Opini – jubi.id https://jubi.id Portal Berita No 1 di Tanah Papua Mon, 28 Nov 2022 05:08:21 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.1 https://jubi.id/wp-content/uploads/2022/02/cropped-Pajub512-100x75.jpg Opini – jubi.id https://jubi.id 32 32 Tangisan duka dari “Rimba Ndugama” untuk Filep Karma (2/2) https://jubi.id/?p=416248 Mon, 28 Nov 2022 07:18:58 +0000 https://jubi.id/?p=416248 Filep Karma

Oleh: Thomas Ch. Syufi Filep Karma memang sudah berkali-kali mengalami ketidakadilan. Ia pernah disiksa oleh...

<p>The post Tangisan duka dari “Rimba Ndugama” untuk Filep Karma (2/2) first appeared on jubi.id.</p>

]]>

Oleh: Thomas Ch. Syufi

Filep Karma memang sudah berkali-kali mengalami ketidakadilan. Ia pernah disiksa oleh aparat keamanan dan sipir penjara. Ia ditangkap, diseret, ditendang, dipukul, dilempar dalam truk, diangkut ke kantor polisi, dipenjara, dan kesehatannya sebagai tahanan politik (tapol) diabaikan, bahkan mendapat penyiksaan secara mental.

”Di penjara saya dipukul, ditendang, digusur. Tetapi yang paling menyakiti saya adalah siksaan mental yang saya alami. Seorang petugas mengatakan pada saya, ketika kamu masuk di sini (penjara), kamu kehilangan semua hak kamu, termasuk hak asasi manusia. Hak kamu cuma bernapas dan makan. Dia bahkan bilang hidup kamu ada di tangan saya,” katanya dilansir bbcnewsindonesia.com, 19 November 2015.

Tahun 2009, Asian Human Rights Commission menyatakan para sipir penjara memukuli Filep Karma hingga memecahkan kacamatanya dan menyayat salah satu kelopak matanya, karena alasan terlambat pulang cuti pada 1 Februari 2009.

Namun, Filep Karma tidak pernah membenci, dan membalas semua perlakuan itu. Ia menerima semua tindakan biadab oleh sistem negara dengan senyum, tegar, bersyukur, dan memaafkan pelaku.

Filep teguh pada keyakinan bahwa tidak ada perdamaian tanpa pengampunan dan kesabaran! Sekaligus ia menyadari bahwa itu merupakan risiko dari sebuah pilihan dan perjuangan seorang aktivis yang ingin menegakkan keadilan, perdamaian, demokrasi, kebebasan, dan kemanusiaan bagi tanah airnya, Papua. Maka perjuangan Filep untuk keadilan dan kebebasan Papua akan berada pada dua pilihan, yaitu tanah air atau mati (patria o muerte).

Untuknya, lebih baik menderita ketidakadilan daripada melakukan ketidakadilan, meskipun status para kriminal adalah kaum imigran atau kolonial terhadap dirinya sebagai pemilik sah negeri Papua.

Filep yakin bahwa no sacrifice is wasted (tak ada pengorbanan yang sia-sia). Setiap perjuangan pasti ada risiko. Juga ada hikmahnya. Termasuk perjuangannya untuk kemerdekaan Papua. Karena tiada kebebasan (kemerdekaan) yang dapat digratiskan, tak ada revolusi tanpa air mata, darah, dan kematian. Menurut Filep perjuangannya suatu saat akan berarti bagi generasi mendatang di Papua.

Filep Karma bahkan pernah melakukan perjalanan ke luar Papua dan mengalami kekerasaan secara fisik dan psikis. Pada Selasa malam, 2 Januari 2017 ia hendak mengambil barang bagasi usai mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dari Yogyakarta dengan menggunakan maskapai Lion Air, Filep ditahan oleh lima anggota TNI Angkatan Udara. Mereka memboyong Filep ke salah satu ruangan untuk melakukan interogasi.

Penahanan terhadapnya sekitar pukul 9 malam, WP, terjadi karena pin kecil bergambar Bintang Kejora terpasang di dadanya adalah lambang bendera OPM (Organisasi Papua Merdeka). Namun, Filep menjawab bahwa itu bukan bendera OPM.

”Itu simbol saja. Kalau bendera berdasarkan UUD 1945, terbuat dari kain berukuran 1×2 meter. Ini bukan bendera,” kata Karma dilansir KBR, Rabu (3/1/2017). Salah seorang aparat kemudian membentak Filep dan mengumpatnya dengan kata “monyet”.

Filep Karma pun bebas setelah dibawa dan diperiksa oleh Polres Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dan dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Interogasi terhadapnya itu merupakan hal di luar kewenangannya, itu kewenangan polisi. Bahkan bila dianggap pin bergambar BK sebagai lambang OPM atau separatis, mengapa selama ini dia aman-aman saja?

Filep Karma telah mendedikasikan semua hidupnya untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan di Papua, akhirnya dipenjara 15 tahun. Sahabatnya, Andreas Harsono yang membesuk Karma di Lapas Abepura, Desember 2008, mengatakan, Filep menghabiskan waktunya di penjara Abepura dengan berkebun, membaca ribuan surat, dan kartu pos setiap minggu satu karung yang dikirim oleh orang-orang atau sahabatnya dari berbagai negara di dunia yang peduli terhadap perjuangannya. Seorang gadis di Eropa bahkan membuat mural sebagai kampanye dan dukungan moral untuk pembebasan Filep Karma dari penjara.

Filep Karma
Jasad Filep Karma di pantai Base G, Kota Jayapura, Selasa (1/11/2022). – Jubi/IST

Kematian Filep di Pantai Base-G Jayapura masih menyisakan misteri bagi mayoritas masyarakat Papua, termasuk para aktivis HAM. Akan tetapi, pihak keluarga menyatakan bahwa kematian Filep Karma murni kecelakaan saat menyelam.

Meski demikian, para aktivis HAM dan masyarakat adat Papua mendesak agar ada investigasi yang jujur, transparan, dan independen terhadap kematian Karma, agar publik memperoleh informasi yang akurat dan objektif.

Dominikus Sorabut, Ketua Umum Dewan Adat Papua (DAP) saat ibadah pelepasan Filep Karma di rumahnya di Jl. Macan Tutul Dok V Atas, Kota Jayapura mengaku sudah berkoordinasi dengan berbagai faksi perjuangan Papua dan memutuskan untuk melakukan investigasi yang lebih dalam lagi untuk mengetahui penyebab kematian Filep Karma.

Filep tidak hanya berjuang untuk keadilan dan kemanusian orang Papua secara kolektif. Ia juga melihat HAM secara kontekstual, yaitu mendukung kebebasan pers, menolak kekerasan terhadap jurnalis, meminta akses untuk pers asing ke Papua. Ia juga menolak praktik diskriminasi terhadap perempuan, dan mendukung adanya jaminan yang pasti bagi martabat dan hak asasi anak-anak.

Ia tergolong orang dalam kredo: orang-orang yang setia dan taat menjalankan keyakinan dan kepercayaanya hingga akhir hidupnya. Ia sosok pejuang yang generous (dermawan), fearless (pemberani), rendah hati (humble), dan konsisten di jalannya sendiri. Tanpa ragu dan takut, ia siap menghadapi semua risiko, karena menurutnya tak ada kebebasan tanpa tanpa air mata, darah, dan kematian, seperti kata Ernesto Che Guevara, “Revolusi bukanlah buah apel yang jatuh ketika matang, tetapi Anda harus membuatnya jatuh.”

Itulah keyakinan Karma akan kebebasan dan nilai dari sebuah perjuangan dengan menggunakan cara nonviolent resistance (perlawanan tanpa kekerasan). Ia konsisten pada perjuangan dan ucapan dalam berbagai forum atau aksi protesnya secara damai.

Peneliti Papua dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Adriana Elisabeth, 9 November 2022, mengatakan Filep Karma adalah seorang yang konsisten. Ia berpegang pada satu pemikiran, yang semuanya dinyatakan dengan cara tidak provokatif, ia melihat tidak ada harapan ketika Papua berada dalam Indonesia, itu kalimat-kalimatnya. Esensinya bahwa tidak ada solusi untuk Papua selama ini kecuali Papua berdiri sendiri (merdeka). Mungkin kalau orang dipenjarakan diharapan ada efek jera, ternyata kan beliau tidak, selain beliau bilang meski dipenjara 11 tahun tapi merasa tidak bersalah seperti itu.

Aktivis Papua dan sarjana diplomasi Canberra, Australia, Ronny Kareni, bahkan mengatakan Filep Karma sebagai individu dan father figure (sosok bapak) dalam visi dan aspirasi masyarakat Papua. “Kami semua melihatnya sebagai Bapak Bangsa Papua Barat, juga tokoh pemimpin kaliber dunia,” kata Ronny.

Filep Karma telah pergi untuk selamanya. Namun, semangat dan perjuangannya tetap hidup dan terus membakar semangat generasi muda Papua, untuk meneruskan cita-cita perjuangannya hingga menjadi nyata. Seorang tokoh dapat dikenang apabila ada generasi yang melanjutkan perjuangannya. (*)

Penulis adalah Koordinator Papuan Observatory for Human Rights (POHR)

<p>The post Tangisan duka dari “Rimba Ndugama” untuk Filep Karma (2/2) first appeared on jubi.id.</p>

]]>
Tangisan duka dari “Rimba Ndugama” untuk Filep Karma (½) https://jubi.id/opini/2022/tangisan-duka-dari-rimba-ndugama-untuk-filep-karma-%c2%bd/ Sun, 27 Nov 2022 14:13:40 +0000 https://jubi.id/?p=416243 Filep Karma

Oleh: Thomas Ch Syufi Siang itu, pukul 12.20 waktu Papua, langit Port Numbay (Jayapura) begitu...

<p>The post Tangisan duka dari “Rimba Ndugama” untuk Filep Karma (½) first appeared on jubi.id.</p>

]]>

Oleh: Thomas Ch Syufi

Siang itu, pukul 12.20 waktu Papua, langit Port Numbay (Jayapura) begitu cerah. Tak ada awan yang menggantung di langit. Sepoi berembus dari Samudra Pasifik. Menyisir berbagai sisi rumah dan pepohonan, serta memberikan kesejukan dan kedamaian bagi ribuan pelayat di halaman rumah mendiang Filep Karma.

Di tengah suasana ibadah pelepasan jenazah mantan tahanan politik Papua itu dari keluarga Karma-Noriwari kepada masyarakat Papua, terdengar pekikan dan nyanyian lagu khas masyarakat Pegunungan Tengah Papua. Bergantian dari arah bukit dan jalan raya menuju ke rumah duka.

Sekitar dua menit kemudian suara itu mendekati pintu pagar rumah sederhana milik tokoh pejuang Papua merdeka itu. Terlihat sekitar 15 orang masuk lewat koridor utama pelataran rumah, yang sudah disediakan dua tenda dan dipenuhi pelayat.

Mereka terdiri atas ibu-ibu dan bapak-bapak paruh baya, anak muda, laki-laki dan perempuan. Sebagian berpakain biasa, separuh lagi berpakaian noken bermotif Bintang Kejora. Di barisan terdepan adalah seorang pemuda 20-an tahun, sembari berorasi.

Di tengah ibadah yang dipimpin oleh pendeta dari Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua itu, mereka menyampaikan aspirasi dan tangisannya, dengan membawa krans bunga jambul ukuran sekitar 2×1,5 meter.

Lalu juru bicara itu menyebut bahwa mereka adalah perwakilan dari ribuan pengungsi Nduga di “Hutan Ndugama”. Mereka berbelasungkawa atas kepergian pemimpin mereka, Filep Karma–tokoh kharismatik yang dihormati atas konsistentensinya memperjuangkan Papua merdeka.

”Bapak Filep Karma milik bangsa Papua, Bapak Filep Karma pemimpin kami bangsa Papua, dia bukan milik keluarga Karma, tetapi Bapak Karma milik semua orang Papua. Dia sudah menghabiskan hidupnya untuk memperjuangkan hak-hak dasar orang kecil, tertindas, yang ada di balik gunung, di pengungsian, di lembah, pesisir, dan pulau,” ujar sang orator, disambut tangisan hiateris dari keluarga dan massa pendukung Filep.

Dia mengatakan, Filep Karma mungkin satu-satunya pemersatu bangsa Papua yang dihormati dan dicintai oleh rakyat Papua. Karma melihat permasalahan orang Papua secara komprehensif. Karma adalah simbol pemimpin yang bisa mempersatukan orang Papua, dan peduli terhadap kepentingan orang Papua, status politik Papua, serta nasib ribuan pengungsi di Nduga, yang sudah hampir 4 tahun hidup merana dan mati di hutan belantara, akibat konflik TPNPB/OPM dengan TNI/Polri.

