• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Domberai

Dewan Adat Suku Moi Kelim melakukan sumpah adat tolak perusahaan sawit

June 22, 2025
in Domberai, Lingkungan, Tanah Papua
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Gamaliel M. Kaliele - Editor: Angela Flassy
Moi Kelim

Dewan Adat Suku Moi Kelim melakukan sumpah adat menolak kehadiran perusahaan sawit di Klaben, Sabtu (21/6/2025). – Jubi/Gamaliel

0
SHARES
18
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Sorong, Jubi – Masyarakat adat Moi Kelim melakukan sumpah adat untuk mencegah masuknya perusahaan sawit PT Fajar Surya Persada di Lembah Klaso, Distrik Klaso, Kabupaten Sorong, Sabtu (21/6/2025). Hal itu terungkap dalam musyawarah adat saat kunjungan kerja anggota DPR Kabupaten Sorong, Martinus Ulimpa,

“Kami sudah sepakat dalam Sumpah Adat, tanah kami tidak boleh diinjak oleh perusahaan sawit mana pun, termasuk PT Fajar Surya Persada. Ini bukan tanah kosong. Ini tanah warisan, tanah hidup yang kami jaga dari leluhur sampai hari ini,” ujar Ketua Dewan Adat Klaben, Dance Ulimpa di hadapan masyarakat dan anggota DPR Kabupaten Sorong.

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat suara masyarakat adat yang selama ini diabaikan pemerintah pusat khusunya terkait izin investasi.

“Kami tidak akan diam dan biarkan perusahaan masuk seenaknya. Kami tidak butuh sawit, kami butuh alam yang utuh,” ucap David.

Anggota DPR Kabupaten Sorong, Martinus Ulimpa menyatakan kehadirannya dalam musyawarah adat ini sebagai wakil rakyat, dan juga sebagai anak adat yang memiliki hak ulayat di wilayah Klaso.

Ia menyatakan pengambilan keputusan yang menyangkut tanah adat tidak boleh dilakukan secara sepihak oleh pemerintah atau investor. “Kami tidak mau wilayah adat ini jadi korban eksploitasi seperti daerah lain. Perusahaan tidak bisa masuk tanpa persetujuan masyarakat adat. Saya akan suarakan ini di DPR,” katanya.

Musyawarah ini kemudian melahirkan Sumpah Adat Penolakan Sawit, sebuah ikrar sakral dalam tradisi Moi Kelim yang melarang segala bentuk aktivitas perusahaan sawit di wilayah adat mereka. Sumpah ini bersifat mengikat secara sosial, hukum adat, dan spiritual.

BERITATERKAIT

KNPB Maybrat kecam penangkapan warga di Teminabuan

Puluhan ekskavator tiba di Sorong Selatan, warga diimbau waspada

Kain dan cat merah, upaya masyarakat adat Papua jaga paru-paru dunia

Masyarakat Adat keberatan investasi PT STM Agro Energi di Fakfak

Setelah itu Masyarakat adat menanam spanduk petisi penolakan dan menanam bambu yang di ikatan kain untuk melambangkan larang keras kepada siapa saja yang melanggar, baik Perusahaan, pemerintah atau masyarakat adat, maka akan menerima hukum alam sesuai aturan adat,

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Dalam musyawarah adat juga terungkap kehadiran industri sawit selama ini di Kabupaten Sorong, hanya berdampak negatif bagi komunitas adat seperti deforestasi, pencemaran air dan hilangnya dusun pangan tradisional seperti sagu.

“Kami sudah lihat kampung-kampung lain hancur. Kami tidak mau nasib yang sama menimpa Lembah Klaso. Kami ingin hutan tetap berdiri air tetap mengalir, dan tanah ini tetap hidup untuk anak cucu,” kata Martinus Ulimpa.

Ini bukan perusahaan sawit pertama yang masuk ke tanah adat mereka. “Sudah dua kali masyarakat menolak. Yang pertama PT Mege Mustika, izinnya sudah dicabut. Tapi sekarang muncul lagi grup Fajar yang coba masuk,” katanya.

poster tolak sawit
Pemasangan spanduk penolakan perusahaan sawit – Jubi/Gamaliel

Sebagai anggota DPR, ia menyatakan akan mendorong Bupati Sorong agar bersikap tegas dan berpihak kepada aspirasi masyarakat Saya tetap akan memperjuangkan ini ke Bupati. Supaya Bupati bersuara juga ke perusahaan. Bahwa masyarakat tidak terima lagi sawit masuk ke wilayah Lemba Klasow ini,” tegasnya.

