Asmat, Jubi – Kapal penumpang milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) tetap beroperasi ke Kabupaten Asmat kendati dermaga segmen 2 Pelabuhan Agats ambruk. Hanya saja kapal Pelni tidak sandar di dermaga, tetapi berlabuh di tengah sungai untuk menurunkan penumpang, dan selanjutnya diangkut dengan kapal LCT yang dikerahkan Syahbandar Agats.
Sebelumnya kapal Pelni sempat membatalkan pelayanan rute Asmat akibat dermaga segmen 2 ambruk. Namun atas koordinasi Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Agats, Pemkab Asmat, Dinas Perhubungan, Pelni dan Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, pelayaran rute Agats tetap dibuka.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Agats, Peter Rumbino, kepada Jubi di Agats, Papua Selatan, Jumat (20/2/2026), menjelaskan bahwa dermaga segmen 2 pelabuhan Agats merupakan bangunan lama yang berusia lebih dari dua dekade. Dermaga dengan panjang 50 meter dan lebar 8 meter ini tidak menyatu dengan dermaga segmen 1 dan 3.
“Dermaga segmen 1 dan 3 dibangun tahun 2024, bangunannya masih kuat. Sementara segmen dua, usianya sudah tua. Pada November 2025 lalu kami sudah identifikasi bahwa dermaga itu akan rubuh, karena ada gejala penurunan. Semenjak itu kami batasi kegiatan di areal dermaga itu. Beruntung tidak ada korban jiwa dan kerugian material, karena kami sudah batasi aktivitas di dermaga itu,” kata Peter.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Ia mengatakan insiden ambruknya dermaga segmen 2 terjadi pada Sabtu (14/2/2026) siang, bertepatan dengan masuknya kapal kargo yang mengangkut pasokan sembilan bahan pokok untuk Kabupaten Asmat. Berdasarkan investigasi, dermaga segmen 2 ambruk sebelum kapal kargo menambatkan tali atau bersandar. Faktor bangunan dermaga yang termakan usia dan kuatnya arus di sungai Aswet (faktor alam) diduga memicu insiden tersebut.
“Bagian yang roboh ini sepanjang 20 meter. Pas dermaga itu roboh, kami langsung berkoordinasi dengan Pemkab Asmat, Kementerian Perhubungan dan Pelni agar operasional di pelabuhan Agats tetap berjalan, mengingat pelabuhan ini satu-satunya pintu masuk di Kabupaten Asmat, terutama untuk pasokan kebutuhan bahan pokok buat masyarakat. Jadi mulai sekarang pelayanan pelayaran ke pelabuhan Agats tetap berjalan seperti biasa,” ujarnya.

Peter berujar bahwa Kementerian Perhubungan telah merencanakan pembangunan ulang atau replesmen dermaga segmen 2 dengan panjang 50 meter dan lebar 15 meter. Pekerjaannya dimulai Maret, dan ditargetkan rampung pada Oktober 2026. Selain itu, sesuai dengan master plannya, rencana pengembangan pelabuhan Agats dilakukan hingga 2035 mendatang.
“Dalam rencana induknya, Kementerian Perhubungan melakukan pengembangan pada sisi laut hingga beres, kemudian lanjut ke sisi daratnya. Yang mana juga ada rencana pembangunan lapangan peti kemas pada tahun 2027-2028. Jadi waktu mendapatkan informasi dari kita soal rubuhnya dermaga segmen 2, kementerian langsung memproses administrasi untuk replesmen dermaga segmen 2,” katanya.
Peter menambahkan, untuk sementara kapal Pelni belum bersandar atau menambatkan tali di dermaga. Kapal hanya berlabuh di kolam bandar untuk menurunkan penumpang. Pihak Pelni ingin memastikan dulu bongkahan dermaga yang rubuh tidak berakibat fatal jika kapal bersandar di dermaga tersebut.
“Kami kerahkan LCT untuk mengangkut penumpang dari kapal Pelni. Itu gratis, tidak ada dipungut biaya ke penumpang. Kami harus pastikan dulu kondisi bongkahan dermaga yang rubuh itu. Jangan sampai nanti saat bersandar, bongkahan ini menggesek lunas kapal. Tapi kalau posisinya aman, maka kapal akan bersandar seperti biasa,” ujarnya.
Sebelumnya, Sekretaris Komisi I DPRP Papua Selatan, Arie Suprapto, meminta agar pihak-pihak terkait segera mengambil langkah antisipatif agar pelabuhan Agats tetap beroperasional pasca ambruknya bagian dermaga pelabuhan Agats.
“Saya kebetulan berada di Agats dan melihat langsung kondisi dermaga yang ambruk ini. Kita berharap Syahbandar segera melaporkan hal ini, dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan segera mengambil langkah untuk memperbaiki sekaligus menyelidiki insiden ini,” kata Arie.
Arie menjelaskan bahwa pelabuhan Agats merupakan pintu masuk utama untuk distribusi kebutuhan pokok, material pembangunan, serta jalur transportasi penumpang. Karenanya diharapkan operasional dermaga tersebut tetap berjalan.
“Pintu masuk ke Kabupaten Asmat hanya ada dua, yakni melalui transportasi udara dan pelabuhan. Tidak ada jalan darat yang menghubungkan Asmat dengan daerah lain. Jika pelabuhan terganggu, maka aktivitas ekonomi masyarakat juga akan terdampak,” ujarnya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post