Mereka menangis dan menengadah ke langit, memohon pertolongan Tuhan untuk Filep Karma. Sekaligus memapah mereka yang terhuyung-huyung, mengusap air mata dan melihat penderitaan mereka sebagai pengungsi di Nduga.

Filep Karma dapat membuktikan kesetiaannya pada nilai kemanusiaan dan kebebasan, melalui keaktifannya dalam setiap aksi damai rakyat Papua, terhadap berbagai kebijakan pemerintah Indonesia–yang cenderung menggerus nilai dan martabat kemanusiaan orang Papua. Juga operasi militer yang berujung pada kekerasan dan pengungsian masif di Nduga, Intan Jaya, Kiwirok (Pegunungan Bintang), dan Maybrat (Papua Barat), yang mencapai sekitar 60 ribu sampai 100 ribu orang pada Desember 2018, dan belum kembali rumahnya (Kompas, 3 Maret 2022).

Duka Nasional
Juru Bicara Petisi Rakyat Papua, Jefry Wenda, berdiri di tengah massa sambil memegang foto almarhum Filep Karma dalam demonstrasi spontan di depan Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Jayapura, Selasa (1/11/2022). – Jubi/Theo Kelen

Setelah ibadah pelepasan dan penghormatan terakhir secara organisatoris oleh sejumlah faksi perjuangan kemerdekaan Papua, sekitar pukul 2 siang WP, jenazah Filep diarak ke tempat pemakaman di kawasan Ekspo-Waena, Kota Jayapura, hingga dimakamkan sekitar pukul 9 malam.

Dalam perjalanan, massa terus bertambah. Ribuan orang memenuhi jalan raya. Mulai dari pelajar/mahasiswa, hingga orang dewasa ikut berpartisipasi. Ada yang hanya berjejer di tepi jalan, menghamburkan bunga dan memberikan penghormatan kepada aktivis pro-kemerdekaan Papua, yang ditemukan meninggal dengan berpakaian selam scuba di bibir Pantai Base-G, Jayapura, Papua, 1 November 2022 itu.

Suasana ini mirip tiga puluhan tahun lalu, ketika ribuan orang menyambut pemimpin antipolitik apartheid Afrika Selatan, Nelson Mandela (1918-2013) saat bebas setelah 27 tahun dipenjara (1962-1990) atas vonis Pengadilan Rivonia. Pukul 3 sore, waktu Cape Town pada 11 Februari 1990, empat ribuan orang memadati tepi jalan di Cape Town.

Penyambutan Mandela dipimpin oleh mantan istri Mandela, Winnie Madikizela (1936-2018). Jadi, penghormatan rakyat Afrika Selatan terhadap Nelson Mandela dan penghormatan rakyat Papua kepada Filep Karma menjadi peristiwa penting dalam sejarah yang terus dikenang. Sekaligus sebagai bukti kesabaran mereka dalam memperjuangkan keadilan dan persamaan hak.

Filep Karma Meninggal Dunia
Para pelayat menyampaikan rasa duka dan berdoa di depan peti jenazah Filep Karma, pejuang pergerakan kemerdekaan Papua yang ditemukan meninggal di Pantai Base G, Kota Jayapura, Selasa (1/11/2022). – Jubi/Theo Kelen

Konsistensi

Pujian dan penghormatan terhadap Filep Karma datang dari berbagai kalangan di Papua, Indonesia, bahkan dunia. Filep memang sosok yang rendah hati. Padahal dia adalah salah satu anak dari keluarga terpandang di Papua. Bapaknya, Andreas Karma, pernah menjabat Wakil Bupati Jayapura (1967-1971), Bupati Jayawijaya (1972-1982), dan Bupati Yapen/Serui (1982-1991). Andreas Karma dengan cemerlang menorehkan gagasan dan sikap mentalnya dalam kanvas sejarah kemanusiaan di Papua.

Filep Karma sebagai aktivis pro-kemerdekaan Papua sudah teruji dari sisi iman dan intelektualitas. Dengan iman, ia menyatakan segala sesuatu berlandaskan pada cinta kasih dengan kerendahan hati. Filep juga seorang intelektual andal, karena ia telah mengatakan kebenaran kepada kekuasaan.

Tanpa beban dan kepentingan apa pun, ia berani menentang sistem kolonialisme, diskriminasi, dan rasialisme Indonesia yang terus menghimpit dan mencengkram orang Papua. Sistem yang saban hari tidak memihak dan justru menjerumuskan orang Papua jatuh ke dalam kubangan atau lembah kekerasan yang berulang kali, sejak Papua diambil alih secara de facto oleh Indonesia pada 1 Mei 1963 dan diperkuat dengan penentuan pendapat rakyat (Pepera) 1969 yang penuh rekayasa dan manipulatif.

Dari pengalaman historis sebagai anak keluarga elite yang tumbuh dalam realitas ketidakadilan yang merajalela di Papua, Filep harus angkat bicara. Filep belajar dari ketidakadilan negara Indonesia. Ia mengkampanyekan kemerdekaan Papua. Ia tidak mewarisi jejak ayahnya untuk meniti karier dalam dunia politik praktis atau birokrasi Indonesia. Ia berani menanggalkan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada pemerintah daerah Provinsi Papua yang dirintisnya sejak tahun 1987, untuk terjun dalam gerakan politik kemerdekaan Papua tahun 1998.

Sarjana politik jebolan Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (UNS), yang sempat memperoleh beasiswa dan melanjutkan kuliah di Asian Institute of Management Manila, Filipina ini, ikut turun jalan untuk menuntut reformasi dan mendesak pengunduran diri Presiden Soeharto. Di sela-sela gerakan reformasi, Filep Karma menyerukan kemerdekaan tanah airnya, Papua, sekaligus berpartisipasi dalam pengibaran bendera Bintang Kejora di Pulau Biak, 6 Juli 1998.

Salah satu penyintas tragedi Biak Berdarah ini kemudian ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman 6,5 tahun penjara, tetapi dibebaskan karena tahapan banding pada November 1999, setelah 10 bulan meringkuk dalam penjara. Namun, pada 2004, Filep kembali mendapat vonis hukuman 15 tahun penjara atas tuduhan yang sama, ia mengibarkan bendera Bintang Kejora di Abepura, Jayapura, Papua, 1 Desember 2004, bersama Yusak Pakage yang divonis 10 tahun penjara.

Penahanan terhadap Filep Karma dan Yusak Pakage cukup menyedot perhatian berbagai pihak, terutama Human Rights Watch (HRW) dan Amnesti Internasional (AI). Dua lembaga HAM internasional itu memrotes penangkapan dua aktivis pro-kemerdekaan Papua atas kebebasan mengekspresikan pandangan politik mereka secara damai. Hingga AI menetapkan mereka sebagai tahanan hati nurani atau tahanan keyakinan (prisoners of conscience) dan HRW menyebut mereka tahanan politik dan menuntut pembebasan mereka secepat mungkin.

Atas penahanan sewenang-wenang terhadap Filep yang mengekspresikan pandangan politiknya secara damai pada tahun 2004 tersebut, ibu Filep, Eklefina Noriwari (84), pada 2011 mengajukan petisi kepada Kelompok Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (atau menggugat ke UN) atas penahanan sewenang-wenang agar Filep dibebaskan. Selanjutnya, pada 29 Juli 2008, sebanyak 40 anggota Kongres Amerika Serikat mengirim surat kepada pemerintah Indonesia melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Isinya meminta Karma dan Pakage.

Atas tekanan berbagai pihak, termasuk masyarakat internasional atas penahanan keduanya, Yusak dibebaskan pada 2010 dan Filep Karma dibebaskan tahun 2015–meski ia berkali-kali menyatakan tidak siap keluar dari penjara atau menolak grasi Presiden Jokowi. Bersambung. (*)

Penulis adalah Koordinator Papuan Observatory for Human Rights (POHR)

<p>The post Tangisan duka dari “Rimba Ndugama” untuk Filep Karma (½) first appeared on jubi.id.</p>

]]>
Deklarasi gerakan “Tungku Api” di Mapia https://jubi.id/opini/2022/deklarasi-gerakan-tungku-api-di-mapia/ Thu, 24 Nov 2022 12:47:49 +0000 https://jubi.id/?p=416109 Tungku Api

Oleh: Siorus Degei* Uskup Timika, almarhum Mgr. John Pilip Saklil mendeklarasikan gerakan “Tungku Api” dengan...

<p>The post Deklarasi gerakan “Tungku Api” di Mapia first appeared on jubi.id.</p>

]]>
Tungku Api

Oleh: Siorus Degei*

Uskup Timika, almarhum Mgr. John Pilip Saklil mendeklarasikan gerakan “Tungku Api” dengan slogan “Stop Jual Tanah-Stop Jual Tambang” di Lembah Pihakunu, Diyeugi, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua (kini Provinsi Papua Tengah), 26 Juli 2017 (Jeratpapua.org, 29/6/2017).

Berikut cuplikan isi deklarasinya:

“Tanah adalah MAMA. Ia memelihara dan memberi makan minum. Tanah adalah asal mula dan akhirat (Pengkhotbah, 12:7). Ia menyimpan emas, perak, kemenyan dan minyak bumi. Tanah dan segala isinya bukan barang jual beli. Mari kita bersama jaga tanah agar berguna bagi anak cucu sampai selama-lamanya. Caranya, Satu Kepala Keluarga, Satu Tungku Api (Odha- Owada).”

Deklarasi ini menjadi “tungku api”, dasar, substansi. Tungku api itu seperti halnya arkhe (arche). Arkhe adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani untuk menunjukkan sesuatu yang menjadi pertama dalam suatu rangkaian.

Arkhe juga dapat berarti asal-muasal, prinsip atau sebab yang pertama, asas atau prinsip alam semesta filsafat Yunani kuno pra-Sokratik, yang dikenal dengan lingkaran Miletus, yang berdialektika seputar asas dasar pembentukan alam semesta dan kehidupan.

Seperti halnya filsafat Miletus yang mengenal arkhe. Tungku api menjadi arkhe bagi pemberdayaan kehidupan masyarakat adat dan peradaban bangsa Papua di tengah fenomena kekinian, yang defacto mengancam eksistensi bangsa dan tanah Papua. Bahwa tungku api itu adalah “akar, fondasi, sentra, sentrum, sendi dan substansi” bagi kehidupan OAP dan peradabannya.

Penulis hendak meneropong peristiwa bersejarah di atas dengan memakai kacamata “kode alam”. Penulis akan berusaha membaca Noumena (gagasan di balik fenomena; apa yang ada di belakang peristiwa deklarasi) di balik peristiwa deklarasi tungku api di atas secara maraton dan blak-blakan.

Apa itu “kode alam”?

Pertama-tama kita mesti memahami definisi dan substansi dari “pisau bedah” yang akan kita gunakan untuk meneropong atau meneleskop noumena di balik fenomena deklarasi tungku api di Lembah Pihakunu, Diyeugi, Mapia Tengah di atas. Istilah “kode alam” biasanya kita dengar atau ucapkan. Saat tertentu ketika seseorang atau sekelompok orang hendak melakukan sesuatu atau sedang membicarakan sesuatu, tiba-tiba terjadi sesuatu di alam; misalnya kilat atau guntur. Seketika itu, orang akan sampaikan bahwa itu “kode alam”.

Saat hendak bepergian atau dalam perjalanan, tiba-tiba bertemu dengan ular atau binatang lainnya menghalangi jalan, seketika itu orang akan berkata atau berpikir bahwa itu “kode alam”. Sering terjadi saat pembicaraan sedang serius, tiba-tiba cecak di dinding bersuara “ciii ciii ciii”, orang akan berpikir dan berkata itu kode alam.

Ini juga seringkali digunakan dalam permainan togel. Ketika seseorang atau sekelompok orang hendak memasang angka dan sedang menghitung rumus togel, tiba-tiba mereka bertemu salah satu binatang atau anak kecil balita menunjukkan jari tangan dan atau bersuara mendengar bunyi angka atau salah satu binatang, orang akan berpikir dan berkata itu kode alam.

Seringkali juga bila di malam hari, kupu-kupu masuk dalam rumah, atau binatang lainnya masuk dalam rumah, orang sering berpikir dan berkata itu “kode alam”. Sepintas, orang hanya mengiyakan, bahwa itu benarlah kode alam. Sepertinya orang sudah mengerti yang dimaksudkan dengan “kode alam”. Apakah demikian halnya?

Kode adalah tanda yang menandakan. Kode merupakan pesan yang disampaikan melalui berbagai sarana, yang dapat berupa benda-benda yang berbentuk simbol atau gambar/lukisan, ukiran, foto dll. Kode juga berupa gejala-gejala alam semesta dan Binatang-binatang tertentu.