Selain menyikapi persoalan investasi, Martinus juga menyampaikan perlunya penguatan regulasi adat, khususnya yang melindungi masyarakat adat Moi dari ancaman penguasaan tanah dan kerusakan hutan.

Kalau kita menyuarakan saja tanpa dasar yang kuat, maka kita lemah. Harus diback-up dengan aturan. Peraturan perlindungan masyarakat adat suku Moi itu sudah ada sejak 2017, tapi sekarang sudah lima tahun lebih. Kami rencana evaluasi,” katanya.

Ia menilai, evaluasi terhadap aturan itu penting agar bisa diperkuat sesuai kondisi dan kebutuhan terkini. Untuk itu ia berjanji akan berkoordinasi dengan tokoh adat, LMA, dan Dewan Adat untuk evaluasi ulang.

“Hutan mana yang bisa dimanfaatkan, hutan mana yang harus dilindungi, itu perlu didiskusikan lagi. Peraturannya sudah tepat, tapi waktunya perlu penyegaran,” jelas Martinus.

Sebagai anggota DPR dan juga bagian dari Badan Legislasi, ia berjanji akan mendorong revisi Perda inisiatif terkait perlindungan tanah adat Moi.

Selain penolakan masuknya Perusahaan sawit, Masyarakat juga melaporkan persoalan infrastruktur dan ekonomi local yang dialami Masyarakat, misalnya jalan dan jembatan yang rusak, dan juga soal penguatan ekonomi kreatif masyarakat. “Ini sebabnya kami turun ke masyarakat tatap muka supaya bisa dengar langsung suara mereka,” ujar Martinus.(*)

Tags: DPRK Kabupaten SorongProvinsi Papua Barat DayaSuku MoiTolak Sawit
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

May 23, 2026
Papua Barat

DPR Papua Barat temukan pelayanan kesehatan belum maksimal di RS provinsi

May 23, 2026

Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

May 22, 2026

Front Rakyat Domberai berdemostrasi menolak PSN dan militerisme

May 21, 2026

Usai nobar ‘Pesta Babi’, Cipayung Plus se-Kabupaten Sorong nyatakan sikap

May 20, 2026

Film Pesta Babi: Edukasi masalah yang dihadapi masyarakat di Tanah Papua

May 19, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
  • Latest
  • Trending
  • Comments
RSUD Biak

Gubernur Fakhiri ingin RSUD Biak jadi pusat rujukan kesehatan wilayah Saireri

May 23, 2026
Papua tengah

Wakil Ketua DPR Papua Tengah desak pemprov tingkatkan kapasitas SDM ASN

May 23, 2026
Pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

May 23, 2026
Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
Pesta Babi

Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Masyarakat Adat

Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

May 22, 2026
Pesta Babi

Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

May 22, 2026
Anak yang ditembak

Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

May 20, 2026
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
ikan asar

Dapur ikan asar yang dikelola tiga generasi

May 21, 2026
RSUD Biak

Gubernur Fakhiri ingin RSUD Biak jadi pusat rujukan kesehatan wilayah Saireri

0
Papua tengah

Wakil Ketua DPR Papua Tengah desak pemprov tingkatkan kapasitas SDM ASN

0
Pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

0
Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

0
Nobar Film Pesta Babi

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

0
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

0
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

0

English Stories

The atmosphere during the joint screening and discussion of the documentary film 'Pig Feast': Colonialism in Our Times, at the Christ the Light of the World Catholic Church Hall, Waena, Heram District, Jayapura City, Papua, Friday (22/05/2026) - Jubi/Yuliana Lantipo
Pacnews

‘Pig Feast’: A Testimony of the Humanitarian Crisis in Papua

May 23, 2026
Deputy Chairperson I of LMA Nasawat, Marten Saflela, hands over the Indigenous community’s demands to Sarteis Yulian Sagrim, Head of the Watershed Management and Social Forestry Division at the Southwest Papua Environment, Forestry, and Land Agency, on Friday (22/5/2026). — Jubi/Gamaliel Kaliele
Pacnews

Indigenous Nasawat Community Rejects Village Forest Scheme

May 23, 2026
TPNPB
Pacnews

West Papua National Liberation Army (TPNPB) in Yahukimo Claims Eight Suspected Security Officers Killed in Operation

May 21, 2026
KNPB
Pacnews

Yahukimo Police Release Arrested KNPB (West Papuan National Committee) Activist

May 21, 2026
Child shot
Pacnews

Child Shot During Military Operation in Puncak Dies After Weeks of Treatment

May 20, 2026

Trending

  • Pesta Babi

    Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara