasanya didoakan oleh pihak gereja. Gereja memiliki peran penting bagi masyarakat di Teluk Wondama, suara gereja nyaris tak terbantahkan oleh masyarakat.
“Kitorang biasanya turun dan bikin ikan garam, ikan dendeng. Kitong ibu-ibu biasanya juga mencari, saling membantu karena kitorang punya anak-anak ini sekolah,” ujarnya.
Masyarakat Kampung Sambokoro menamakan sasi dengan bahasa Sawora Wate atau memagari dengan batas.
Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama berkomitmen memberdayakan masyarakat kampung dengan cara membeli hasil-hasil laut di setiap kampung
Wakil Bupati Teluk Wondama, Anthonius Marani mengatakan, sasi diberlakukan biasanya pada saat momentum seperti kegiatan gereja.
“Misalnya momen satu abad, warga sudah memulai sasi pada satu tahun sebelumnya sehingga ikan yang ada di laut itu bisa masyarakat mencari dan mencukupi kebutuhan pada momen satu abad nanti,” kata Anthonius Marani.
Menurutnya, ketika pendeta sudah mendoakan pemasangan sasi di tengah laut maka tak ada satupun masyarakat yang mencari ikan di kawasan itu.
“Karena tidak boleh mencari disitu untuk mereka siapkan memasuki momen satu abad,” ucapnya.
Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama menargetkan sekitar 15 hingga 20 tamu yang akan menghadiri momentum peringatan satu abad tanah peradaban pada Oktober mendatang.
Kabupaten Teluk Wondama disebut sebagai tanah peradaban orang Papua, dan pendidikan modern pertama di Tanah Papua seiring kedatangan zending berkebangsaan Jerman, Isak Samuel Kijne, yang menginjakkan kaki pertama kali di Teluk Wondama pada Oktober 1925.
Di atas batu di Bukit Aitumeri pada 25 Oktober 1925, Isak Samuel Kijne menuliskan nubuatan “Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.” Nubuatan inilah yang berusia seratus tahun pada Oktober 2025.
Selain menuliskan nubuatan di batu di atas Bukit Aitumeri, pada 1975 Isak Samuel Kijne kembali bernubuat dengan mengatakan “Barang Siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.” (*)




Discussion about this post