Lantas, apa yang dimaksudkan dengan istilah kode alam sebagaimana yang telah diuraikan di atas? Kode alam adalah tanda yang menandakan;

Pertama, Menyetujui suatu tindakan atau pembicaraan; Kedua, Peringatan terhadap suatu tindakan yang akan dilakukan; Ketiga, Larangan untuk tidak melakukan sesuatu; Keempat, Perintah untuk melakukan sesuatu; Kelima, Akan menerima/mendapatkan berkat.

Itu “kode alam”, berarti tanda setuju, peringatan, larangan, perintah, atau tanda berkat.

Berkaitan dengan tulisan ini ada salah satu “kode alam” yang akan kita selami bersama, yakni, lokasi deklarasi (Lembah Pihakunu, Mapia Tengah). Sebelum menakar “kode alam” yang tersebut, alangkah baiknya jika kita menyelami terdahulu esensi dan substansi dari deklarasi gerakan “tungku api” dengan slogan “stop jual tanah-stop jual tambang” itu sendiri yang diprakarsai oleh Keuskupan Timika.

Mengenal gerakan “tungku api”

Gerakan tungku api merupakan gerakan untuk menyelamatkan umat dan masyarakat secara keseluruhan, dengan memanfaatkan potensi alam yang ada untuk dikembangkan demi keberlanjutan hidup. Stop jual tanah berarti menyelamatkan hidup kita dan generasi penerus. Karena orang asli Papua (OAP) tak bisa hidup tanpa tanah, walaupun banyak uang.

“Jangan menjual tanah” agar tidak kehilangan harta benda berharga para pendahulu yang akan menyulitkan anak cucu di kemudian hari. Jaga baik dari ancaman jual-beli tanah yang semakin marak dilakukan pemilik tanah dan menjadi kebiasaan baru. Tanah adalah mama yang memberi hidup seperti lazimnya dinasihati leluhur.

Pencetus gerakan ini, Uskup Saklil memprediksikan, bahwa di kala OAP tidak punya tanah, maka OAP akan menjadi miskin dan melarat, bahkan akan punah dari negerinya sendiri.

“Untuk itu, saya minta jangan berkeliaran di kota-kota besar, seperti Nabire, Jayapura maupun Jakarta. Tapi harus mengolah tanah menanam, beternak dan lainnya. Tanah dan segala isinya bukan barang jual beli. Mari kita bersama-sama menjaga tanah agar berguna bagi anak cucu sampai selama-lamanya. Caranya setiap kepala keluarga harus satu tungku api.”

Gerakan tungku api itu mendapatkan respons dan antusiasme positif dari umat Katolik di Keuskupan Timika, bahkan oleh seluruh bangsa Papua sebagai sebuah terobosan baru, di tengah fenomena eksploitasi sumber daya yang membabi-buta dan menggurita di Papua. Tungku api yang dimaksudkan di sini adalah;

Pertama, tanah (orang asli Papua) diharapkan tidak hidup dari hasil jual-beli tanah, tetapi hidup dari hasil olah tanah; maka stop jual tanah, OAP bisa hidup tanpa uang, tapi tidak bisa hidup tanpa tanah; stop jual tanah-stop jual tambang/kekayaan SDA (emas, perak, uranium, thorium, titanium, cobalt, bijih besi, migas, batubara, dan lainnya). Mari kita bersama-sama menjaga tanah agar berguna bagi anak cucu sampai selama-lamanya, caranya setiap kepala keluarga satu tungku api;

Kedua, dusun, hak ulayat, zona ekologi budaya/adat (jaga dusun sagu, dusun keladi, dusun petatas, dusun sayur, ikan di laut, sungai dan danau);

Ketiga, nilai-nilai (hidupkan filosofi kebudayaan, kibarkan bendera kearifan lokal, pegang teguh hukum adat, rawat terus nilai-nilai suci dalam adat istiadat dan kebudayaan). Gerakan tungku api itu juga jika kita cermati secara kritis, analitis dan objektif, maka gerakan tersebut sebenarnya bertalian langsung juga dengan beberapa semangat yang sedang diperjuangkan oleh warga global;

Pertama, gerakan tungku api merupakan produk pastoral kontekstual, untuk menjawab tuntutan dan seruan rekonsiliasi ekologis dari Sri Paus Fransiskus melalui ensikliknya, Laudato Si’ (Pujian Bagimu).

Ensiklik tersebut, tertanggal 24 Mei 2015, dipublikasikan secara resmi pada siang hari (waktu setempat) tanggal 18 Juni 2015 dan disertai dengan konferensi pers. Vatikan merilis dokumen tersebut dalam bahasa Italia, Jerman, Inggris, Spanyol, Prancis, Polandia, Portugis, dan Arab. Isinya mengajak seluruh dunia untuk bersama-sama melakukan perubahan demi menjaga dan memastikan kelestarian bumi kita bersama;

Kedua, gerakan tungku api juga sesuai dengan visi-misi global untuk membentengi bumi sebagai rumah bersama dari ancaman global warming. Kita tahu bersama bahwa perubahan iklim mengacu pada perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang.

Pergeseran ini mungkin bersifat alami, tetapi sejak periode 1800-an, aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama perubahan iklim, terutama dengan pembakaran bahan bakar fosil (seperti batu bara, minyak, dan gas) yang menghasilkan gas yang memerangkap panas. Alhasil, warga bumi terancam global warming.

Salah satu resolusinya adalah green state vision (visi negara hijau) menuju world green (dunia hijau). Gerakan tungku api persis bernadi di sini, yakni menghijaukan bumi Papua yang sudah lama berwarna merah dan hitam akibat praktik-praktik ekosida (pemusnahan ekologi Papua) yang sudah dilakukan melalui eksplorasi, eksploitasi dan ekstraksi tambang, mineral, emas, tembaga, nikel, batubara, uranium, thorium, titanium, cobalt, minyak sawit, gas, illegal logging, illegal fishing dan skandal perampokan SDA Papua lainnya.

Secara sepintas kurang lebih demikian gambaran gerakan “tungku api” dengan slogan “stop jual tanah-stop jual tambang” yang sudah diprakarsai oleh mendiang Mgr. John Philip Saklil. Bersambung. (*)

* Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura-Papua

<p>The post Deklarasi gerakan “Tungku Api” di Mapia first appeared on jubi.id.</p>

]]>
Dekonstruksi dan rekonsiliasi intelektualitas Papua (Refleksi atas aksi USTJ) https://jubi.id/opini/2022/dekonstruksi-dan-rekonsiliasi-intelektualitas-papua-refleksi-atas-aksi-ustj/ Sat, 19 Nov 2022 13:54:26 +0000 https://jubi.id/?p=415781 USTJ

Oleh: Siorus Degei* Publik Indonesia digegerkan dengan aksi heroik pengibaran bendera Bintang Kejora beberapa mahasiswa...

<p>The post Dekonstruksi dan rekonsiliasi intelektualitas Papua (Refleksi atas aksi USTJ) first appeared on jubi.id.</p>

]]>
USTJ

Oleh: Siorus Degei*

Publik Indonesia digegerkan dengan aksi heroik pengibaran bendera Bintang Kejora beberapa mahasiswa di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Kamis (10/11/2022). Mereka ini tampil apa adanya. Tidak terlihat canggung atau takut dan gegabah. Aksinya tampak profesional, dewasa, demokratis dan bijaksana.

Hal ini menandaskan bahwa mereka benar-benar mahasiswa sejati, yang mampu menampilkan kedewasaan intelektual dan kematangan emosional di depan aparat keamanan. Sebenarnya di balik aksi ini banyak nilai kebajikan dan kebijakan hidup, dan ada beberapa pihak sentral yang menjadi target kritikan dari aksi itu.

Kritik atas universitas di Papua

Barangkali bertebaran pertanyaan. Kenapa para mahasiswa itu beraksi di kampus USTJ, tidak di jalanan, dan kenapa para pendemo dan pengibar Bintang Kejora itu mengancam eksistensi dan status quo civitas akademika USTJ lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan “nakal” ini tentu mengusik pikiran publik di Papua, terlebih mereka yang baru menyaksikan aksi nekat seperti ini. Namun jika ditelisik secara kompleks dan komprehensif, ternyata ada nilai besar yang sedang mereka perjuangkan.

Bahwa para mahasiswa ini hendak  menyelamatkan kesucian universitas dari jebakan oligarki, kartel, kapitalisme, kolonialisme dan dehumanisasi.

Pertama, patut kita sadari bahwa semakin ke sini situasi dan kondisi intelektualitas di Papua mengarah pada dehumanisasi. Banyak kampus atau universitas yang lari dari eksistensi, substansi dan esensi filosofisnya.

Kampus itu apa? Kampus itu dari mana? Kampus itu mau kemana? Kampus itu untuk siapa? Kampus itu harus buat apa? Kampus itu bagaimana? Dan pertanyaan eksistensial lainnya rupanya tidak terjawab selama ini.

Kedua, tridharma perguruan tinggi terdiri atas pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Apakah ketiga hal ihwal ini sudah terealisasi di Papua? 1) Bukan rahasia lagi bahwa pola pendidikan, pembinaan, dan pembangunan sumber daya manusia di di Papua hanya menghasilkan pengangguran yang meroket; 2) Kampus proyek. Banyak kampus yang tampil sebagai aktor intelektual. Dalam artian penelitian hanya dilakukan bagi kepentingan, keuntungan, keuangan dan kekuasaan oligarki, kartel, kapitalis, kolonial, liberal, feodal dan imperial. Contoh konkretnya dapat kita lihat dari pergerakan Universitas Cenderawasih. Nama baik kampus tersebut sudah “terporak-porandakan” oleh kepentingan sesaat dan sesat.

Kampus-kampus di Papua juga menjadi aktor intelektual yang mengembangkan misi depopulasi dan dekolonisasi melulu, dengan mengembangkan temuan-temuan ilmiah yang mengancam eksistensi manusia, alam, dan leluhur bangsa Papua; 3) Pengabdian. Sangat riskan dan musykil ditemukan bahwa kampus-kampus di Papua hanya mengabdi pada harta haram, tahta “iblis”, jabatan “abal-abal”, kepentingan hedonis, keuntungan pragmatis dan kekuasaan zalim.

Kritik atas mahasiswa di Papua

Seperti sudah disinggung di atas bahwa kampus-kampus besar di Papua, bahkan di Indonesia, hanya dapat memproduksi manusia-manusia kerdil, apatis, konsumtif, dan instan. Bahwa aksi pengibaran dan demonstrasi para mahasiswa USTJ itu hendak menegur para mahasiswa yang selama ini tidak tampil sebagai guardian of value (penjaga nilai), agent of change (agen perubahan), iron stock (generasi penerus), social control (pengontrol sosial), dan moral force (kekuatan moral) atas potret fenomena realitas sosial, politik, hukum, HAM, ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan, religi dan lainnya.

Mahasiswa dewasa ini hanya tampil dan memanifestasikan fenomena “mahasiswa tik-tok, youtube, facebook, instagram, twitter, patola, PUBG, mobile legend, free fire, dan ludo king”. Singkatnya mahasiswa dewasa ini adalah “mahasiswi handphone”. Padahal, Papua membutuhkan dan mengharapkan “mahasiswa buku, kertas-pena, perpustakaan, diskusi, mahasiswa lapangan/jalanan, tapol, rimba dan laut. Singkatnya Papua butuh mahasiswa yang sesuai dengan realitas kepapuaan.

Kritik terhadap para dosen di Papua

Selain kampus dan mahasiswa yang menjadi “tumbal” kepentingan, keuntungan, keuangan dan kekuasaan para neokolonialis, neokapitalis, neoliberal, neoborjuasi, neofeodalis, neoteknotratid, neoindustrialis dan neoimperialis, rupanya para intelektual di Papua juga menjadi “target empuk” para mafia dan gangster humanis dan ekologis. Banyak dosen yang difasilitasi oleh “iblis-iblis berdasi” sebagai aktor intelektual untuk meloloskan agenda-agenda, proyek-proyek, dan visi-misinya di Papua.

Tidak sedikit dosen atau intelektual yang menjadi “bidak dan budak” NKRI; mulai dari aneksasi 1962, Pepera 1969, otonomi daerah 1969-1998, otonomi khusus jilid 1 dan 2, pemekaran daerah otonomi baru (DOB), dan agenda etnosida, spiritsida, genosida dan ekosida di Papua lainnya.

Beberapa pokok penegasan

Pertama, memang tidak bisa dinafikan pula bahwa selama ini banyak kontribusi dan terobosan konstruktif, produktif dan positif yang dihadirkan oleh kampus, mahasiswa dan dosen di Papua. Namun yang terpampang secara telanjang hanyalah peran-peran yang terbatas, imparsial, dan irasional, dan semu. Banyak kampus, dosen dan mahasiswa yang progresif dan profesional dalam menegakkan kebenaran, keadilan dan kedamaian di Papua. Namun gerakan ini cenderung spontanitas dan karikatif;

Kedua, fenomena bahwa kampus menjadi koalisi, tim sukses, bidak dan budak kepentingan, keuntungan, kekayaan dan kekuasaan para “iblis berjas dan berdasi” itu lumrah di Papua. Karena itu, dibutuhkan evaluasi, refleksi, koreksi, konstruksi, rekonstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi, baik internal, maupun eksternal kampus;

Ketiga, fenomena krisis eksistensial mahasiswa Papua bukan lagi berita baru. Bahwa mahasiswa yang mengalami krisis identitas, substansi, esensi dan eksistensi sebagai guardian of value (penjaga nilai), agent of change (agen perubahan), iron stock (generasi penerus), social control (pengontrol sosial), dan moral force (kekuatan moral) atas potret fenomena realitas sosial, politik, hukum, HAM, ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan, religi dan lainnya bagi manusia, alam, leluhur dan Allah bangsa Papua. Sehingga dibutuhkan evaluasi, refleksi, koreksi, konstruksi, rekonstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi internal maupun eksternal mahasiswa;

Keempat, tidak kalah penting fenomena anomali, irasionalitas kaum cendekiawan/ti di Papua. Pasalnya, tidak sedikit kaum intelektual menjadi kaum “neosofis” di “pasar-pasar” kepentingan, kekayaan, kenikmatan, dan kekuasaan otoriter, diktator dan zolim.

Pada zaman pra-Sokrates para sofis ini adalah para intelektual, sastrawan, seniman, dan filsuf yang suka menjual kekayaan intelektualnya pada istana, raja-raja, dan rezim tertentu (Jubi.co.id, 17/11/2021). Kurang lebih fenomena yang sama pula yang sedang diperjuangkan dan dipertontonkan oleh para dosen di Papua. Sehingga dibutuhkan evaluasi, refleksi, koreksi, konstruksi, rekonstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi internal maupun eksternal.

Dengan demikian, sejatinya aksi demonstrasi dan pengibaran Bintang Kejora oleh para mahasiswa USTJ seperti disinggung di muka merupakan sebuah “ibadah rekonsiliasi intelektual” atau “perayaan metanoia hati nurani dan akal budi civitas akademika” atau “misa keselamatan peradaban sumber daya manusia dan alam” di Papua yang hendak mendekonstruksi dan merekonsiliasi tabiat, habitat, dan habitus kampus, mahasiswa dan para dosen sejak aneksasi 1962, Pepera 1969, OTDA 1969-2000, Otsus Jilid I-II, dan DOB/Pemekaran terjerumus dalam pusaran jurang, jebakan batman, dan “tirani beban moril” atas para mafia dan gangster etnosida, spiritsida, genosida dan ekosida di Papua.

Berkaca dari nasionalisme dan patriotisme para mahasiswa dan pengibar Bintang Fajar di USTJ itu, maka sudah saatnya universitas menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat). Pertama-tama hanya demi pembelaan/penghargaan, dan penegakan terhadap nilai kebenaran, keadilan dan kedamaian bagi Bumi Cenderawasih.

Semoga ada “pertobatan intelektual”, “metanoia intelektualitas” dan “rekonsiliasi akal budi dan hati nurani” kampus, mahasiswa dan dosen demi Papua baru, Papua tanah damai, dan Papua yang dipenuhi kemuliaan Tuhan. (*)

* Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura-Papua

<p>The post Dekonstruksi dan rekonsiliasi intelektualitas Papua (Refleksi atas aksi USTJ) first appeared on jubi.id.</p>

]]>
Filep Karma, “Nyi Roro Kidul”, KTT G-20 Bali, dan dialog Komnas HAM  https://jubi.id/opini/2022/filep-karma-nyi-roro-kidul-ktt-g-20-bali-dan-dialog-komnas-ham/ Mon, 14 Nov 2022 03:40:24 +0000 https://jubi.id/?p=415140 Filep Karma

Oleh: Siorus Degei Lebih dari tujuh malam pejuang kemanusiaan dan kemerdekaan bangsa Papua, Filep Karma,...

<p>The post Filep Karma, “Nyi Roro Kidul”, KTT G-20 Bali, dan dialog Komnas HAM  first appeared on jubi.id.</p>

]]>

Oleh: Siorus Degei

Lebih dari tujuh malam pejuang kemanusiaan dan kemerdekaan bangsa Papua, Filep Karma, menghadap Sang Khalik. Namun, penulis merasa bahwa kecurigaan terbesar yang masih menggugat nurani bangsa Papua adalah proses pemakamannya yang dilakukan pada malam hari dan terjadi secara mistis.

Dikatakan mistis sebab budaya Papua proto tidak mengenal pemakaman atau bakar mayat di tengah malam. Tidak ada atau belum ada tradisi seperti itu dalam budaya suku-suku di Melanesia, khususnya Papua (Byak). Apalagi untuk pemakaman sosok seperti Mansar Filep Karma.

Dari sini patut diduga kuat bahwa Filep Karma “dieksekusi” oleh negara melalui “penguasa” lautan, Nyi Roro Kidul–seperti dalam mitologi Jawa, demi meloloskan agenda KTT G-20 di Bali dan dialog nasional versi Komnas HAM RI, serta beberapa “kaki tangan” negara di Papua, dalam rangka melunasi 7.000-an triliun utang negara dan mencuci nama baik NKRI di mata dunia.

Terkesan bahwa ada semacam campur tangan “alam gaib” atau kuasa gelap dari “Nyi Roro Kidul” sebagai penguasa laut RI di balik kematian beliau.

Filep Karma, Edy Mofu, dan Arnold C. Ap adalah orang-orang Byak sejati, yang nenek moyangnya adalah para navigator dan pelaut sejati, justru ditelan ombak Pantai Base-G.

Pantai itu merupakan pantai bersejarah, karena pernah ditempati tentara sekutu, April 1944, dalam perang melawan Jepang. Salah satu pos pertahanan dibangun di sana sehingga diberi nama Base-G.

Perlu ditegaskan bahwa pemakaman “orang besar” sekelas Filep Karma di tengah malam, dalam tradisi dan budaya Melanesia Papua adalah sesuatu yang tabu. Dalam konsep pembagian waktu orang Papua proto dikenal bahwa pasca matahari terbenam (malam) adalah waktunya para “roh halus” atau “makhluk gaib”.

Aktivitas/rutinitas manusia, termasuk pemakaman dilakukan sejak matahari terbit sampai sebelum matahari terbenam. Jika matahari terbenam, maka itu sudah menjadi bagian dari aktivitas “setan”. Manusia sangat pemali untuk melakukan apapun pada malam hari, apalagi menguburkan tokoh atau sosok teladan.

Lautan manusia saat pemakaman Filep Karma pada malam hari itu–selain penghargaan orang Papua sebagai tokoh pejuang, seakan-akan seperti “sesajen” bagi “Nyi Roro Kidul”, demi kesuksesan KTT G20 di Bali, dan misi dialog nasional versi Komnas HAM RI. Jika demikian yang terjadi, maka “Nyi Roro Kidul” sedang menari ria pasca kematian dan ritual pemakaman Filep Karma itu.

Laut semakin ganas, nyai semakin kuat, para aktivis HAM Papua diharapkan pantang ke laut sebelum rekonsiliasi. Ada semacam mitos bahwa proklamator RI Soekarno pernah “menikah” dengan Nyi Roro Kidul.

Hal ini terbukti dari beberapa hal; 1) Dalam pidatonya di Istana Merdeka, 17 Juli 1959, Soekarno menyatakan bahwa sesuai tradisi sejak era Mataram Islam seorang raja dapat menjadi orang besar apabila menikah dengan Nyi Roro Kidul; 2) Dalam acara Musyawarah Nasional Maritim, 23 September 1963, nama Nyi Roro Kidul juga kembali disebut. Dalam mitologi orang Indonesia Jawa seorang raja Indonesia itu akan kuat jika ia menikah dengan Nyi Roro Kidul; 3) Soekarno mendirikan Istana Presiden Sukabumi di bibir Pantai Citepus, Jawa Barat, 1960, yang dikenal dengan nama Pesanggrahan Tenjores atau Hotel Ina Samudera.

Tradisi “nikah” dengan Nyi Roro Kidul ini atau “kawin dengan laut” ini sudah ada sejak zaman Panembahan Senopati, Sri Mangkunegara IX, Sunan Pakubuwono XIII. Bahkan berlanjut turun-temurun pada raja-raja keturunan Mataram (Kompas.com, 13/4/2022).

Duka Nasional
Juru Bicara Petisi Rakyat Papua, Jefry Wenda berdiri di tengah massa sambil memegang foto almarhum Filep Karma dalam demonstrasi spontan di depan Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Jayapura, Selasa (1/11/2022). – Jubi/Theo Kelen

Filep Karma: “Kurban” KTT G-20 Bali dan dialog nasional?

Bahwa energi alam pantai Papua (Pantai Base-G) yang menolong Mansar Filep pada 12 Desember 2021 itu kini berhasil ditaklukkan oleh “Nyi Roro Kidul” dan pasukannya sebagai penguasa laut NKRI, yang terselip dalam skenario pembunuhan terstruktur, sistematis, dan profesional demi kesuksesan KTT G20 di Bali, 15-16 November 2022.

Papua akan menjadi salah satu komoditas pasar global empuk yang akan dikomersilkan oleh NKRI kepada negara-negara kapital, feodal, kolonial, imperial, borjuis, dan liberal yang mengikuti KTT G20 sesuai agenda “perburuan harta karun” di West Papua yang termuat dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2024.

Selain itu, dalam tenggang waktu yang sama pula negara hendak meloloskan dialog nasional. Negara sepertinya gentar dengan sosok seperti Filep Karma.

Hemat penulis supaya publik tidak tersesat, maka perlu ada;

Pertama, kunjungan Dewan Tinggi HAM PBB ke Papua sebagai tim investigasi dan advokasi independen asing yang tidak hanya menyelesaikan persoalan-persoalan HAM, tapi juga semua kejahatan kemanusiaan atas tokoh-tokoh Papua yang meninggal secara misterius dan tidak wajar, sebagaimana mendiang Filep Karma.

Kedua, jurnalis asing yang independen, netral, kredibel, dan par excellence mesti masuk ke Papua bersama KT HAM PBB guna menginvestasi, meneliti, mendokumentasikan dan mempublikasikan kronologi kematian Filep Karma dan semua tokoh Papua beserta semua peristiwa pelanggaran HAM secara paripurna.

Ketiga, perlindungan keluarga Filep Karma oleh lembaga kemanusiaan. Perlu juga rekonsiliasi internal keluarga inti Filep Karma.

Keempat, bangsa Papua mesti bersama dan bersatu dalam rencana dan kehendak Tuhan atas Papua. Bangsa Papua mesti bersatu dalam rekonsiliasi massal tiga tungku: adat, agama, dan pergerakan perjuangan, yang diprakarsai oleh Jaringan Doa Rekonsiliasi Untuk Pemulihan Papua (JDRP2) pada pertengahan November 2022, agar bangsa Papua bebas dari litani dan tirani kuasa gelap.

Kuasa kegelapan ini hanya bisa ditaklukkan dengan jalan perjuangan tanpa kekerasan sebagaimana teladan nasionalisme dan patriotisme Mansar Karma: berdoa, berpuasa, dan berjuang secara total, loyal, konsisten, setia, dan dilandasi dengan rasa cinta kasih yang besar.

Kelima, gagalkan KTT G20 di Bali oleh 56 negara atas dasar tumbal para pejuang kemanusiaan, kekayaan alam, dan kekuatan spiritual bangsa Papua.

Kita harus ingat bahwa 2023 adalah penentu mati-hidupnya bangsa Indonesia akibat lilitan utang luar negeri. Indonesia berada di ambang resesi ekonomi, sehingga dibuatlah pengalihan isu besar-besaran di Papua, yakni “pembunuhan” para pejuang sejati Papua dan pengumuman ihwal pemilihan uskup OAP (Orang Asli Papua) pertama secara bersamaan. Itu sebagai upaya gangguan psikologis massa di Papua. Ada rasa duka, tapi juga rasa suka.

Keenam, Filep Karma mengibarkan Bintang Fajar di Byak (1998) dan Jayapura (2004). Maka setelah kepergiannya, mesti ada 1.000 mahasiswa dan pemuda Papua yang siap mengibarkan Bintang Fajar. Sebab, untuk itulah perjuangannya.

Ketujuh, segala duka orang Papua akan dihapus oleh Komnas HAM RI melalui dialog damai Komnas HAM RI menjadi menjadi juru selamat. Percayakah bangsa Papua pada obat mujarab dialog damai versi Komnas HAM RI itu?

“Kalau saya harus mati sebelum Papua merdeka, maka saya akan ketemu Tuhan dan sampaikan bahwa orang Papua masih tertindas.” Memento Mori. (*)

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura-Papua

<p>The post Filep Karma, “Nyi Roro Kidul”, KTT G-20 Bali, dan dialog Komnas HAM  first appeared on jubi.id.</p>

]]>
Sekda Aru, Hak Anak Adat Aru! https://jubi.id/opini/2022/sekda-aru-hak-anak-adat-aru/ Tue, 08 Nov 2022 07:17:31 +0000 https://jubi.id/?p=414636 pemuda Aru

Oleh: Callin Lefuy Tinggal beberapa hari lagi pak Moh. Djumpa, Sekretaris Daerah atau Sekda Kepulauan...

<p>The post Sekda Aru, Hak Anak Adat Aru! first appeared on jubi.id.</p>

]]>
pemuda Aru

Oleh: Callin Lefuy

Tinggal beberapa hari lagi pak Moh. Djumpa, Sekretaris Daerah atau Sekda Kepulauan Aru sudah memasuki masa purnabakti (pensiun). Artinya Bupati Kepulauan Aru sudah harus berpikir tentang siapa yang akan menggantikan posisi Sekda Kepulauan Aru berikutnya. Mengacu pada aturan main yang berlaku, mestinya Panitia Seleksi Sekda jauh-jauh hari sudah dibentuk untuk menyeleksi nama-nama yang akan dikirim ke Gubernur Maluku guna diputuskan satu nama yang akan di-Sk-kan menjadi Sekda definitif. Namun mencermati proses dan perkembangan yang ada, hingga kini Pansel belum dibentuk sementara tersisa beberapa hari lagi pak Moh. Djumpa sudah memasuki masa purna bakti. Plt. Sekda Aru akan segera diisi, untuk mengisi kekosongan yang ada.

Publik Aru menghendaki agar posisi Plt. Sekda Aru haruslah Putra Daerah asli Aru yang punya integritas dan kapasitas. Ditinjau dari tiga perspektif sebagai berikut;

Pertama, Pasal 1 ayat 6 UU Nomor 9 tahun 2015 tentang perubahan atas UU 23 tahun 2014 menegaskan bahwa “Otonomi Daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Artinya Negara memberi ruang yang seluas-luasnya pertama-tama kepada masyarakat adat di satu daerah otonom tertentu untuk mengurus dirinya sendiri melalui pendekatan desentralisasi dan dekonsentrasi sehingga pembangunan di daerah tidak lagi bersifat top down atau mengikuti selera pusat melainkan bottom up atau mengikuti selera daerah termasuk penempatan posisi dan jabatan strategis yang ada di struktur Pemerintahan Daerah yang harus mengutamakan anak daerah.

Kedua, Putra Daerah Aru asli yang punya integritas dan kapasitas dianggap memiliki moralitas dan kecintaan yang tinggi bagi daerahnya sendiri sehingga layak diberi peran strategis di daerahnya sendiri. Anggapan ini sangat logis sebab putra daerah asli, umumnya memiliki integritas dan kapasitas diberi peran maka dia akan melaksanakannya dengan baik demi Negerinya sendiri. Di jajaran birokrasi Arun, ada banyak sekali anak daerah yang punya integritas dan kapasitas yang mumpuni, sehingga layak diberi peran sebagai Sekda Aru.

Ketiga, posisi Sekda Aru haruslah ditempati oleh orang yang mengerti betul tentang tata kelola keuangan daerah. Alasannya, posisi Sekda adalah Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau orang dengan jabatan yang berkuasa penuh atas pengelolaan keuangan daerah. Kita tahu bahwa saat ini manajemen pengelolaan keuangan daerah di birokrasi Aru sedang tidak baik-baik saja. Baru tahun ini manajemen pengelolaan keuangan daerah Aru mendapat predikat WDP tetapi beberapa tahun sebelumnya manajemen pengelolaan keuangan daerah Aru disclaimer. Situasi ini sudah menjadi rahasia umum. Kondisi ini mesti dapat diperbaiki, dan publik Aru berharap posisi itu mestinya ditempati oleh putra daerah asli yang punya integritas dan kapasitas, dan dia dapat memperbaiki kondisi tata kelola keuangan daerah Aru yang bermasalah tersebut.

Di lain sisi, pengangkatan Plt. Sekda Aru mestinya mempertimbangkan kepentingan Negara di Kepulauan Aru. Salah satu kepentingan Negara di Aru adalah perikanan sebab Aru adalah penyumbang devisa negara terbesar dari sektor perikanan dengan produksi perikanan 2,6 juta ton/tahun. Olehnya itu, posisi Sekda ke depan selain dia menjalankan tugas-tugas birokratiknya, dia juga harus mampu menerjemahkan kepentingan Negara itu dalam bentuk praktis kebijakan bersama Bupati dan Wakil Bupati Aru dan selanjutnya dielaborasi secara teknis oleh SKPD terkait.

Dari sejumlah sudut pandang tersebut, sangat wajar apabila dipertimbangkan oleh Bupati Kepulauan Aru, terutama perspektif ketiga yaitu tentang tata kelola keuangan daerah. Menurut saya Bupati Aru di penghujung periode keduanya mestinya meninggalkan legacy yang besar kepada masyarakat Aru.

Mengangkat putra daerah asli Aru sebagai Plt. Sekda Aru adalah legacy yang akan ditinggalkan oleh Bupati Aru sehingga layaknya gajah mati meninggalkan gading dan harimau mati meninggalkan belang, beliau mengakhiri masa jabatan beliau sebagai Bupati Aru dengan legacy yang sangat positif bagi masyarakat Aru yaitu menjadikan putra daerah asli Aru sebagai Sekda Aru yang prosesnya dimulai dengan pengangkatan Pelaksana Tugas Sekda Aru.(*)

 

(*) Callin Lefuy, Tokoh Pemuda Aru

<p>The post Sekda Aru, Hak Anak Adat Aru! first appeared on jubi.id.</p>

]]>
Dialog versi Komnas HAM: Mustahil pelaku mengadili pelaku https://jubi.id/opini/2022/dialog-versi-komnas-ham-mustahil-pelaku-mengadili-pelaku/ Tue, 08 Nov 2022 04:47:54 +0000 https://jubi.id/?p=414644 Komnas HAM RI

Oleh: Siorus Degei Ikhtiar pemerintah pusat untuk berdialog dengan rakyat Papua dengan cepat direspons oleh...

<p>The post Dialog versi Komnas HAM: Mustahil pelaku mengadili pelaku first appeared on jubi.id.</p>

]]>

Oleh: Siorus Degei

Ikhtiar pemerintah pusat untuk berdialog dengan rakyat Papua dengan cepat direspons oleh tokoh-tokoh di Papua. Pasalnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM RI siap memfasilitasi dialog antara pemerintah pusat dengan orang Papua, khususnya Organisasi Papua Merdeka atau OPM (CNNIndonesia.com, 9/3/2022).

“Meskipun ini lembaga negara, istilahnya Indonesia, mereka masih sangat menghormati. Tim kita di sana sering bertemu dan saling kontak. Dan mereka bersedia, kalau difasilitasi Komnas HAM, mereka katakan bersedia,” kata Ketua Komnas HAM RI, Ahmad Taufan Damanik.

Lantas bagaimana respons orang asli Papua (OAP), terutama petinggi OPM dan tokoh-tokoh kunci Papua lainnya?

Pertama, Ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda menegaskan, Komnas HAM RI tak punya kapasitas untuk menyelenggarakan atau menjadi mediator dialog Jakarta-Papua. Komnas HAM, menurut Wenda adalah bagian dari negara Indonesia (Jubi.co.id, Maret 2022);

Kedua, OPM dengan tegas menolak dialog usungan pemerintah melalui Komnas HAM, yang seakan-akan hendak menasionalisasi konflik Papua. Organisasi Papua Merdeka (OPM) hanya mau dialog berstandar internasional (Honaigubahan.com, 10/3/2022).

“Dialog dalam koridor NKRI akan terus mengorbankan kami rakyat Papua, kami OPM TPNPB meminta perundingan internasional melibatkan kerangka hukum internasional secara adil dan demokratis karena masalah Papua adalah masalah internasional,” kata Ketua OPM, Jefri Bomanak.

Ketiga, Koordinator Jaringan Doa Untuk Pemulihan Papua (JDRP2), Selpius Bobii juga menolak dialog imparsial yang mau dimediasi oleh Komnas HAM.

“Apa target Jakarta? Rupanya Jakarta punya kepentingan untuk membendung arus sorotan dari negara negara dan pemerhati HAM di dunia atas pelanggaran HAM atas nama NKRI di Tanah Papua yang tak kunjung berakhir. Tujuan utamanya mempertahankan Papua dalam bingkai NKRI hingga etnis Papua musnah,” kata Bobii dilansir Kabarkedegado.com, 7 Oktober 2022.

Keempat, imam Diosesan Timika, Pastor Rufinus Madai, kepada penulis, 10 Maret 2022, mengharapkan agar pemerintah–Jokowi sebagai kepala negara, serius mengawal wacana dialog ini. Presiden diharapkan mampu bertemu dengan aktor-aktor konflik di Papua yang murni, bukan gadungan–yang memang sudah dipersiapkan oleh negara sendiri.

Apakah Komnas HAM RI berniat baik untuk berdialog guna mencari solusi konflik Papua? Kalau benar berniat baik, maka mereka akan mengikuti mekanisme dialog bermartabat dan damai, dan mendengarkan harapan dan kerinduan orang Papua. Dan mencari pihak-pihak yang tepat untuk berdialog. Dengan demikian, tujuan yang akan tercapai dari dialog itu adalah menyelesaikan semua akar masalah dan akan ada win-win solution antara Jakarta dan Papua.

Bila Komnas HAM berdialog dengan niat memusnahkan orang Papua, maka berdialoglah dengan pihak-pihak “gadungan” di Papua.

Kelima, Presiden Gereja Baptis Papua, Dr. Socratez Sofyan Yoman, dalam laman facebook mengatakan, dialog yang diusulkan Komnas HAM RI itu dialog tipu-tipu, sehingga rakyat Papua jangan percaya dialog semacam itu.

Jika negara RI mau dialog dengan Papua, maka dialog itu harus difasilitasi oleh pihak ketiga yang netral dengan melibatkan AS, Belanda, Vatikan-Roma, dan PBB sebagai aktor yang menganeksasi bangsa Papua secara sepihak ke dalam NKRI, karena akar masalah Papua adalah status politik bangsa Papua. Bangsa Papua tentu sangat menolak dialog imparsial, yang difasilitasi oleh lembaga negara RI seperti Komnas HAM dan sejenisnya.

Dialog Papua
Pemimpin kemerdekaan Papua Barat Benny Wenda – Jubi/RNZI-Koroi Hawkins

Penegasan atas diskursus dialog

Dari respons beberapa tokoh di atas, khususnya Ketua ULMWP dan OPM, penulis hendak menegaskan beberapa hal.

Pertama, agenda dialog yang sedang didorong oleh pemerintah pusat, khususnya Komnas HAM, nyatanya ditolak oleh bangsa Papua umumnya, dan OPM khususnya, sehingga penulis merasa bahwa upaya Komnas HAM RI itu akan sia-sia;

Kedua, jika pemerintah hendak berdialog, maka pemerintah terlebih dahulu mengizinkan kunjungan Dewan Tinggi HAM PBB ke Papua. Orang Papua hanya mau berdialog secara internasional melalui hukum internasional– yang dimediasi oleh pihak ketiga yang independen dan otonom;

Keempat, Indonesia, PBB, Belanda, Amerika, dan Vatikan adalah aktor-aktor kunci dialog internasional dalam rangka menyelesaikan konflik Papua;

Kelima, proses/tahapan, metode dan mekanisme dialog damai itu bersumber dari pemikiran mendiang Pater Dr. Neles Tebai, Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP). Sebab esensi dan substansi konflik Papua hanya bisa diselesaikan melalui dialog, yang dituangkan Pater Neles Tebai dalam buku “Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua” (2009: SKPKC Jayapura).

Semua pihak–orang Papua dan Jakarta, serta Amerika, Belanda, Vatikan dan PBB, mesti membedah pemikiran Pater Neles dalam buku tersebut secara kompleks dan komprehensif, untuk menciptakan Papua tanah damai. Sebab buku tersebut adalah roadmap menuju Papua tanah damai.

Tanpa pandangan dan panduan buku tersebut (bahkan karya tulis peninggalan Pater Neles Tebai lainnya), maka dialog damai itu nihil, sama seperti kita merebus batu.

Konflik Papua
Mendiang Pater Neles Tebay, mantan Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP). – Jubi/Sesawi.net

Pelaku mengadili pelaku

Pelanggaran HAM di West Papua merupakan akibat dari akumulasi kekerasan NKRI terhadap rakyat Papua yang menuntut hak politik kemerdekaan.

Terbukti selama 61 tahun (1 Desember 1961 – 1 Desember 2021), NKRI tidak mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan status politik Papua. Malahan memaksakan paket politik otonomi khusus dan pemekaran sebagai “win-win solution”.

Upaya dialog nasional yang hendak dimediasi oleh Komnas HAM RI ini terbilang sangat irasional secara hukum positif atau secara akal sehat. Sebab baru kali ini dalam sejarah peradilan dunia: pelaku (negara) yang hendak mengadili dirinya sendiri. Atau ada pelaku yang hendak menghukum dirinya sendiri dengan hukum dan sistem peradilannya sendiri, seraya memanipulasi, mendistorsi, mengkapitalisasi dan mengkriminalisasi eksistensi HAM dari korbannya.

Pelanggaran HAM di West Papua telah menjadi sorotan MSG (Melanesian Spearhead Group), PIF (Pacific Island Forum atau Forum Kepulauan Pasifik), ACP (African, Caribbean, and Pacific) dan dunia internasional, sehingga Dewan HAM PBB harus berkunjung ke West Papua. Akan tetapi, hingga kini Indonesia belum memberikan izin. Kini Komnas HAM RI mendorong dialog Jakarta-Papua versinya, untuk penyelesaian status politik dan pelanggaran HAM di West Papua menurut mekanisme hukum dan HAM NKRI.

Hemat penulis, itu merupakan strategi pertanggungjawaban NKRI di mata dunia. Sebab, Indonesia akan menggunakan dialog versi Komnas HAM untuk beberapa tujuan:

Pertama, menunjukkan kepada Komisioner Dewan HAM PBB bahwa persoalan West Papua sudah diselesaikan melalui mekanisme dialog (versi Komnas HAM);

Kedua, menunjukkan kepada Forum KTT G20 di Bali, 15-16 November 2022, bahwa konflik di West Papua sudah ditangani melalui dialog. Di sinilah rakyat Papua berhak menentukan sikapnya: menerima atau menolak dialog versi Komnas HAM RI.

Karena mustahil pelaku mengadili pelaku.

Kunjungan KT HAM PBB ke West Papua adalah kesempatan yang baik bagi orang Papua. Maka Papua perlu mendesak Jakarta dan kaki tangannya di Papua, untuk menghentikan dialog versi Komnas HAM RI.

Pemerintah juga didesak agar orang Papua tidak terlibat dalam dialog versi Komnas HAM itu, dan Jakarta segera mengizinkan KT HAM PBB ke West Papua, dan segera menggelar referendum di West Papua. (*)

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura-Papua

<p>The post Dialog versi Komnas HAM: Mustahil pelaku mengadili pelaku first appeared on jubi.id.</p>

]]>
Dari Kapan Uskup Kita Hingga Ini Uskup Kita: https://jubi.id/opini/2022/dari-kapan-uskup-kita-hingga-ini-uskup-kita/ Tue, 08 Nov 2022 03:17:56 +0000 https://jubi.id/?p=414623 uskup Jayapura

Athanasius Bame,OSA ‘habemus episcopum novum’ Habemus Papam (we have a Pope) yang berarti kita sudah...

<p>The post Dari Kapan Uskup Kita Hingga Ini Uskup Kita: first appeared on jubi.id.</p>

]]>
uskup Jayapura

Athanasius Bame,OSA

‘habemus episcopum novum’

Habemus Papam (we have a Pope) yang berarti kita sudah memiliki Paus adalah ucapan khas ketika seorang Paus diperkenal untuk pertama kalinya kepada publik setelah rapat konklaf. Lalu ada juga ucapan habemus episcopum (we have a bishop); habemus episcopum novum (we have a new bishop) yang memiliki arti kita sudah memiliki seorang uskup baru. Kata-kata ini menjelaskan peristiwa pengumuman seorang uskup baru di Keuskupan Jayapura yang terjadi pada tanggal 29 Oktober 2022 lalu. ‘Habemus episcopum novum’. Inilah jawaban dan seruan yang sangat tepat bagi kita yang telah berharap selama beberapa tahun terakhir atas pemilihan seorang uskup baru sebelum Mgr. Leo Laba Ladjar,OFM menjalani masa purnawaktu.

Selalu Datang dari dan Menjadi yang Terakhir di Indonesia
Mengapa baru sekarang? Mengapa tidak sebelumnya ada imam asli Papua yang diangkat menjadi uskup? Memang di republik ini, Papua hampir selalu datang dari belakang. Papua banyak menjadi yang terakhir dalam banyak hal. Saya tidak tahu alasannya. Bisa saja karena situasinya memang demikian. Bisa juga karena Papua dikondisikan secara demikian oleh orang-orang tertentu. Papua hampir selalu menjadi yang terakhir. Dari sejarah, Papua sebagai wilayah terakhir yang dimasukan dengan ‘paksa’ ke dalam negara Indonesia. Pembangunan infrastruktur pun ditingkatkan akhir-akhir ini. Pembangunan manusia juga menjadi perhatian serius di tahun-tahun belakangan ini. Hingga menjadi seorang uskup di salah satu wilayah Gereja Katolik Indonesia pun, orang pribumi Papua menjadi orang yang mewakili suatu bangsa besar, bangsa Melanesia di Papua adalah pendatang baru.

Bergembiralah Kita, Mari Kita Bergembira Bersama
Barangkali, bagi kelompok masyarakat tertentu di wilayah lain di Indonesia bahwa mendengar berita pengangkatan uskup baru merupakan sesuatu yang sudah biasa. Tetapi bagi warga Papua dan OAP khususnya, kejadian pada 29 Oktober 2022 adalah sesuatu sangat istimewa dan di luar dari kebiasaan sebelumnya. Ini suatu fakta sejarah dan akan tetap diingat oleh generasi seterusnya. Bahwa hari ini seorang imam pribumi Papua dipilih menjadi uskup. Maka jangan heran bahwa di pelbagai sarana komunikasi begitu banyak reaksi yang berasal dari pelbagai umat baik Katolik maupun non-Katolik, baik Papua maupun non-Papua khususnya mereka sudah menjadi warga Papua. Intinya ialah berisi ucapan syukur dan harapan. Syukur atas doa-doa semua umat Katolik di Papua agar seorang imam asli Papua dapat diangkat sebagai uskup.

Dari Papua Menjadi Uskup Gereja Katolik Keuskupan Jayapura
Pastor Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr [selanjutnya Pastor Yan] dipilih dan diangkat dari antara kita dan untuk kita semua. Pastor atau kemudian Mgr. Yan adalah uskup di sebuah wilayah Gereja Katolik yang bernama Keuskupan Jayapura. Dia adalah pemimpin atau kepala gereja lokal bagi umat Gereja Katolik di keuskupannya. Dia bukan uskup untuk orang Papua tetapi dia adalah uskup dari orang Papua untuk umat Katolik [titik]. Dia adalah seorang gembala, yang akan menjalankan tugas kegembalaan dan pelayanan pastoral di keuskupannya. Dia bukan ‘mesias’ yang dinantikan untuk menjawab semua persoalan tetapi dia adalah pribadi yang memiliki kelebihan dan kekurangan yang mau bekerjasama dengan dan bersama demi menyukseskan misi Gereja. Dia bukan seorang pemimpin politik yang hanya melayani kekuasaan dan memperjuangkan kesejahteraan bersama, aktivis HAM yang fokus memperjuangkan keadilan dan kebenaran bagi semua orang, ekonom dan pebisnis yang sibuk mencari dan mengejar profit dan berusaha menghadirkan kesejahteraan sosial, pimpin polisi dan tentara lokal di wilayah yang membuat suasana agar aman dan terkendali, praktisi pendidikan yang konsentrasi pada pelayanan pendidikan dan berusaha untuk mengkritik suasana pendidikan yang bermasalah, dokter atau mantri yang menaruh perhatian khusus pada pelayanan kesehatan. Namun harus diakui bahwa semua bidang kehidupan tersebut adalah karya pastoral di mana dapat memungkinkan dia untuk memimpin sebagai seorang gembala atau pastor yang terus-menerus peka dan tajam dalam melihat situasi dan kebutuhan dan berusaha agar keselamatan jiwa-jiwa menjadi panglima/hukum tertinggi-salus animarum suprema lex. Salus animarum inilah yang membuat seorang uskup atau klerus dan religius dapat melihat tugas dan pelayanan mereka dengan perspektif yang berbeda.

Sebagai uskup baru, Pastor Yan adalah orang yang ditahbiskan menjadi anggota Dewan Para Uskup sedunia, dan sebagai pengganti para rasul. Dia mempunyai tanggung jawab bagi seluruh Gereja (LG 22-23). Pelayannya kepada semua dengan tentu dia memberi perhatian-perhatian khusus kepada domba yang menderita, tersesat, terlupakan, terpinggirkan  atau mereka yang umat-masyarakat 4L (the lost,the least, the little and the last). Modal dan nilai option for the poor and option of the poor harus ditegakan. Perhatian khusus perlu dihidupkan oleh agar konsep uskup bagi umat/Gereja universal menjadi lebih konkrit dan hidup dalam Gereja partikular. Universalitas tidak menghapus apalagi menghilang partikularitas. Justru universalitas ada karena dibangun atas kerangka dan didukung oleh partikularitas-partikularitas. Meskipun pelayanannya dan tugas kegembalaannya tidak dibatasi oleh definisi atau batasan dan standar penilaian menurut hukum sipil, sosial, budaya, geografis, politik dan kepentingan, dia tetap memberikan perhatian kepada domba-domba mengalami nasib sebagai mereka absent in history.

Dari Papua Menjadi Uskup Gereja Katolik Keuskupan Jayapura; Lambang kesatuan Gereja katolik itu universal tidak dibatasi oleh standar sosial, budaya, politik dan paham tertentu. Itu berarti juga demikian, Pastor Yan sebagai uskup terpilik menjadi Pemimpin Gereja universal di wilayahnya. Dia tetap menjaga kesatuan baik kesatuan institusional dan pengajaran, kesatuan hukum dan moral grejawi, dan kesatuan-kebangkitan spiritual. Uskup tampil untuk menyatukan semua kawanan yang berbeda sekalipun; domba-serigala, musuh-sahabat, lawan-kawan. Selain itu, peristiwa pengangkatan ini memberi arti kesatuan bagi masyarakat asli Papua. Peristiwa baru melahirkan kesatuan dan kembangkitan bangsa Papua khususnya umat Katolik dalam hal sosial dan pilihan hidup bersama, soliditas dan solidaritas. Bila kesatuan Indonesi dimulai sejak sumpah pemuda tanggal 28 Oktober maka kesatuan semangat spiritual, sosial dan kultural bangsa Papua khususnya umat Katolik mesti dimulai sejak 29 Oktober 2022 ini. Inilah hari kesatuan dan persatuan semangat umat Katolik Papua.

Hemat saya, peristiwa ini memperkuat refleksi saya tentang Angka Sembilan. Lagi-lagi makna angka Sembilan. Kali ini tanggal 29 bulan Oktober 2022 sebagai hari bersejarah dan bermakna bagi Gereja Katolik Papua karena seorang uskup asli Papua pertama diumumukan secara resmi oleh paus melalui pendahulunya Mgr. Leo Laba Ladjar,OFM. Uskup terpilih itu adalah Pastor Yan. Ini ceritera baru dari harapan dan doa yang lama.

Menjadi Uskup Adalah Anugerah Allah Lewat Proses Manusiawi

  • Menjadi uskup adalah anugerah Allah

Menjadi uskup bukan merupakan suatu kebetulan atau kehendak pribadi. Menjadi uskup pertama-tama adalah anugerah Allah. Anugerah Allah itu dianyatakan kepada pribadinya, umat Katolik dan bangsa Papua. Tentunya bahwa Pastor Yan menjadi uskup adalah menurut kehendak dan anugerah Allah karena Dialah sebagai pemilik ladang dan pekerjaan. Tentu ada tawar menawar. Tentu ada ketakutan dan keraguan karena keterbatasan manusiawi. Namun, tetap kita yakin bahwa  ini adalah kehendak Tuhan, maka Tuhan yang memanggil, Tuhan memilih, Tuhan yang menetapkan, Tuhan yang mengutus, Tuhan yang samalah yang akan terus memberkati dia Banyak pengalaman para nabi ketika dipanggil Tuhan.

  • Anugerah Allah lewat proses manusiawi yang bebas dan rahasia demi melihat kelayakan
    Selain anugerah, Pastor Yan seorang imam  asli Papua juga dinilai memenuhi kriteria penilaian calon seorang uskup dan kemudian dinyatakan layak menjadi seorang uskup (baca penjelsaan di https://www.mirifica.net/40995/  dan https://www.imankatolik.or.id/hierarki.html).Dia dianggap layak untuk jabatan itu melalui mekanisme pemilihan calon dan pengusulannya oleh Uskup se-provinsi gerejawi dan Duta Vatikan serta pengangkatan oleh Sri Paus. Paus adalah otoritas tertinggi Gereja yang memiliki hak prerogatif mengangkat salah satu dari tiga nama yang diusulkan atau seorang di luar dari nama itu. Paus juga berhak untuk memberhentikan seorang uskup bila terjadi pelanggaran-pelanggaran yang serius. Jelaslah bahwa otoritas duniawi manapun, intervensi politik apapun dan demonstrasi dari lembaga perwakilan apa saja tidak bisa mempengaruhi otoritas dan keputusan Tahta Suci. Proses pemilihan itu sendiri bukanlah proses demokratis suara terbanyak tetapi sebuah proses institusional, penuh rahasia dan bertahap serta melalui konsultasi dengan sejumlah orang yang berhak untuk itu. Dia terpilih secara legitim dan diangkat dengan bebas oleh Paus. Keseluruhan proses seleksi, mulai dari para Uskup se-provinsi gerejawi, Duta Vatikan, dan Paus dijalankan secara rahasia dan bebas tanpa campur tangan pihak lain atau muatan politis tertentu.

Menjadi Uskup Bukan Karena Identitas Sosial, dan Jawaban atas Tuntutan dari Kelompok Tertentu
Pastor Yan telah diangkat oleh Paus Fransiskus menjadi seorang uskup. Dia dinyatakan layak dan pantas menjadi seorang uskup. Maka bukan karena kebetulan Pastor Yan seorang imam asli Papua maka dia mendapat hak istimewa untuk dipilih menjadi uskup tetapi dia adalah seorang imam yang memenuhi kriteria penilaian dan pemilihan seorang calon uskup atau seorang uskup. Hukum sipil dan kebijakan politik, Undang-Undang Otonomi Daerah (OTSUS Papua) sama sekali tidak berlaku di sini. Pikiran dan konsep anak adat, anak asli, imam pribumi harus menjadi pemimpin di daerahnya, menjadi tuan di atas tanah sendiri sama sekali ditinggalkan. Jadi Pastor Yan diangkat sebagai seorang uskup bukan karena dia sebagai imam asli Papua tetapi dia menjadi seorang uskup karena memang dia layak untuk itu menurut penilaian yang legitim.

Tambah lagi bahwa Pastor Yan menjadi seorang uskup bukan hanya untuk menjawab desakan umat dan hanya karena hirarki Gereja ‘takut’ terhadap tuntutan kelompok umat yang mengingingkan seorang uskup OAP. Semua tuntutan dan harapan itu dilihat oleh mereka yang memilih dan menentukan sebagai kerinduan dan kebutuhan umat dan kebutuhan pastoral. Jauh lebih di atas iman, harapan dan kasih dari umat di wilayah Gerejani. Ditegaskan lagi bahwa dia menjadi seorang uskup bukan pertama-tama sebagai jawaban atas tuntutan dalam bentuk apa saja meskipun hal-hal itu berpengaruh tetapi dia terpilih karena doa, harapan dan air mata bapa, mama, kaum muda, anak-anak serta calon generasi selanjutnya. Banyak orang telah berdoa dan mengharapkan agar segera diangkat seorang imam asli Papua. Kejadian tanggal 29 Oktober terwujud karena doa yang benar dapat mengubah segalanya termasuk keputusan dan rencana kita, termasuk pemilihanan dan pengangkatan pastor sebagai seorang uskup.

Menjalankan Tugas Pokok Seorang Uskup Merupakan Keharusan
Setelah diangkat menjadi seorang uskup, tugas apa saja yang harus dilakukan. Pastor Yan adalah pekerja di ladang Tuhan yang dibeban tugas khusus dari Allah dan pemimpin tertinggi Gereja Katolik untuk membangun komunikasi iman yang dapat mempersatukan dan mempertemukan semua umat. Tugas itu dijabar melalui tiga tugas pokok yakni tugas pewartaan (tugas mewartakan dan mengjarkan iman), tugas perayaan (tugas menguduskan dunia lewat doa dan karya kehidupan) dan tugas pelayanan (tugas memimpin dan menggembalakan umat). Kiranya dua sumber iman Katolik ini baik dari Romo Kamilus,Pr dari ‘MirificaNews’ maupun ‘Tim Pengasuh dari Iman’ Katolik membantu kita memahami sejarah, prosedur and konsekuensi yuridis dari pengangatan seorang uskup diosesan menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK, kan. 377-380) dan Lumen Gentium (LG art. 20- 27). Dan dia dianggap layak untuk itu dan dia memiliki kualitias-kualitas yang diperlukan. Dia dinilai sanggup untuk menjalan tugas kegembalaan. Maka kaum imam, religious dan umat diharapkan ikut berkontribusi bagi pembangunan iman umat di keuskupan akan yang dipimpinnya.

Sekarang Uskupmu Sudah Ada, Apa yang Anda dan Saya Berikan!

  • Berikan apa yang wajib berikan kepada uskupmu
    Kita semua umat Katolik di Papua dan secara khusus umat Katolik asli Papua, serta para imam dan kaum religius di Papua berdoa.Anda dan saya berdoa agar Tuhan memberi Anda seorang uskup pribumi Papua. Kita meminta Tuhan membuat sesuatu tanda kepada kita. Anda bertanya kepada Tuhan, kapan ada uskup asli Papua. Sekarang Tuhan sudah menjawab kita. Sekarang uskupmu sudah ada. Apa yang kita buat dan berikan kepada uskupmu. Apa yang Anda dan saya buat kepada Tuhan sebagai ucapan syukur? Apa yang kita harapkan dari uskupmu? Apa diharapkan kita buat untuk dan bersama uskupmu? Uskupmu ada bersamamu dengan segala kekurangan, keterbatasan, dan kelebihannya dan kemampuannya. Berikanlah segala kelebihan dan keberuntunganmu demi mengisi kekurangan dan keterbatasannya. Dukungan doa dan nasihat tetap diperlukan. Dukungan material juga sangat diperlukan. Kita harus memberi apa yang kita memiliki.

Uskupmu sudah ada. Maka saya mau mengatakan jangan hanya bertanya kapan ada uskup asli Papua, tetapi bertanyalah apa yang Anda dan saya berikan kepada uskupmu dan uskupku agar beliau terus menjadi gembala yang baik. Kita diminta untuk menyumbangkan apa yang kita miliki bagi Gerejamu, Gereja dia dan Gereja kita. Pikiran yang baik dan hati murni dari Anda dan saya dapat membantu beliau untuk memimpin kita. Jangan cepat kecewa dan protes karena uskupmu tidak memenuhi harapan kita. Uskup hadir untuk memastikan bahwa misi Gereja Kristus, proyek keselamatan Allah yang konkrit dan yang kelak tercapai lewat pewartaan, pengudusan-perayaan dan pelayanan.

  • Waspada terhadap doa, harapan, simpati, pujian dan dukung seremonial dan emotional-etnisitas
    Patut kita hati-hati terhadap hal-hal yang berbau  seremonial dan emotional. Jangan sibuk hanya pada hal itu. Waspada supaya kita tidak boleh jatuh daripadanya. Apa yang saya maksud dengan doa, harapan, simpati, pujian dan dukung seremonial dan emotional-etnisitas? Itu berarti Anda dan saya berdoa dan berharap sebelum ada uskup asli Papua dan sesaat diumumkan bahkan selama dua-lima tahun perjalanannya saja.  Itu berarti kita hanya merasa bangga, kagum, dan bahagia saat pengumuman dan pentabisan nanti. Itu berarti kita hanya memuji, berterimakash, mendukung dan merayakan pada awal dan perayaan pentabisan uskup saja. Itu berarti kita hanya bersatu dan kuat, berjalan bersama dan bergerak untuk maju saat sebelum, sesaat dan tiga tahu sesudah pentabisan uskup. Selanjutnya setelah enam bulan, satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, Anda dan saya melupakan dan membiarkan uskupmu dan uskup kita berjalan sendiri. Anda dan saya justru lebih banyak menuntut dan mengharapkan begitu banyak hal darinya. Dari memuji kita bisa memaki-maki karena kesalahan kecil. Dari berterimkasih, kita malas tahu dengan uskupmu. Dari mendukung, kita tidak mau ambil pusing dan kita menarik dan menghentikan dukungan. Dari merayakan kita menolak mengadakan perayaan karena hemat kita uskupmu tidak pantas untuk itu. Dari berjalan bersama, kita membiarkan uskupmu berjalan sendiri. Dari kesatuan, kita bisa saja menciptakan perpecahan di dalam tubuh wilayah Gereja yang dikepalainya. Dari menciptakan dialog-komuniasi yang baik, kita bisa saja menghidupkan monolog, membangun isu-isu yang destruktif berhubungan tahta, harta dan wanita. Dari percaya padanya, kita bisa saja berubah menjadi tidak percaya karena menurutmu beliau kaki tangan kekuasaan NKRI. Ketika kita melihat dia berjalan, bertemu atau makan bersama dengan kelompok-kelompok yang kita sendiri tidak menyukai, kita langsung manghakimi. Padahal kita lupa bahwa dia adalah uskup untuk semua.

Mengapa saya mengatakan hal ini? Saya mengamati sejauh ini bahwa bilamana ada pentabisan imam asli Papua begitu banyak umat apalagi umat sesuku, separoki. Ratusan juta bahkan satu Miliar pun hanya dihabiskan untuk acara tiga jam ini. Selanjutnya setelah beberapa minggu, bulan bahkan tahun imamamat nampaknya imam atau kaum religius berjalan sendiri. Atusiasme awal ini seperti hilang sesaat dan hilang jejak. Bisa saja bahwa ada kepentingan lain di balik antusiasme and pengurbanan. Ada motif lain yang tak dilihat (hidden motif). Maka hati-hatilah kita terhadap yang seromonial, emotional dan instan.

Yang seromonial, emotional dan instan ini harus diwaspadai.  Pada saat AWAL: bersatu, ramai, dukung, meriah dan mahal. Di TENGAH; malas, membuat malu, mundur, malas tahu. Di AKHIR; menyesal, menuduh, mencaci, melepaskan, membiarakan, mati sudah. Menarik kalau dikaitkan dengan 3T. T1: TEPUK TANGAN atau TEPUK DADA: Uskup kita sudah ada, saat ini kita bersukaria, bersyukur. T2: ANGKAT TANGAN; Uskup membutuhkan bantuan, uskupmu mengalami kesulitan, uskupmu tidak melayani seturut harapanmu,  kita tidak mendukung, kita mundur. T3: LEPAS TANGAN; Uskup mengalami kejatuhan, uskup melakukan kesalahan, uskupmu tidak memperhatikan kita secara khusus, kita merasa menyesal, kita menuduh, kita melepaskan tangan dan kita mengharapkan supaya beliau segera diganti. Jadi, hati-hatilah kita terhadap yang seromonial, emotional dan instan.

Apa Artinya Diumumkan di gereja yang Sedang Dibangun?

Pertama (AWARANESS), uskup terpilih dan umat sekalian diingatkan bahwa proyek atau tugas kegembalaan tetap ada dan harus berlanjut. Kedua (CONTINUATION), uskup terpilih dan umat sekalian diberitahu  bahwa proses pembangunan gereja dan iman umat merupakan tugas yang harus dilanjutkan oleh uskup baru. Ketiga (RECOQNITON, REHABILATION AND TRANSFORMATION), uskup terpilih dan umat sekalian disadarkan bahwa pembangun baik fisik maupun umat Allah belum lengkap dan penuh, belum beres, masih banyak kekurangan yang harus diselesaikan, masih ada luka yang perlu disembuhkan, masih banyak kesalahan yang harus diperbaiki. Semuanya dapat dilakukan dengan berjalan bersama dan bersama-sama mencari jalan dan sarana yang tepat untuk menyelesaikannya.

Penegasan
Habemus episcopum novum! Tuhan sudah menjawab doa dan harapan bersama di mana umat bertanya kepada Tuhan, kapan ada uskup asli Papua. Sudah diumuman uskup terpilih Keuskupan Manokwari-Sorong. Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr adalah uskupmu, uskupku, dan uskup kita. Lalu, sekarang apa dapat kita dari semua lapisan elemen dalam Gereja Katolik berikan kepada Tuhan dan kepada uskup terpilih. Kitong punya uskup. Mari kitong sama bagandeng tangan dan rame-rame mendukung beliau dalam pelayanan, perayaan dan kegembalaannya.

****

San Agustin Seminary Quezon City, Manila

Hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman 2022 [AB]

<p>The post Dari Kapan Uskup Kita Hingga Ini Uskup Kita: first appeared on jubi.id.</p>

]]>
Mengenang ‘Mansar’ Filep Karma (3/3) https://jubi.id/opini/2022/mengenang-mansar-filep-karma-3-3/ Mon, 07 Nov 2022 06:43:45 +0000 https://jubi.id/?p=414508 Filep Karma

Oleh: Siorus Degei Mansar Filep Karma adalah anak dari mantan Bupati Wamena dan mantan Bupati...

<p>The post Mengenang ‘Mansar’ Filep Karma (3/3) first appeared on jubi.id.</p>

]]>

Oleh: Siorus Degei

Mansar Filep Karma adalah anak dari mantan Bupati Wamena dan mantan Bupati Yapen Waropen, Andarias Karma. Nama yang akrab dipanggil Filep Karma ini adalah pejuang Papua merdeka tanpa kekerasan.

Semenjak Reformasi 1998, Filep Karma memimpin pengibaran bendera di tower PDAM Biak dan sempat ditembak kakinya oleh aparat keamanan. Peristiwa itu dikenal dengan Biak Berdarah.

Seorang ASN dan anak dari mantan pejabat nomor wahid di tingkatan kabupaten ini meninggalkan kemewahan dan kenyamanan, untuk berjuang bersama rakyatnya demi sebuah cita-cita yang luhur yaitu kebebasan.

Memilih jalan damai dan berjuang tanpa kekerasan adalah prinsipnya, menyampaikan aspirasi dengan cara santun adalah pilihannya. Bagi Filep kekerasan hanya melahirkan kekerasan, maka ia berjuang dengan cara damai.

Walau sudah ditembak kakinya, walau divonis penjara 15 tahun, ia tidak menyurutkan semangat perjuangannya untuk membebaskan tanah leluhurnya yang masih terjajah. Ia bernazar, selama perjuangan belum tercapai jenggotnya tidak akan dicukurnya. Jika Papua merdeka, maka ia akan mencukur jenggotnya.

Di depan dadanya selalu melekat bendera bintang kejora. Ia secara terang-terangan menggunakan simbol bendera yang selalu dianggap bertentangan oleh negara Indonesia itu.

Berbagai tawaran jabatan dan fasilitas oleh pemerintah agar ia berbalik dari perjuangan ditolaknya. Itu karena ia tidak mau mengkhianati hati nuraninya, demi cita-cita yang luhur dan mulia.

Filep juga dengan lantang mengatakan bahwa lebih baik berjuang untuk pemekaran negara, sehingga orang Papua bisa jadi presiden dan menteri, dari pada pemekaran provinsi yang hanya menjadi budak Jakarta, dan makan tulang-tulang saja.

Filep Karma selalu konsisten memperjuangkan kemerdekaan Papua dengan cara damai. Ketika Pemerintah Indonesia hendak memberikan grasi ia menolaknya dan tetap menjalani hukumannya hingga tuntas di penjara dan keluar dari penjara disambut meriah oleh rakyat Papua sebagai seorang pahlawan.

Filep menulis sebuah buku yang sangat bagus dan menjadi opus magnum-nya yang par excellence bagi bangsa Papua, yaitu, “Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Papua” (2014).

Buku ini menjelaskan 52 tahun salah penanganan Papua Barat oleh pemerintah Indonesia. Faktanya, hingga hari ini, orang Papua Barat diperlakukan ‘setengah binatang’, bahkan hemat penulis sudah melampaui “binatang buas”.

Hal ini sangat konkret dalam purna karya misi keselamatan bangsa Papua yang diemban oleh Mansar Filep sendiri, di mana layaknya “binatang buas” tubuhnya terdampar mengenaskan di bibir Pantai Base G.

Mengenang Tokoh Pergerakan Kemerdekaan Papua, Filep Karma
Ibadah dan pemasangan lilin mengenang kematian tokoh pergerakan kemerdekan Papua, Filep Karma di Kampung Darfuar, Kabupaten Biak Numfor, Jumat (4/11/2022). – Jubi/Dok. Izah Awom

Menyoal kronologi kematian yang ambigu

Patut diduga kronologi kematiannya terbungkus secara sistematis dan profesional. Bahwa ada upaya pembungkaman fakta kronologi kematiannya di bawah todongan senjata.

Pasca kejadian hingga kini belum satu pun media yang mampu mengungkapkan secara terperinci, detail dan valid atas informasi kematian Filep Karma. Hanya mentok pada kronologi seputar penemuan mayat, lokasi kejadian, alasan kematiannya, yakni tenggelam, dan hal-hal seputar saksi dan keluarga.

Mansar Filep Karma keluar rumah jam berapa? Dengan siapa-siapa saja? Orang-orang atau pihak itu darimana? Enam orang yang beredar di foto persiapan penyelaman itu apakah keluarga kenal? Apakah itu foto yang benar atau tidak? Apakah mereka anggota keluarga atau teman atau kenalan Bapak Filep? Mereka dari mana? Saat itu mereka kemana, buat apa, dan makan apa? Untuk apa? Menyelam dalam rangka apa? Dan informasi-informasi sejenisnya yang paling kurang secara naratif mengisahkan kronologi misteri kematian Filep Karma sebelum ia meninggal hingga akhirnya ia benar-benar meninggalkan Bumi Papua.

Dari sinilah muncul beberapa kecurigaan; ini murni dan urgen pembunuhan berencana dan dieksekusi oleh orang-orang profesional. Dari keterangan keluarga korban yang beredar terkesan bahwa ada upaya penyederhanaan dan penutupan fakta kematian Filep yang sebenarnya.

Ada dua kemungkinan yang melatarbelakangi ini. Pertama, keluarga berada di bawah dua tekanan ekstrem di satu sisi pihak aparat keamanan mengintimidasi dan meneror keluarga, dan di sisi lain emosi massa bangsa Papua yang terus menuntut pengungkapan kebenaran atas kematian Filep Karma.

Kemungkinan kedua adalah bahwa ada oknum “pengkhianat”. Kita tidak bisa menafikan bahwa ada aktor “orang dalam” dalam kematian Filep Karma. Kita juga mesti sadar bahwa semua pejuang besar bangsa Papua, bahkan dunia terbunuh lantaran dikhianati: Yesus dikhianati Yudas Iskariot, Soekarno dikhianati Soeharto, dan lain-lain.

Penulis menyangsikan bahwa ada “musuh dalam selimut” dalam kematian Filep Karma. Bila mengikuti dan merefleksikan keterangan-keterangan dari pihak keluarganya, tampaknya ada upaya penyederhanaan kejadian tersebut.

Apakah benar bapak Filep Karma tenggelam karena kecelakaan? Apakah sebagai orang Byak sejati, yang nenek moyangnya adalah para navigator dan pelaut sejati Mansar Karma kurang cakap menyelam dan berenang di laut/pantai? Apakah Mansar Karma adalah orang gunung yang baru belajar menyelam dan berenang di pantai sehingga mengalami kecelakaan yang mengenaskan dan misterius? Di manakah wajah-wajah oknum dan pihak yang pergi menyelam bersama Mansar Karma?

Penulis tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan substansial seperti di atas ini.

Pasalnya, narasi yang dikemukakan oleh Kapolres Kota Jayapura bahwa rakyat Papua jangan terpancing dan keterangan dari keluarga tidak beda-beda tipis. Sehingga terlihat suatu upaya pembungkaman fakta pembunuhan yang sistematis dan terstruktur. (*)

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura

<p>The post Mengenang ‘Mansar’ Filep Karma (3/3) first appeared on jubi.id.</p>

]]>
Mengenang ‘Mansar’ Filep Karma (⅔) https://jubi.id/opini/2022/mengenang-mansar-filep-karma-%e2%85%94/ Wed, 02 Nov 2022 06:51:18 +0000 https://jubi.id/?p=414147 Filep Karma

Oleh: Siorus Degei Lima orang yang diberikan grasi oleh Presiden Jokowi pada 2015 adalah para...

<p>The post Mengenang ‘Mansar’ Filep Karma (⅔) first appeared on jubi.id.</p>

]]>

Oleh: Siorus Degei

Lima orang yang diberikan grasi oleh Presiden Jokowi pada 2015 adalah para pelaku serangan di gudang senjata di markas Kodim Wamena tahun 2003. Filep Karma menolak tanda tangan proses grasi bersama lima tapol tersebut.

Karma berkata kepada BBC bahwa dirinya tidak mau mengajukan grasi, karena itu berarti dia mengaku bersalah, dan meminta presiden mengampuninya. Filep menginginkan amnesti, karena menurutnya dia tidak bersalah. Pada 19 November 2015, Filep Karma dibebaskan dari penjara Abepura, setelah menjalani 11 tahun penjara dari 15 tahun vonis yang dijatuhkan (BBC, 1/11/2022).

Sebenarnya pengalaman tenggelam di pantai sudah dialami almarhum pada 12 Desember 2021. Kala itu dia dikabarkan hilang di perairan Base-G, dan ditemukan oleh warga di Skouw Yambe, Distrik Muaratami, Kota Jayapura.

Sedianya kejadian tersebut menjadi pengalaman bagi almarhum untuk selalu waspada saat hendak menyelam. Bahwa alam Pantai Base-G yang adalah manifestasi “pertolongan otoritas langit” (Tuhan) sudah menegur Mansar Filep, untuk tidak menyelam lagi.

Ada satu foto yang cukup kontroversial ketika Filep berpose bersama empat orang amber (tiga pria satu wanita). Belum diketahui jenis kelamin si pemotret. Jadi kira-kira mereka ada enam orang. Dalam foto itu terlihat Mansar Filep sedang mempersiapkan peralatan menyelam.

Penulis menaruh besar hipotesis bahwa lima orang yang pergi menyelam bersama Mansar Filep itu adalah utusan dari Badan Intelijen Nasional atau BAIS. Sebab, terlihat sekali ciri khas dan karakteristik mereka dalam foto tersebut. Kita pasti sudah memiliki foto tersebut, dan besar kemungkinan kita semua menyangsikan bahwa kelima orang yang bersama dengan Mansar Filep itu adalah para intelejen terlatih, yang memang ditugaskan untuk “melenyapkan” Mansar Filep di Pantai Base-G.

Filep Karma
Jasad Filep Karma di pantai Base G, Kota Jayapura, Selasa (1/11/2022). – Jubi/IST

Penulis sangat yakin bahwa kematian Filep Karma ini merupakan suatu perencanaan intelijen yang masak. Hal ini diindikasi pasca kejadian. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya Polsek Jayapura Utara dan Kapolresta Jayapura tiba di tempat kejadian, guna mengklarifikasi dan mengevakuasi jazad Mansar Filep.

Di sini tercium sekali bau konspirasi licik yang sudah dipersiapkan matang-matang. Kapolresta Jayapura bisa saja tidak tahu-menahu, tapi kita tunggu saja kenaikan pangkat besar-besaran di dalam tubuh TNI/Polri beberapa waktu ke depan.

Sebagai pejuang kharismatik Papua yang mendasari perjuangannya dengan jalan damai (non violence), Mansar Filep seharusnya bisa membaca dan menafsirkan “teguran alam” tahun lalu. Pada titik inilah penulis melihat bahwa rupanya Mansar Filep Karma melalaikan peringatan “alam, leluhur, dan Tuhan” untuk tidak lagi pergi menyelam sendirian bersama orang-orang misterius.

Kendati pun demikian, kita semua mesti optimistis bahwa konsekuensi logis atas pilihan menjadi pejuang, nasionalis, dan patriot selalu berhadapan dengan kematian. Bahwa kematian bagi para pejuang keadilan, kebenaran, dan kedamaian itu adalah hal wajar dan lumrah, apalagi ketika mereka berada dalam lilitan, litani dan tirani penderitaan, penindasan dan penjajahan. Darah yang mereka tumpahkan dan nyawa yang mereka persembahkan itu adalah penyubur api revolusi, api perjuangan, dan api perlawanan untuk merebut kemenangan, kedaulatan dan kemerdekaan bagi West Papua.

Leoni Tanggahma, Yonah Wenda, Zode Hilapok, Mansar Filep Karma, dan semua pejuang keadilan, kebenaran dan kedamaian di Bumi Cenderawasih yang mendahului kita, adalah tanda bahwa Tuhan selalu hadir bersama bangsa terjajah. Tuhan tidak jauh dan transenden bagi bangsa pribumi Papua yang tersalib oleh neokapitalisme, neofeodalisme, neoimperialisme, neokolonialisme, dan neoliberalisme. Bersambung. (*)

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura, Jayapura

<p>The post Mengenang ‘Mansar’ Filep Karma (⅔) first appeared on jubi.id.</p>

]]>